Kamis, 05 November 2026
07:56 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Bakayab Hai

Bagikan:

Bakayab Hai adalah sebuah tradisi penyambutan tamu yang berasal dari masyarakat Kepulauan Sula di Maluku Utara, khususnya di Desa Pohea, Kecamatan Sanana Utara. Ungkapan "Bakayab Hai" secara harfiah bermakna “menjejakkan kaki”, sebuah simbolik untuk meletakkan kaki tamu di atas tanah adat yang telah disiapkan, lalu diikuti dengan siraman air sedikit.[1]

Sejarah

Tradisi ini awalnya dijalankan secara tertutup, khususnya dalam upacara basoa li atau "masuk minta" atau meminang pada saat proses meminang calon pengantin. Namun, kini telah menjadi ritual terbuka dalam berbagai acara sosial, seperti kunjungan tamu penting, upacara pernikahan, ritual budaya, dan festival tahunan seperti Hari Jadi Kabupaten Sula. Prosesi ini hanya dilakukan sekali. Jika seseorang sebelumnya sudah pernah dimasukkan dalam ritual ini, kunjungan berikutnya tidak memerlukan Bakayab Hai lagi.[2]

Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara Bakayab Hai dimulai dengan tahapan basoa li, yaitu proses permintaan atau meminang yang diajukan oleh pihak keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Selanjutnya dilakukan pinangan pertama, yang dimaknai sebagai pengiriman tanda minat berupa sirih, pinang, dan kapur. Lalu, dilanjutkan dengan pinangan kedua, yang merupakan simbol diterimanya lamaran secara adat dan dinyatakan sah melalui prosesi putus li madas (putusan bersama).[3]

Setelah tahapan awal ini, dilanjutkan dengan beberapa unsur penting seperti balaswari (baleyah), badaka (pemakaian bedak), ijab kabul, dan gema nap (pegang kepala). Kemudian dilakukan nasih, yakni makan bersama antara dua keluarga besar. Salah satu bagian khas dari tradisi ini adalah sekapur sirih, yaitu penyampaian kata-kata oleh perwakilan keluarga, yang menunjukkan rasa syukur dan pengharapan akan masa depan mempelai. Prosesi lain yang menyusul adalah pin uba (menggendong mempelai), gia el (menyuguhkan makan pinang), dan puncaknya adalah Bakayab Hai, yaitu prosesi menginjak tanah.[butuh rujukan]

Pada bagian akhir, kedua mempelai bersama keluarga akan menyentuh atau menginjakkan kaki ke tanah yang telah dilapisi kain putih dan dihiasi bawang serta rumput karua. Prosesi ini dimaknai sebagai simbol penyatuan dengan alam dan permohonan berkah. Air yang telah disiapkan dalam wadah khusus akan dituangkan ke gelas, lalu diminum oleh mempelai. Kemudian dibacakan doa dan ayat Al-Qur'an sebagai bentuk harapan keselamatan dan keberkahan dalam rumah tangga yang akan dijalani.[butuh rujukan]

Kaitan dengan Adat Gala

Satu rangkaian budaya yang menjadi sepasang dengan prosesi Bakayab Hai adalah tari Gala. Tradisi ini menjadi kelanjutan setelah tamu dinyatakan telah "menjejakkan kaki". Gala ditarikan secara berpasangan, menggambarkan persatuan dan sukacita masyarakat Sula, dengan lelaki memainkan tifa dan perempuan bergerak mengikuti alunan suling.[1]

Daftar Referensi

  1. 1 2 News, TVRI. "Bakayab Hai, Tradisi Adat Menyambut Tamu di Kepulauan Sula". TVRI News. Diakses tanggal 2025-06-19.{{cite web}}: |last= memiliki nama generik
  2. ↑ "Analisis | PDF". Scribd. Diakses tanggal 2025-06-19.
  3. ↑ Susanti, Pipit Aprilia; Samad, Sartika (2024-01-14). "Ethnopedagogy In The Bakayab Hai Tradition". Journal of Education Research (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 41–47. doi:10.37985/jer.v5i1.619. ISSN 2746-0738.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan