Selasa, 29 September 2026
15:50 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Cacing keremi

Cacing keremi

Bagikan:
Artikel ini berisi tentang organisme parasit. Untuk infeksi, lihat Enterobiasis.
Artikel ini berisi tentang the nematoda dari familia Enterobius, dikenal sebagai pinworm di USA (Cacing kremi di Indonesia). Untuk nematoda lain yang juga disebut pinworm, lihat Strongyloides stercoralis.
Cacing keremi
250px-Threadworm.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Enterobius vermicularis
250px-Evermicularis_SC_posterior.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Enterobius vermicularis
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Superfamili:
Famili:
Genus:
Enterobius

L, 1758
Spesies

Lihat teks

Artikel takson sembarang

Cacing kremi (bahasa Inggris:pinworm) (genus Enterobius), juga disebut threadworm (di Britania Raya dan Australia) atau seatworm, adalah sejenis cacing parasit pada manusia. Cacing kremi merupakan nematoda (cacing gilig) dan menjadi parasit intestinal atau helminth pada manusia.[1] Kondisi medis akibat infeksi cacing kremi dikenal sebagai enterobiasis[2]

Taksonomi

Cacing kremi termasuk dalam kelompok nematoda.[3] Nama ilmiah untuk cacing keremi ialah Enterobius vermicularis.[4] Nama cacing keremi diberikan karena ukuran tubuhnya yang sangat kecil. Panjang tubuh cacing keremi hanya berkisar antara 2–15 milimeter.[5] Ukuran cacing keremi jantan berkisar antara 2-5 mm lebih pendek daripada cacing keremi betina yang ukurannya 8-13 milimeter.[6]

Anatomi

Tubuh cacing kremi berukuran sangat kecil.[7] Besarnya hanya seukuran beras.[8] Panjang tubuhnya hanya berkisar antara 10–15 sentimeter. [5] Cacing kremi mirip seperti parutan kelapa karena tubuhnya berwarna putih.[9]

Penularan penyakit

Parasitisasi

Cacing keremi merupakan salah satu parasit pada saluran pencernaan yang menyebabkan enterobiasis.[10] Penyakit enterobiasis dapat diderita oleh manusia pada segala umur. Namun umunmnya diderita oleh anak berusia 5–14 tahun. Lingkup penularannya dapat mencapai lingkup keluarga atau lingkungan yang sama. Penularannya dapat melalui debu atau dari mulut ke tangan.[11] Cara masuknya dapat melalui dubur.[12]

Pada anak-anak, cacing kremi tertinggal di dalam kuku atau jari tangan anak-anak ketika bermain di tanah. Wujud cacing kremi ketika menempel masih dalam bentuk telur.[13] Ketika anak-anak makan tanpa mencuci tangan, maka telur cacing keremi akan ikut tertelan. Telur kemudian menetas ketika mencapai usus.[14] Setelah itu, cacing keremi memasuki bagian usus untuk tumbuh dan berkembangbiak. Keberadaan cacing keremi di dalam tubuh menyebabkan penyakit enterobiasis.[15] Peneluran telur cacing kremi dilakukan pada malam hari ketika penderita sedang tertidur.[16]

Pengobatan

Cacingan yang disebabkan oleh infeksi cacing kremi dapat diatasi dengan obat albendazol. Obat ini digunakan dengan cara diminum melalui mulut. Albendazol dapat membunuh cacing kremi karena kemampuannya dalam mengurangi persediaan glikogen yang berakibat kepada berkurangnya pembentukan adenosina trifosfat. Larva cacing ataupun cacing dewasa diblok dari memperoleh glukosa oleh albendazol.[17]

Rasa gatal yang ditimbulkan oleh cacing keremi pada dubur juga dapat diatasi dengan menggunakan tiga jenis ramuan. Ramuan pertama ialah tiga siung bawang merah yang telah digiling atau diparut. Setelah itu, ramuan ditempelkan pada dubur sebelum tidur. Ramuan kedua ialah campuran parutan temu hitam dan sesiung bawang putih yang ditambahi dua sendok madu. Ramuan diminum dari hasil perasan. Perasan ini kemudian diberikan ke dubur setiap dua kali seminggu. Ramuan ketiga ialah dua sampai tiga siung bawang putih yang telah digiling. Setelah itu, ramuan ditempelkan pada dubur sebelum tidur.[18]

Daftar Spesies

Referensi

  1. ↑ Encyclopædia Britannica.
  2. ↑ Merriam-Webster: Enterobiasis
  3. ↑ Neal, M, J. (2006). Safitri, Amalia (ed.). At a Glance Farmakologi Medis [Medical Pharmacology at a Glance Fofth Edition]. Diterjemahkan oleh Surapsari, Juwalita. Jakarta: Penerbit Erlangga. hlm. 88.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Lalangpuling, I. E., Manengal, P. O., dan Konoralma, K. (April 2020). "Personal Hygine dan infeksi cacing Enterobius vermicularis Pada Anak Usia Pra Sekolah". Jurnal Kesehatan Lingkungan. 10 (1): 30. ISSN 2615-188X.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 Siagian, Gunaria (November 2020). Taksonomi Hewan (PDF). Bandung: Penerbit Widina Bhakti Persada Bandung. hlm. 52. ISBN 978-623-6608-59-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 Nakano T, Okamoto M, Ikeda Y, Hasegawa H. "Mitochondrial cytochrome c oxidase subunit 1 gene and nuclear rDNA regions of Enterobius vermicularis parasitic in captive chimpanzees with special reference to its relationship with pinworms in humans". Parasitology Research. 100 (1): 51–7. doi:10.1007/s00436-006-0238-4. PMID 16788831. S2CID 32762371.
  7. ↑ Priyatna, Andi (2011). Everything's gonna be Alright: Membahas Topik-Topik yang Penting Diketahui Seputar Injuri, Nyeri dan Penyakit Anak Sehari-hari. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo. hlm. 249. ISBN 978-602-00-0961-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Ayustawati (Desember 2013). Mengenali Keluhan Anda: Info Kesehatan Umum untuk Pasien. Informasi Medika. hlm. 19.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ↑ Suabahar, R., dkk. (Juli 2022). Buku Penyuluhan Infeksi Cacing Usus. Guepedia. hlm. 39. ISBN 978-623-421-258-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ↑ Astari, R., dan Triana, W. (September 2018). Fatmawati, Fatimah (ed.). Kamus Kesehatan Indonesia-Arab (PDF). Sleman: Trussmedia Grafika. hlm. 38. ISBN 978-602-5747-22-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Rosyidah, H. N., dan Prasetyo, H. (2018). "Prevalensi Infeksi Cacing Usus pada Anak di Kampung Pasar Keputran Utara, Surabaya Tahun 2017" (PDF). Journal of Vocational Health Studies. 01: 120. ISSN 2580-7161.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  12. ↑ Im, S. Y., dan Kim, E. R. (2022). Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Bhuana Ilmu Populer. hlm. 17. ISBN 978-623-04-0790-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Sahani, W., dan Limbong, O. S. (2020). "Hubungan Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun dengan Kejadian Infeksi Kecacingan pada Anak Sekolahh Dasar (Studi Literatur)". Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat. 20 (2): 315. ISSN 2622-6960.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  14. ↑ Bahar, M., Thadeus, M. S., dan Fauziah, C. (2018). "Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dari Langkah Awal Cuci Tangan Pakai Sabun di Komplek Perumahan UPN Keluraha Meruyuunf Kecamatan Limo Kota Depok". Prosiding Seminar Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat. 1 (1). Halaman ke-6. ISBN 978-602-73114-5-9.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  15. ↑ Mei Devi Anjarsari (2018). "Personal Hygiene Kejadian Enterobiasis Siswa Sekolah Dasar Negeri". Higiea. 2 (3): 443.
  16. ↑ Ardinasari, Eiyta (April 2016). Buku Pintar Mencegah dan Mengobati Penyakit Bayi dan Anak. Jakarta: Penerbit Bestari. hlm. 88. ISBN 978-602-341-009-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Alfarisi, Salman (Februari 2015). "Toddler with Enterobiasis". Jurnal Agromed Unila. 1 (2): 41.
  18. ↑ Riyanti GW (2007). Muslimah Cerdas dan Kreatif: Panduan Lengkap Seputar Rumah. Jakarta Selatan: Qultummedia. hlm. 76. ISBN 978-979-017-000-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. 1 2 Hasegawa et al. 2005.
  20. 1 2 3 4 5 6 "Enterobius". NCBI taxonomy (dalam bahasa Inggris). Bethesda, MD: National Center for Biotechnology Information. Diakses tanggal 28 Februari 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 "GBIF Backbone Taxonomy". GBIF Secretariat. 2022. doi:10.15468/39omei.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  22. ↑ Hasegawa H, Takao Y, Nakao M, Fukuma T, Tsuruta O, Ide K (Februari 1998). "Is Enterobius gregorii Hugot, 1983 (Nematoda: Oxyuridae) a distinct species?". The Journal of Parasitology. 84 (1): 131–4. doi:10.2307/3284542. JSTOR 3284542. PMID 9488350.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ Totkova A, Klobusicky M, Holkova R, Valent M (2003). "Enterobius gregorii—reality or fiction?" (PDF). Bratislavské Lekárske Listy. 104 (3): 130–3. PMID 12940699. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 September 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan