Jumat, 25 September 2026
06:17 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum

Gangguan bunyi bahasa

Cadel

Gangguan bunyi bahasa (bahasa Inggris:speech sound disorder), atau secara umum disebut cadel, pelat, atau telor, adalah gangguan bicara di mana bunyi bahasa (yang disebut fonem) tidak mampu diucapkan, atau tidak diucapkan dengan benar, atau tidak digunakan secara benar oleh penutur ibu bahasa bersangkutan, atau diucapkan dengan suara yang salah. Gangguan ini dapat terjadi pada anak kecil maupun orang dewasa.

Ciri umum

Kesalahan pengucapan oleh para pengidap gangguan bunyi bahasa biasanya diklasifikasikan ke dalam empat kategori:

  • Omisi: bunyi-bunyi tertentu tidak mampu diucapkan. Keseluruhan suku kata atau kelas bunyi tidak terucapkan; misalnya "kecil" disingkat menjadi "'cil", "minta" disingkat menjadi "'ta".
  • Adisi (atau Comisi): ada bunyi yang ditambahkan pada kata yang diucapkan.
  • Distorsi: pengucapan berubah secara halus sehingga kata yang diucapkan masih dapat dipahami namun pelafalannya tetap salah, atau tidak terdengar seperti kata yang terdapat dalam bahasa bersangkutan. Kasus ini sering disebut dengan istilah sigmatisme, di mana banyak pengidapnya tidak mampu melafalkan konsonan sibilan (contohnya bunyi [s]) dan menggantinya dengan konsonan interdental (desis gigi, contohnya bunyi [θ]); misalnya "sing" (/sɪŋ/) diucapkan seperti "thing" (/θɪŋ/), tetapi "sun" (/sʌn/) diucapkan "thun" (/θʌn/).
  • Substitusi: Suatu bunyi digantikan oleh bunyi lain; contohnya adalah: "ramal" menjadi "lamal", "fabel" menjadi "pabel", "rabbit" menjadi "wabbit". Kasus ini sering disebut dengan istilah cadel.

Penyebab

Dalam pengucapan/pelafalan bunyi bahasa, artikulator berperan penting, baik aktif (contohnya lidah dan bibir) dan pasif (contohnya gigi, langit-langit mulut, dsb). Beberapa anak melafalkan bunyi yang dikehendaki dengan posisi artikulator yang tidak tepat, sehingga fonem yang dihasilkan berbeda dengan pelafalan yang lazim. Misalnya pengucapan fonem [r] (konsonan geletar alveolar) dengan posisi lidah lateral, sehingga yang dihasilkan adalah bunyi konsonan lateral alveolar ([l]). Beberapa gangguan dapat disebabkan karena masalah fisik, misalnya:

Lihat pula

Rujukan

  • Bauman-Waengler, Jacqueline (2004). Articulatory and Phonological Impairments: A Clinical Focus (2cd ed). Pearson (Boston). ISBN 0-205-40248-8.
  • Secord, Wayne A., Boyce, Suzanne E., Donahue, JoAnn S., Fox, Robert A., and Shine, Rchiard E. (2007). Eliciting Sounds: Techniques and Strategies for Clinicians (2cd ed). Thompson Delmar Learning. ISBN 1-4018-9725-8.
  • Justice, Laura M. (2006). Communication Science and Disorders: An Introduction. Pearson Merril Printice Hall. ISBN 0-12-113518-X .
  • Shriberg, Lawrence D., and Kent, Raymond D. (2003). Clinical Phonetics (3rd ed). Allyn and Bacon (Boston). ISBN 0-205-36883-6 .

Catatan kaki

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan