Rabu, 14 Oktober 2026
02:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
Burung kontes

Burung kontes

Bagikan:
250px-Geokichla_interpres_1838.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anis kembang memiliki suara yang cukup baik untuk melatih burung pengicau

Burung kontes adalah burung yang dipersiapkan untuk berkicau pada kontes. Umumnya, burung kontes berasal dari burung pengicau.

Persiapan

Kicauan

Ada dua teknik cara membuat suara kicauan burung menjadi baik. Yang pertama, memelihara burung masteran. Yaitu, suara burung master "direkam" oleh burung maskot. Apabila berhasil, suara burung maskot akan baik dan berkarakter sama dengan burung master.[1] Yang kedua, cara ini hampir sama dengan cara pertama. Tapi, kita tak perlu memelihara burung master. Karena burung master sudah direkam oleh media elektronik. Adapun, cara ini lebih mudah ketimbang cara pertama.[2]

Makanan

Burung kontes juga memerlukan makanan yang penuh karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan asam amino. Karbohidrat didapat dari pepaya, pisang, kacang tanah, dan kacang hijau. Protein didapat dari ikan, susu, atau cacing. Terlalu banyak memakan lemak menjadikan burung malas berkicau, serta vitamin dan asam amino didapat untuk memelihara sel.[3]

Sangkar

Sangkar burung dapat dibuat dari bambu, ataupun kayu. Bagi burung-burung paruh bengkok, hendaknya diberi sangkar dari logam. Ia mudah dibersihkan. Namun, kalau berkarat karena dikenai air ataupun udara, dapat menyebabkan karatan. Sangkar yang berkarat dapat menyebabkan keracunan bagi paruh bengkok karena mengandung racun.[4]

Status dan konservasi

Diketahui, sekitar 95% burung yang diperdagangkan adalah tangkapan dari alam. Namun, sayangnya ini tak melihat usia burung. Apalagi, memikirkan kelangsungan keturunan burung tersebut yang diburu.[5] Padahal, burung mempunyai peran yang cukup besar dalam menyebar benih berupa biji dan beberapa malah membantu penyerbukan dan mengendalikan hama yang merugikan petani. Banyaknya jumlah burung tersebut dapat menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem.[6]

Rusli Turut, hobiis burung dan penulis memberi contoh: burung pemburu serangga, yang juga dimanfaatkan sebagai burung kontes dan menguntungkan petani juga mulai kekurangan populasi karena pelaku ekonomi dan pasar burung yang menjamur di sudut-sudut kota atau desa.[6]

Beruntung, beberapa burung telah ditangkarkan sehingga populasi burung yang telah berkurang tidak mencapai ke arah kepunahan.

Referensi

  1. ↑ Hermawan 2012, hlm. 2.
  2. ↑ Hermawan 2012, hlm. 2–3.
  3. ↑ Hermawan 2012, hlm. 22–23.
  4. ↑ Hermawan 2012, hlm. 6–7.
  5. ↑ Turut 2010, hlm. 10.
  6. 1 2 Turut 2010, hlm. 11.
Bibliografi

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik burung ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan