Senin, 21 September 2026
22:35 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya

Buya

Buya atau Abuya adalah kata sapaan kekeluargaan untuk orang tua laki-laki, sama dengan sapaan "ayah".[1] Kata ini berasal dari bahasa Arab yang bermakna "ayahku", dengan kata dasar "abun" dan "ya". Di Sumatra, khususnya Minangkabau, gelar ini dapat pula merujuk kepada orang yang alim dalam ilmu agama.[2][3] Seseorang dipanggil buya terutama disebabkan pemahamannya yang mendalam terkait pengetahuan agama.[3] Istilah buya kerap diasosiasikan dengan kiai di Jawa.[3] Namun, posisi buya di Minang tidak sesakral kiai.[2] Di Jawa seorang santri sangat takut kepada kiainya, bahkan ketika kiai menjelaskan kitab, sangat jarang ditemukan santri yang mau mengkritik kiainya.[2]

Penyandang gelar

  1. Abuya Muda Waly;
  2. Buya Hamka;
  3. Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur;
  4. Abuya Dimyathi;
  5. Buya Ahmad Syafii Maarif;
  6. Buya Yunahar Ilyas;
  7. Buya Mas'oed Abidin;
  8. Buya Yahya;
  9. Buya Arrazy Hasyim;
  10. Buya Syakur;
  11. Buya Gusrizal Gazahar;
  12. Abuya Uci Turtusi;
  13. Buya Haedar;
  14. Abuya Tohawi Romli;
  15. Abuya Muhtadi;
  16. Abuya Mama Ghufron Al Bantani;

Catatan akhir

Logo KBBI
Lihat entri Buyadi KBBI.
  1. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2016). "KBBI Daring". kbbi.kemendikdasmen.go.id (Edisi 5). Jakarta. Diakses tanggal 2018-07-19.
  2. 1 2 3 Ferdiansyah, Hengky (2018-07-18). "Saya, Gus Dur, dan Para Kiai". NU Online (dalam bahasa Melayu). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-07-18. Diakses tanggal 2018-07-18.
  3. 1 2 3 Musnandar, Aries (2016-11-08). "Pak Tuo Syafiie Ma'arif, Bukan Buya". Hidayatullah.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-06-21. Diakses tanggal 2018-07-18.


Ikon rintisan

Artikel bertopik gelar ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan