
Seorang antek atau antek-antek adalah pegawai, pendukung, atau anak buah setia tokoh berpengaruh yang terlibat dalam usaha jahat atau kriminal. Para antek biasanya memiliki peran yang relatif tidak penting dalam organisasi: para pengikut yang nilainya terutama terletak pada kesetiaan mereka yang tanpa syarat kepada pemimpinnya. Istilah antek sering digunakan secara merendahkan, atau kadang secara jenaka, untuk merujuk pada individu berstatus rendah yang tidak memiliki kompas moral pribadi.
Dalam bahasa Indonesia, istilah "antek" didefinisikan sebagai orang atau negara yang diperalat atau dijadikan pengikut, kaki tangan, atau budak.[1] Konteks ini mencerminkan peran subordinat yang serupa dengan penggunaan historis istilah henchman dalam bahasa Inggris, yang pada awalnya merujuk pada pengurus kuda majikan atau penjaga kuda. Sebagaimana konstabel dan marshal yang juga berasal dari pekerja kandang, istilah tersebut kemudian berevolusi menjadi gelar bagi pejabat bawahan di istana kerajaan atau lingkungan bangsawan.
Contoh modern
Istilah antek juga digunakan sebagai peyoratif bagi bawahan dari jenis dalang politik apa pun atau untuk menggambarkan orang lain sebagai sosok tersebut. Oleh karena itu, istilah ini digunakan bagi rekan-rekan Presiden George W. Bush,[2][3] misalnya oleh Presiden Venezuela Hugo Chávez.[4] Begitu pula, istilah ini juga digunakan terhadap rekan-rekan mantan Presiden AS Bill Clinton.[5] Rebekah Brooks pernah digambarkan sebagai antek perempuan dari Rupert Murdoch.[6]
Anggota SS dan semua anak buah Adolf Hitler, sering disebut sebagai "Antek-antek Hitler",[7] sebuah frasa yang digunakan sebagai judul buku karya Guido Knopp dan sebuah film dokumenter televisi.
Di Indonesia, istilah "antek" kerap dilekatkan dalam diskursus politik, sering kali dalam bentuk frasa "antek asing", untuk mendiskreditkan lawan politik atau kebijakan pemerintah yang dinilai lebih memihak kepentingan kekuatan internasional daripada kepentingan nasional.[8] Istilah serupa juga mencuat dalam era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ketika ia menggunakan padanan historis kolonial "londo ireng" untuk menyindir pihak-pihak di dalam negeri yang dituding mengabdi pada kepentingan asing dengan menyamar sebagai jurnalis, pengamat, atau anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang kemudian memicu perdebatan luas serta kritik dari berbagai organisasi pers nasional.[9][10]
Lihat pula
Referensi
- ↑ https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/antek
- ↑ "Labor: Bush's 'Job-friendly' Economy isn't Worker Friendly". Zmag. ZNet. Mei 6, 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-05-06.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kaplan, Fred (Mei 14, 2004). "Quit blaming your henchmen, Mr. President". Slate Magazine. Diakses tanggal 2014-05-22.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "News". politicalgateway.com.
- ↑ "In denial - Clinton evades public blame for sex scandal - Capital Scene - Brief Article". National Review. Vol. 50, no. 4. Diarsipkan dari versi asli pada 2006-03-27.
- ↑ "Bombastic butlers and a £150,000 question". New Statesman. Maret 3, 2011. Diakses tanggal 2014-05-22.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Hitler's Henchmen". Shoah.dk. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-10-14. Diakses tanggal 2014-05-22.
- ↑ Jordan, Ray. "Jokowi: Saya Dituding Antek Asing dan PKI, Nggak Beradab!". detiknews. Diakses tanggal 2026-08-13.
- ↑ "Prabowo Harus Minta Maaf Sebut Wartawan Londo Ireng | AJI - Aliansi Jurnalis Independen". aji.or.id. Diakses tanggal 2026-08-13.
- ↑ [email protected], Cyprianus Anto Saptowalyono- (2026-07-25). "YLBHI: Stigma "Londo Ireng" Perbesar Ancaman Intimidasi dan Kriminalisasi". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-08-13.