Senin, 28 September 2026
11:55 WIB
TERKINI
Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan
Antroposofi

Antroposofi

denominasi Kristen

250px-Steiner_um_1905.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rudolf Steiner - tokoh antroposofi

Antroposofi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menerangkan pengetahuan tentang manusia.[1] Namun hal ini juga berkitan dengan aspek pengetahuan yang ingin menjelaskan tentang Tuhan atau yang disebut teosofi.[1] Istilah Antroposofi sendiri berasal dari bahasa Yunani, anthropos dan sophia, yaitu manusia dan pengetahuan.[1]

Gagasan ini merupakan sistem filsafat-religius yang dikemukakan oleh Rudolf Steiner (1861–1925).[2] Teori ini sangat dipengaruhi oleh teologi agama Hindu.[2] Sekilas mengenai Steiner, bahwa dia adalah ahli dalam bidang spiritualitas, hidup di India untuk melakukan penelitiannya, dan selalu tertarik dengan hidup yang sarat misteri; ia mendalami yoga, karma, Buddhisme dan filsafat Timur di India.[3] Waktu kemunculannya adalah menjelang Perang Dunia I, dan diperkirakan masih hidup di Republik Federal Jerman, Inggris dan juga Amerika Serikat.[1]

Pemikiran Anthrophosophy disebut juga sebagai teori mistis, percampuran religius filosofis yang dipinjam dari pemikiran neoplatonisme dan Pitagorian, mistisisme, Kabala dan filsafat alam Jerman.[1] Teorinya berciri pendewaan terhadap kodrat manusia yang memiliki karsa atau kehendak.[1] Bagi teori ini, kodrat yang ada pada manusia hanya bisa disingkap oleh manusia yang memiliki karsa tadi.[1]

referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 (Indonesia)Lorens bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
  2. 1 2 (Indonesia)Henk ten Napel., Kamus teologi Inggris-Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
  3. ↑ Yogeshwranand Saraswati (Swami)., The science of divinity: or, Brahma vigyana, Yog Niketan Trust, 1973
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan