Selasa, 20 Oktober 2026
20:26 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Bartolomeus Lallung Sallata

Bagikan:
Bartolomeus Lallung Sallata
Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah
Masa jabatan
1973–1980
PresidenSoeharto
GubernurAlbertus Maruli Tambunan
Moenafri
Bupati Posoke-6
Masa jabatan
1962–1968
PresidenSoekarno
Soeharto
GubernurAnwar Datuk Madjo Basa Nan Kuning
PendahuluNgitung
PenggantiGhalib Lasahido
Informasi pribadi
LahirBartolomeus Lallung Sallata
Meninggal2 Oktober 2016
Partai politik20px-Indonesian_National_Party.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Partai Nasional Indonesia

Drs. Bartolomeus Lallung Sallata (lahir di Batualu, Sangalla Selatan, Tana Toraja - meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan; 2 Oktober 2016), adalah Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah yang menjabat pada tahun 1973 hingga 1980 dan juga Bupati Poso ke-6 yang menjabat pada tahun 1962 hingga 1968. Ia adalah satu-satunya orang yang pernah merangkap tiga jabatan di Sulawesi Tengah dan orang Toraja pertama yang pernah menjadi bupati di luar Tana Toraja.

Kehidupan pribadi

Sallata lahir di Batualu, Sangalla Selatan, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.[1] Sallata meninggal dunia di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 2 Oktober 2016.[2]

Riwayat Hidup

Pendidikan dan jabatan

Sallata pernah menjadi Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah pada tahun 1973 hingga 1980, sekaligus merangkap jabatan sebagai Inspektur Wilayah dan Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Sulawesi Tengah. Dia juga pernah menjadi Inspektur Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1983 hingga 1987 dan Inspektur Wilayah Provinsi Papua pada tahun 1987 hingga 1990. Selain di bidang politik, dia juga pernah menjadi dosen di Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta Selatan pada tahun 1980 hingga 1985.

Kontroversi

Rencana kudeta Bupati Poso

Pada bulan Maret hingga April 1966, Kota Poso sedang dilanda kerusuhan skala kecil di dalam kota, dengan meletusnya peristiwa pertama yang mengarah pada radikalisasi kelompok Muslim kota Poso, yang juga merupakan awal aliansi militer dengan kelompok Islam radikal di kota Poso.[3] Komandan Kodim 1307 Poso waktu itu, Letkol Sutikno Slamet, berusaha menggulingkan Sallata. Alasannya, Sallata berasal dari PNI dan merupakan unsur Orde Lama, bukan orang asli Poso dan beragama Kristen. Untuk itu, Slamet berkampanye melalui forum Panca Tunggal yang beranggotakan Dandim, Kapolres, Ketua Pengadilan Negeri, dan Kepala Kejaksaan Negeri. Bupati sendiri mendapat dukungan dari Kapolres Poso, AKBP Raden Bey.[4]

Di luar forum Panca Tunggal, kampanye penggulingan Bupati Sallata mendapat dukungan dari Yahya Mangun, tokoh buruh PSII, dan seorang tokoh Muslim, Ali Adam, Direktur SGA Negeri Poso.[5] Tetapi usaha penggulingan sang bupati sangat sulit secara legal, sebab DPRD-GR Kabupaten Poso waktu itu didominasi oleh PNI, dan diketuai oleh seorang politikus asal Pamona yang beragama Kristen, J. Santo. Karena sudah tidak sabar, Slamet kemudian mengerahkan pasukannya untuk mengepung kantor DPRD-GR Poso, untuk memaksa anggota DPRD mencabut dukungan mereka kepada Sallata. Sebelumnya, kantor dan rumah Bupati Sallata sudah dikepung juga oleh personil militer Kodim Poso.[1]

Usaha kudeta itu gagal, karena anggota BPH Bidang Ekonomi yang juga seorang kader PNI, Usman Sondeng, berhasil lolos dari kepungan militer, dan melaporkan tindakan Dandim ke atasannya di Palu.[6] Dalam waktu singkat, Sutikno Slamet serta Raden Bey dicopot dari posisi mereka masing-masing sebagai Dandim dan Kapolres, dan diperiksa oleh atasan mereka masing-masing. Sementara itu, seluruh anggota Panca Tunggal diganti, kecuali Bupati Sallata, yang diberi kesempatan menyelesaikan masa jabatannya sampai tahun 1968 tanpa halangan.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 George Aditjondro. "Kerusuhan Poso dan Morowali, Akar Permasalahan dan Jalan Keluar" (PDF). Pro Patria Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2016-08-27. Diakses tanggal 2016-08-26.
  2. ↑ "Mantan Sekda Sulteng Wafat di Sulsel". MetroSulawesi. Diakses tanggal 9 Oktober 2016.
  3. ↑ Aditjondro, G.J. (2001). Guns, Pamphlets and Handie-Talkies: How the Military Exploited Local Ethno-Religious Tensions in Maluku to Preserve their Political and Economic Privileges  (dalam bahasa Bahasa Inggris) (Edisi ke-1). Hamburg: Violence in Indonesia.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  4. ↑ Membedah Kembar Siam Penguasa Politik dan Ekonomi Indonesia: Investigasi Korupsi Sistemik Bagi Aktivis dan Wartawan  (dalam bahasa Bahasa Indonesia) (Edisi ke-1). Jakarta & Kendari: LSPP, PSHK & Formas. 2004.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. ↑ Kayu Hitam, Bisnis Pos Penjagaan, Perdagangan Senjata dan Proteksi Modal Besar: Ekonomi Politik Bisnis Militer di Sulawesi bagian Timur  (dalam bahasa Bahasa Indonesia) (Edisi ke-1). Yogyakarta: Jurnal Wawasan. 2004.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  6. ↑ Damanik, Rinaldy (2003). Tragedi Kemanusiaan Poso: Menggapai Surya Pagi Melalui Kegelapan Malam  (dalam bahasa Bahasa Indonesia) (Edisi ke-1). Jakarta & Palu: PBHI & LPS-HAM Sulawesi Tengah.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan