Senin, 21 September 2026
13:31 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya

Brahmacarya

Tingkatan kehidupan dalam ajaran Hindu

Brahmacarya (/ˌbrɑːməˈɑːrjə/; Devanagari: ब्रह्मचर्य, secara harfiah berarti "menuju Brahman")[1] adalah suatu konsep dalam agama-agama India yang memiliki berbagai makna yang bergantung pada konteksnya. Lelaki yang menjalani Brahmacarya disebut Brahmacari, sedangkan yang perempuan disebut Brahmacarini.

Brahmacarya adalah bagian dari Caturasrama, yang berarti empat tingkatan kehidupan atas dasar keharmonisan hidup dalam ajaran Hindu. Brahmacarya merupakan tahapan pertama dari Caturasrama, yang diikuti Grehasta, Wanaprasta, dan Biksuka/Sanyasin. Brahmacarya adalah masa belajar, masa menuntut ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan tentang ketuhanan (spiritual). Kata Brahmacarya sering dijabarkan melalui pernyataan berikut : brahmacarati iti Brahmacarya, mereka yang berkecimpung di bidang pengetahuan (mencari ilmu pengetahuan) disebut Brahmacarya.[2]

Tingkatan hidup Brahmacarya sering juga disebut dengan kehidupan aguron-guron atau aseweka guru adalah satu tingkatan kehidupan yang memerlukan ketekunan dan kesungguhan, karena dalam masa ini seorang Brahmacarya akan menerima pembelajaran dari guru sekaligus menerima ilmu pengetahuan yang memerlukan pemikiran yang sungguh-sungguh. Dalam Brahmacarya seseorang akan dibentuk dan membentuk wataknya melalui pengembangan pengetahuan, ketrampilan, pemahaman, sikap, prilaku, serta nilai, guna memiliki pribadi yang utama berdasarkan dengan ajaran agama dan Dharma sehingga dapat berguna bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.[3]

Pengertian

Dalam konteks pertama, brahmacarya adalah tahap pertama dalam empat ashrama (tahap usia) kehidupan manusia, dan tiga asrama lainnya adalah grehasta (penghuni rumah), wanaprasta (penghuni hutan), dan sanyasa (penolakan). Tahap brahmacharya (siswa lajang) dalam kehidupan seseorang (hingga ia berusia dua puluh lima tahun) berfokus pada pendidikan dan ia harus selibat.[4] Dalam konteks ini, istilah brahmacharya menandakan kesucian selama tahap tersebut dengan tujuan untuk belajar dari seorang guru, dan selama tahap akhir kehidupan untuk mencapai pembebasan spiritual (moksha).[5][6]

Dalam konteks lain, brahmacarya adalah kebajikan berselibat saat tidak menikah dan kesetiaan apabila sudah menikah.[7][8] Istilah ini juga mencakup gaya hidup penuh kebajikan yang meliputi hidup sederhana, bermeditasi dan perilaku-perilaku lainnya.[9][10]

Dalam tradisi biara Hindu, Jain dan Buddha, brahmacarya salah satunya berarti kewajiban untuk tidak melakukan hubungan seks dan pernikahan.[11] Hal ini dianggap penting untuk praktik spiritial seorang biksu.[12]

Catatan kaki

  1. James Lochtefeld, "Brahmacharya" in The Illustrated Encyclopedia of Hinduism, Vol. 1: A–M, hlm. 120, Rosen Publishing. ISBN9780823931798
  2. Kastana, I. Wayan (2018-11-13). "PENEKANAN KONSEP Brahmacarya ASRAMA DI SEKOLAH DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA". GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU. 5 (2). doi:10.25078/gw.v5i2.639. ISSN 2655-0156.
  3. Santika, Ni Wayan Ramini (2018-12-03). "Pendidikan Agama Hindu Sebagai Dasar Dalam Pembentukan Karakter". Satya Widya: Jurnal Studi Agama (dalam bahasa American English). 1 (2): 153–163. doi:10.33363/swjsa.v1i2.47. ISSN 2655-1454.
  4. RK Sharma (1999), Indian Society, Institutions and Change, ISBN978-8171566655, hlm. 28
  5. Georg Feuerstein, The Encyclopedia of Yoga and Tantra, Shambhala Publications, ISBN978-1590308790, 2011, hlm. 76, Quote - "Brahmacharya essentially stands for the ideal of chastity"
  6. W.J. Johnson (2009), "The chaste and celibate state of a student of the Veda", Oxford Dictionary of Hinduism, Oxford University Press, ISBN978-2713223273, hlm. 62
  7. Brahmacharyam Pativratyam cha - Celibacy and Fidelity Diarsipkan 30 June 2013 di Wayback Machine. Himalayan Academy, Gutenberg Archives (2006)
  8. [a] Louise Taylor (2001), A Woman's Book of Yoga, Tuttle, ISBN978-0804818292, hlm. 3;
    [b]Jeffrey Long (2009), Jainism: An Introduction, IB Tauris, ISBN978-1845116262, hlm. 109; Kutipan: The fourth vow - brahmacarya - means for laypersons, marital fidelity and pre-marital celibacy; for ascetics, it means absolute celibacy; John Cort explains, "Brahmacharya involves having sex only with one's spouse, as well as the avoidance of ardent gazing or lewd gestures (...) - Quoted by Long, ibid, hlm. 101
  9. M Khandelwal (2001), Sexual Fluids, Emotions, Morality - Notes on the Gendering of Brahmacharya, in Celibacy, Culture, and Society: The Anthropology of Sexual Abstinence (Editors: Elisa Sobo and Sandra Bell), University of Wisconsin Press, ISBN978-0299171643, hlm. 157-174
  10. Joseph Alter (2012), Moral Materialism, Penguin, ISBN978-0143417415, hlm. 65-67
  11. Carl Olson (2007), Celibacy and Religious Traditions, Oxford University Press, ISBN978-0195306323, hlm. 227-233
  12. DR Pattanaik (1998), The Holy Refusal, MELUS, Vol. 23, No. 2, 113-127

Bacaan lanjut

  • Carl Olson, Celibacy and Religious Traditions, Oxford University Press, ISBN978-0195306323
  • Elisabeth Haich, Sexual Energy and Yoga. Aurora Press, ISBN978-0943358031 (1982)
  • Stuart Sovatsky: "Eros, Consciousness and Kundalini: Tantric Celibacy and the Mysteries of Eros". Inner Traditions, Rochester, VT. (1999)
  • Swami Narayanananda: The Way to Peace, Power and Long Life. N.U. Yoga Trust, Denmark, 2001 (1st ed. 1945)
  • Swami Narayanananda: Brahmacharya, Its Necessity and Practice for Boys and Girls. N.U. Yoga Trust, Denmark, 2001 (1st ed. 1960)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan