Minggu, 01 November 2026
07:13 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Asawirah

unit militer Kekhalifahan Rasyidin dan Umayyah

Bagikan:

Asawirah (Arab: أساورة) adalah unit militer Kekhalifahan Rasyidin dan Umayyah. Unit ini terdiri dari bangsawan Iran yang awalnya merupakan bagian dari unit Aswaran dalam tentara Sasaniyah. Unit ini dibubarkan pada tahun 703 oleh al-Hajjaj bin Yusuf.

Etimologi

Kata ini adalah bentuk jamak bahasa Arab yang tidak lengkap dari kata bahasa Persia Pertengahan aswār ("penunggang kuda"), yang selanjutnya berasal dari kata bahasa Persia Kuno asabāra. Bentuk bahasa Partianya adalah asbār.[1]

Latar belakang

Selama invasi Arab ke Iran, raja Sasaniyah Yazdegerd III (m. 632–651) mengirim 1.000 pasukan kavaleri di bawah pimpinan Siyah al-Uswari untuk mempertahankan Khuzestan. 1.000 orang ini adalah etnis Iran dari Isfahan dan wilayah antara Isfahan dan Khuzestan, dan bertugas di unit aswaran. Selama pengepungan Shushtar (641–642), mereka membelot ke pihak Arab, dan menetap di Bashrah, di mana mereka menerima gaji. Lebih jauh lagi, mereka juga memeluk Islam dan bersekutu dengan Bani Tamim di Irak selatan.[1][2] Namun, kisah tentang mereka yang memeluk Islam kemungkinan besar tidak akurat, karena 15 tahun kemudian, beberapa anggota masih muncul dengan nama Zoroastrian, seperti Mah-Afridhan.[3]

Sejarah

Mereka kemudian ikut serta dalam penaklukan Pars, Kerman, dan Khorasan. Setelah jatuhnya Kekhalifahan Rasyidin pada tahun 661, mereka terus mengabdi di bawah penerus mereka, Kekhalifahan Umayyah.[1] Satu tahun kemudian, khalifah Umayyah Muawiyah bin Abu Sufyan (m. 661–680) memukimkan kembali sebagian dari kaum Asawirah di Antiokhia. Menurut Ibnu al-Fakih, gubernur Umayyah Ziyad bin Abihi membangun sebuah masjid di Bashrah untuk mereka pada akhir tahun 660-an.[1]

Selama Fitnah Kedua, kaum Asawirah di bawah Mah-Afridhun membantu suku Tamim dalam pemberontakan yang menewaskan gubernur Bashrah, Mas'ud bin Amr (w. 684). Kaum Asawirah kemudian bergabung dengan pemberontakan Abdurrahman bin Muhammad bin al-Asy'ats, yang berlangsung dari tahun 700 hingga 703. Namun, hal ini membuat negarawan Arab al-Hajjaj bin Yusuf membubarkan kaum Asawirah, dengan menghancurkan rumah-rumah mereka, mengurangi gaji mereka, dan memindahkan mereka ke kota-kota lain.[1] Beberapa keturunan mereka kemudian disebutkan dalam beberapa sumber, seperti Musa bin Sayyar al-Uswari,[4] yang merupakan murid Hasan al-Bashri, seorang ulama Muslim terkemuka, yang juga berasal dari Iran.

Referensi

Sumber

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan