Selasa, 27 Oktober 2026
22:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Budaya Tuli

Budaya Tuli

Bagikan:
Globe icon.
Konten dan perspektif penulisan artikel ini hanya berpusat pada sudut pandang dari negara Amerika Serikat dan tidak menggambarkan wawasan global pada subjeknya. Silakan bantu mengembangkan atau bicarakan artikel ini di halaman pembicaraannya, atau buat artikel baru, bila perlu. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Pengenalan budaya Tunarungu dalam Bahasa Isyarat Amerika (ASL) dengan teks terjemahan bahasa Inggris tersedia

Budaya Tuli adalah diskriminasi atas kondisi ketulian dan penggunaan bahasa isyarat. Diskriminasi ini bisa berbentuk diskriminasi langsung dan tidak langsung karena bisa jadi ia berbentuk struktur keyakinan sosial, perilaku, seni, sastra, sejarah, nilai, dan institusi.[1] Apabila hendak digunakan sebagai budaya, istilah Tuli dengan T kapital diadaptasi untuk mengakomodasi identitas pengguna bahasa isyarat. Di Indonesia, istilah tersebut sudah jamak digunakan oleh komunitas Tuli. Bila digunakan sebagai label untuk kondisi audiologis, maka ditulis dengan huruf kecil t .[2] Penggunaan huruf kapital yang berbeda, Deaf dengan D kapital dan deaf dengan d kecil ini digagas oleh Carl G. Croneberg yang membahas analogi antara budaya Tuli dan budaya dengar dalam entri C dan D di Dictionary of American Sign Language tahun 1965.

Referensi

  1. ↑ Palfreyman, Nick (2015). "Budaya tuli Indonesia dan hak bahasa. Dalam Seminar Tahunan Linguistik 2015". Universitas Pendidikan Indonesia: hlm. 1–8.
  2. ↑ Padden, Carol A.; Humphries, Tom (Tom L.) (2005). Inside Deaf Culture. Cambridge, MA: Harvard University Press. hlm. 1. ISBN 978-0-674-01506-7.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan