| Cài/Tsai |
|---|
| Romanisasi |
- Cài, Tsai (Mandarin)
- Chae (Korean)
- Sai (Japanese)
- Choi, Choy, Tsoi (Cantonese) (Malaysian)
- Chua, Chuah (Hokkien) (Teochew)
- Chay, Chai (Hakka)
- Thái, Sái (Vietnamese)
- Chuo (Thai)
- Toy, Toi (Taishanese)
- Tjhai, Tjhoa, Tjhoea, Tjhoi, Tjhua, Tjo, Tjoa, Tjoea, Tjua (Indonesian)
- Chua, Chuah or Tuazon (Philippines)
|
|---|
| Nama Lain |
|---|
| Derivatif | Budianto, Cahya, Cahyo, Ceha, Cohara, Cuaca, Cuandi (Indonesian) |
|---|
Cài (Hanzi:蔡; Pinyin:Cài) adalah sebuah nama marga Tionghoa yang umum, yang berasal dari kerajaan kuno bernama negara Cai.
Sejarah
Konon, marga Cai diceritakan sebagai keturunan dari anak ke-5 Raja Wen dari Zhou, Ji Du. Ji Du dianugerahi sebagai Marquis (hóu) di negara Cai pada sekitar 1046 SM dan ia dikenal sebagai Cai Shu Du (Paman Du dari Cai). Bersama Guan Shu dan Huo Shu, ketiganya dikenal sebagai Tiga Penjaga. Ketika Raja Wu dari Zhou meninggal, Raja Cheng masih terlalu muda untuk memerintah dan Zhou Gong menjabat sebagai wali penguasa. Iri melihat bahwa Zhou Gong telah merebut kekuasaan, Tiga Penjaga itu memberontak bersama dengan Wu Geng. Zhou Gong menumpas pemberontakan tersebut dan Cai Shu diasingkan. Raja Cheng kemudian mendirikan kembali negara Cai dengan menunjuk putra Cai Shu, Cai Wu atau Hu sebagai Adipati Cai yang baru. 600 tahun kemudian di Zaman Negara Berperang, negara Cai diduduki oleh Chu pada 447 SM dan kemudian dikuasai oleh negara Qin yang kemudian mendirikan Dinasti Qin, kekaisaran pertama Tiongkok. Dengan marga kemudian diturunkan ke masyarakat luas, banyak orang yang dulu merupakan rakyat negara Cai mengadopsi nama negara mereka sebagai marga.
Keturunan marga Cai mengalami migrasi besar sebanyak dua kali. Migrasi pertama dicatat pada saat Pemberontakan Huang Chao pada tahun 875 dimana mereka pindah ke Guangdong dan Fujian. Migrasi kedua terjadi pada saat Koxinga memindahkan pejabat militer yang kebetulan bermarga Cai beserta keluarga mereka menuju ke Taiwan pada abad ke-17. Karena ini, marga Cai lebih banyak ditemukan diantara keturunan diaspora Tionghoa (cth: Asia Tenggara) daripada di daerah pelosok Tiongkok lainnya.
Ejaan dalam bahasa lain
- Tsai (Taiwan)
- Chua/Tjoa/Djwa (Singapura dan Indonesia)
- Choi/Choy (Hong Kong)
- Chae (Korea)
- Sai (Jepang)
Derivatif marga
Di Thailand, kebanyakan Tionghoa-Thailand menggunakan marga Thai. Hal ini karena Rama VI mengesahkan undang-undang yang mewajibkan keturunan asing untuk menggunakan marga Thailand guna mengurangi tensi antar etnis dan menganjurkan asimilasi. Hukum Thailand tidak (dan hingga kini tidak) mengizinkan nama keluarga yang identik dengan yang sudah ada,[1] Jadi, warga keturunan Tionghoa yang sebelumnya bermarga Chua memasukkan kata-kata yang terdengar seperti "Chua" dan memiliki makna baik (seperti Chai yang berarti "kemenangan") ke dalam nama keluarga yang jauh lebih panjang.
Tokoh bermarga Cai
Lihat pula
Catatan
- ↑ Kriengsak Niratpattanasai. "Why many Thais have a long surname."[pranala dihapus] Thailand Tales column in the APMF Asian Business Strategy Ezine.