Selasa, 27 Oktober 2026
09:21 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Badak sumatra barat

Badak sumatra barat

Bagikan:
Badak sumatra barat
250px-Sumatran_Rhinoceros_Way_Kambas_2008.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Subspesies:
D. s. sumatrensis
Nama trinomial
Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis
Artikel takson sembarang

Badak Sumatra Barat (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis) merupakan salah satu subspesies dari badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) yang termasuk dalam famili Rhinocerotidae. Subspesies ini merupakan bagian dari kelompok badak Asia bercula dua dan dikenal sebagai megaherbivora penghuni hutan hujan tropis Sumatra.[1] Keberadaannya memiliki peran ekologis penting dalam dinamika ekosistem hutan.

Badak sumatra tergolong sebagai salah satu mamalia besar yang paling terancam punah. Spesies ini berfungsi sebagai spesies kunci (keystone species) yang berkontribusi terhadap struktur Vegetasi melalui aktivitas merumput dan pergerakan di lantai hutan.[2] Peran tersebut menjadikan kelestariannya penting bagi keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Secara historis, badak sumatra pernah memiliki persebaran yang lebih luas di Asia Tenggara. Namun, dalam beberapa dekade terakhir populasinya mengalami penurunan yang signifikan akibat tekanan antropogenik. Saat ini, Populasi liar terutama bertahan di Pulau Sumatra dalam kelompok-kelompok kecil yang terfragmentasi.[3]

Populasi yang terisolasi menyebabkan berkurangnya peluang pertemuan antarindividu untuk berkembang biak. Kondisi ini berpotensi menurunkan aliran gen dan meningkatkan risiko depresi inbreeding pada populasi kecil.[3] Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya konservasi badak sumatra.

Status Konservasi badak sumatra saat ini dikategorikan sebagai Kritis (Critically Endangered). Status ini menunjukkan bahwa spesies tersebut menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar. Oleh karena itu, badak sumatra menjadi prioritas dalam berbagai program konservasi di Indonesia.[2]

Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup badak sumatra adalah perburuan ilegal untuk memperoleh culanya. Nilai ekonomi cula badak di perdagangan gelap satwa liar mendorong tekanan perburuan terhadap populasi yang sudah kecil.[4] Aktivitas ini berkontribusi langsung terhadap penurunan jumlah individu di alam.

Selain perburuan, kehilangan habitat akibat deforestasi dan konversi lahan juga menjadi faktor penting. Ekspansi perkebunan, pertambangan, serta pembalakan liar telah menyebabkan degradasi hutan hujan tropis. Perubahan tutupan lahan ini mengurangi luas habitat yang sesuai bagi badak sumatra.[3]

Fragmentasi habitat semakin memperburuk kondisi populasi. Terputusnya konektivitas lanskap menghambat pergerakan individu antarwilayah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan ketahanan populasi terhadap perubahan lingkungan.[5]

Tekanan antropogenik juga diperparah oleh meningkatnya konflik satwa–manusia di sekitar kawasan hutan. Penyusutan habitat alami mendorong badak mendekati area aktivitas manusia. Interaksi tersebut meningkatkan risiko kematian satwa di lapangan.[4]

Upaya konservasi badak sumatra meliputi perlindungan habitat, penguatan patroli anti-perburuan, serta pengelolaan populasi melalui program penangkaran. Pendekatan berbasis lanskap dan kolaborasi multipihak dinilai penting untuk meningkatkan efektivitas konservasi. Meskipun demikian, keberlangsungan subspesies ini masih menghadapi tantangan besar di masa depan.[5]

Referensi

  1. ↑ Choy, Yee Keong; Onuma, Ayumi (2025-07-01). "The Tropical Peatlands in Indonesia and Global Environmental Change: A Multi-Dimensional System-Based Analysis and Policy Implications". Regional Science and Environmental Economics (dalam bahasa Inggris). 2 (3): 17. doi:10.3390/rsee2030017. ISSN 3042-4658.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  2. 1 2 Subeno, Subeno; Hariyanto, Awang; Satria, Ryan Adi (2025-10-13). "Potential Habitat of Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) in Rawa Bunder Resort, Section III Kuala Penet, Way Kambas National Park, Lampung". Jurnal Ilmu Kehutanan (dalam bahasa Inggris). 19 (2): 141–148. doi:10.22146/jik.v19i2.7724. ISSN 2477-3751.
  3. 1 2 3 Struebig, Matthew J.; Lee, Janice S. H.; Deere, Nicolas J.; Gevaña, Dixon T.; Ingram, Daniel J.; Lwin, Ngwe; Nguyen, Trang; Santika, Truly; Seaman, David J. I. (2025-07-23). "Drivers and solutions to Southeast Asia's biodiversity crisis". Nature Reviews Biodiversity. 1 (8): 497–514. doi:10.1038/s44358-025-00064-7. ISSN 3005-0677.
  4. 1 2 Struebig, Matthew J.; Lee, Janice S. H.; Deere, Nicolas J.; Gevaña, Dixon T.; Ingram, Daniel J.; Lwin, Ngwe; Nguyen, Trang; Santika, Truly; Seaman, David J. I. (2025-07-23). "Drivers and solutions to Southeast Asia's biodiversity crisis". Nature Reviews Biodiversity. 1 (8): 497–514. doi:10.1038/s44358-025-00064-7. ISSN 3005-0677.
  5. 1 2 Ngongo, Yohanis; Njurumana, Gerson N.; Sallata, Markus Kudeng; Allo, Merryana Kiding; Muin, Nurhaedah; Isnan, Wahyudi; Najib, Nardy Noerman; Hak Bisjoe, Achmad Rizal; Putri, Indra A. S. L. P. (2025-06-06). "Engaging Sustainable Reforestation and Forest Protection in the Wallacea Line, Indonesia". F1000Research. 14: 165. doi:10.12688/f1000research.159731.2. ISSN 2046-1402.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Badak sumatra barat.


Ikon rintisan

Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan