Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
|

Cico adalah raja pertama (Kolano) Ternate di Kepulauan Maluku, Indonesia. Tahun pemerintahannya tercatat 1257–1277. Awalnya sebagai kepala desa Sampalu di tepi pantai, ia diakui sebagai penguasa oleh para pemimpin desa lainnya di Ternate, dan memulai dinasti yang masih ada hingga sekarang. Namun, ada beberapa versi cerita tentang sejarahnya, beberapa di antaranya mengatakan bahwa Mashur-ma-lamo (Jawi: مشهور ملامو),[1] putra imigran Arab Jafar Sadik, adalah raja pertama, dan sultan yang terakhir bernama Iskandar Muhammad Jabir Syah. Selama kerajaan tersebut berdiri terdapat 20 orang raja dan 26 Sultan yang pernah memerintah.[2]
Kisah Valentijn

Ketika Portugis ke Maluku pada abad ke-16, mereka mendengar cerita tentang asal-usul raja-raja Maluku. Ceritanya, Bikusigara (seorang pelaut dari Bacan) menemukan empat telur ular mistis di antara bebatuan di sebuah pulau. Ia membawa mereka pulang, dan setelah beberapa hari lahirlah tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Ketika anak laki-lakinya beranjak dewasa, mereka menjadi raja di Bacan, Kepulauan Papua, dan Buton - Banggai, sedangkan anak perempuannya menikah dengan raja di Loloda. Dari merekalah turun semua raja di Kepulauan Maluku.[3]
Kisah yang lebih rumit ditemukan dalam karya François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indien (1724).[4] Pada pertengahan abad ke-13 sejumlah kelompok migran dari Halmahera menetap di Ternate untuk melarikan diri dari kekuasaan Raja Jailolo. Pemukiman paling awal adalah Tobona di puncak gunung berapi yang dipimpin oleh seorang kepala suku bernama Guna. Saat hendak menyadap pohon aren untuk membuat tuak, ia menemukan lesung dan alu emas yang kemudian ia bawa kembali ke desa.[5]
Benda-benda itu membangkitkan begitu banyak rasa ingin tahu orang-orang sehingga Guna memutuskan untuk memberikannya. Ia kemudian menyerahkan lesung dan alu kepada Momole Matiti dari Desa Foramadiahi, yang berada di tengah gunung. Momole Matiti yang merasa terganggu oleh orang-orang penasaran yang tak diundang memberikan benda-benda itu kepada Cico, pemimpin desa Sampalu di tepi pantai. Cico mampu menangani semua perhatian yang diterimanya, dan statusnya di antara para pemimpin desa pun meningkat. Akhirnya ia diminta menjadi penguasa Ternate dengan gelar Kolano. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1257.[6]
Kisah Valentijn, yang diambil dari "orang paling bijak di antara penduduk asli", memiliki beberapa komponen simbolis-mitos. Lumpang dan alu merupakan benda suci dalam budaya megalitik di Indonesia dan Papua Nugini dan mungkin melambangkan kekayaan yang diperoleh dari produksi cengkeh. Nama Guna berarti "keberuntungan" dalam bahasa Melayu, dan ia muncul sebagai pahlawan budaya yang memiliki kualitas spiritual bawaan yang membuatnya menemukan lesung dan alu yang ampuh. Terakhir, posisi Cico sebagai kepala suku pesisir yang mengambil alih benda-benda emas tersebut menggarisbawahi pentingnya perdagangan rempah-rempah di pesisir, yang membawa keberuntungan bagi Ternate.[6]
Pemerintahan Cico

Tentang pemerintahan Cico sebagai Kolano, Valentijn hanya menceritakan bahwa ia memerintah dengan cara yang bijaksana dan bersahabat. Meskipun ia telah diangkat menjadi raja di pulau itu, ia tidak pernah menggunakan kekuasaannya secara penuh, karena takut membuat orang-orang yang mengangkatnya merasa terasing. Dari kesalahan baca penulis abad ke-17 Rijali, Valentijn mengklaim bahwa ia juga dikenal sebagai Kaicili Cuka, Kaicili yang berarti pangeran. Sebenarnya hal ini terjadi karena kebingungan karena Kaicili Cuka adalah seorang pangeran abad ke-16 yang berperang melawan Portugis. Sebelum meninggal pada tahun 1277, Cico membuat orang Ternate mengakui putranya Poit sebagai penerus sah.[4]
Kronik Ternate abad ke-19 yang ditulis oleh Naïdah menyebutkan bahwa Cico (atau Jiko) adalah cicit dari pendiri kerajaan Ternate, Mashur-ma-lamo. Dalam versi ini ia tinggal sebagai penguasa di Sampalu dan berbagi kekuasaan dengan kakak laki-lakinya Mole-matiti dari Foramadiahi. Dalam catatan Naïdah, objek suci tersebut adalah alat musik emas, bukan lesung dan alu. Terlebih lagi, Cico, bukannya memimpin pemerintahan yang damai, ia malah mengobarkan perang di Gunung Besi yang rajanya melarikan diri dan meninggalkan rakyatnya di Ternate. Putra Cico adalah penguasa terakhir pra-Islam Gapi Baguna .[7]
Ternate di bawah Gapi Baguna
Perkembangan Islam di Kesultanan Ternate mulai berlangsung pada masa pemerintahan Raja Cico atau putranya, Gapi Baguna.[8] Pada masa tersebut, Zainul Abidin berangkat ke Jawa bersama rombongan untuk mempelajari agama Islam. Zainul Abidin, yang memerintah Ternate pada 1486-1500, belajar kepada Prabu Atmaka atau Raja Buwala di Kediri. Setelah kembali ke Ternate, Zainul Abidin dikenal sebagai seorang ulama dengan nama Tuhubahalul.[9]
Setelah Sultan Zainul Abidin wafat, pemerintahan Kesultanan Ternate berturut-turut dilanjutkan oleh Sultan Sirullah, Sultan Hairun, dan Sultan Baabullah. Menurut peneliti Marwati, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa keturunan raja-raja Maluku merupakan keturunan Jafar Sadik dari Arab. Tradisi setempat menyebutkan bahwa Raja Ternate ke-12, Molomatea, yang memerintah pada 1350–1357, memiliki hubungan dengan komunitas Muslim Arab yang datang ke Maluku. Kedatangan mereka antara lain dikaitkan dengan pemberian pengetahuan mengenai pembuatan kapal kepada masyarakat setempat.[9]
Catatan Tome Pires yang disusun pada 1512–1515 menyebutkan bahwa Ternate banyak didatangi kapal dari Gresik yang berada di bawah kepemilikan Pate Yusuf. Pada periode tersebut, penguasa Ternate telah menggunakan gelar sultan, sedangkan penguasa di beberapa kerajaan sekitarnya, termasuk Tidore, masih menggunakan gelar kolano. Tome Pires juga mencatat adanya konflik antara Sultan Ternate dan penguasa Tidore yang disebut sebagai Raja Almansor, yang merupakan mertuanya.[9]
Pada masa kunjungan dan pencatatan Tome Pires, Islam telah dianut oleh sebagian besar masyarakat di sejumlah wilayah kepulauan Maluku. Selain Ternate dan Tidore, wilayah yang disebut dalam catatan tersebut meliputi Bacan, Makian, Hitu, dan Banda.[9]
Tradisi Doru Gam sebagai Ruang Pewarisan Sejarah Kesultanan Ternate
Doru Gam merupakan tradisi mengunjungi dan menyapa bala kusu se kano-kano, yakni masyarakat adat yang berada dalam lingkungan Kesultanan Ternate. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai budaya, sejarah, dan identitas masyarakat Ternate terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam salah satu kesempatan Doru Gam, sultan Hidayatullah Sjah menyampaikan kembali kisah mengenai asal-usul terbentuknya Ternate sebagai sebuah kerajaan yang kemudian berkembang menjadi kesultanan besar di kawasa Maluku.[10]
Referensi
- ↑ Clercq, F. S. A. de (Frederik Sigismund Alexander) (1890). Bijdragen tot de kennis der residentie Ternate. Smithsonian Libraries. Leiden, E.J. Brill.
- ↑ Alam, Syamsir (27 Sep 1985). "TINJAUAN TENTANG PENDIRIAN KEDATON TERNATE". Garuda. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Jacobs, Hubert (1971). A treatise on the Moluccas (c. 1544). Roma: Jesuit Historical Institute. hlm. 81–83.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Valentijn, François (1724). Oud en Nieuw Oost-Indien. Vol. I. Amsterdam: Onder den Linden. hlm. 134–135.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Suaramuslim.net (2018-01-12). "Inilah Potret Sejarah Islam di Maluku | Suara Muslim" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-09-03.
- 1 2 Y. Andaya, Leonard (1993). The world of Maluku. Honolulu: University of Hawai'i Press. hlm. 50–51.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Crab, P. van der (1878-01-01). "Geschiedenis van Ternate, in Ternataanschen en Maleischen Tekst Beschreven door den Ternataan Naidah met Vertaling en Aanteekeningen". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). 26 (1): 381–493. doi:10.1163/22134379-90000593. ISSN 0006-2294.
- ↑ Fandy. "Kesultanan Ternate: Asal-Usul, Struktur, dan Warisan Peninggalan". Diakses tanggal 2026-09-03.
- 1 2 3 4 Suaramuslim.net (2018-01-12). "Inilah Potret Sejarah Islam di Maluku | Suara Muslim" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-09-03.
- ↑ "Cerita Sultan Ternate saat Doru Gam di Afe Taduma". kumparan. Diakses tanggal 2026-09-03.
| Didahului oleh: - |
Sultan Ternate 1257–1277 |
Diteruskan oleh: Jamin Qadrat, Poit |