Kamis, 24 September 2026
02:37 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN

Amytis

Amytis (Bahasa Yunani Ámitys, Persia kuno *Umati)[1] merupakan seorang putri Akhemeniyah, putri Raja Ahasyweros I dari Persia dan ratu Amestris, dan saudari Raja Artahsasta I dari Persia. Ia dijodohkan dengan bangsawan Megabyzus. Amytis dan ibundanya digambarkan di dalam catatan Ktesias sebagai wanita paling berkuasa selama pemerintahan Artahsasta.

Sekitar tahun 445 SM, suaminya Megabyzus memulai pemberontakan yang berhasil di Suriah melawan Artahsasta I. Awalnya, Amytis tinggal bersama raja selama perang; tetapi ia kemudian berpartisipasi bersama dengan Amestris dan Satrap Artarius, dalam negosiasi rekonsiliasi di antara pemberontak dan raja. Meskipun demikian, Megabyzus kembali jatuh dalam aib dan diusir dari istana dan diasingkan ke sebuah kota di Teluk Persia. Setelah lima tahun di pengasingan, Megabyzus diampuni dan diizinkan untuk kembali ke istana, lagi-lagi berkat ikut campur Amytis dan Amestris.

Amytis dan Megabyzus memiliki dua orang putra: Zopyrus dan Artyphius. Setelah kematian orangtuanya, Zopyrus melarikan diri ke Athena, di mana menurut Ctesias, ia "diterima dengan baik karena layanan yang diberikan ibundanya kepada orang Athena".[2]

Sumber-sumber Yunani menggambarkan Amytis sebagai wanita yang tidak bermoral. Menurut Ctesias, selama pemerintahan Ahasyweros ia dituduh berzinah oleh Megabyzus. Sejarawan yang sama selanjutnya menegaskan bahwa setelah kematian suaminya, ia memiliki hubungan asmara dengan dokter Yunani Apollonides dari Kos, dan bahwa ketika perselingkuhan itu dipergoki, Apollonides disiksa dan dibunuh oleh Ibu suri Amestris. Dinon, sejarawan Yunani lainnya, menggambarkan Amytis sebagai wanita Asia yang paling cantik dan licik. Tantangan paling sulit dalam menggunakan sejarawan-sejarawan seperti Ctesias atau Dinon sebagai sumber tepercaya adalah kenyataan bahwa mereka cenderung menulis carite menakjubkan yang lebih menarik bagi pembacanya, sering kali tanpa banyak memperhatikan kekakuan historis. Kurangnya sumber primer membuat tidak mungkin untuk memiliki citra Amytis yang akurat.[3]

Referensi klasik

Catatan

  1. Schmitt 1985. Only the Greek form of the name is known; the Persian form is a modern reconstruction, as indicated by the asterisk.
  2. "Photius' excerpt of Ctesias' Persica (2)". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-02-17. Diakses tanggal 2018-01-08.
  3. Sancisi-Weerdenburg 1987. The work of Ctesias and Dinon is an important precursor to the Greek “romance”; one such example of this style is the Alexander Romance.

Bibliografi

  • Brosius, M (1998(: Women in Ancient Persia, 559-331 BC, Clarendon Press, Oxford.
  • Lendering, J: "Megabyzus (2)Diarsipkan 2013-08-13 di Wayback Machine.", at http://www.livius.org
  • Sancisi-Weerdenburg, H (1987): "Decadence in the empire or decadence in the sources. From source to synthesis: Ctesias", in H. Sancisi-Weerdenburg (ed.), Achaemenid History I: Sources, Structures and Synthesis. Proceedings of the Groningen 1983 Achaemenid History Workshop.
  • Schmitt, R (1985): "Amytis", in Encyclopædia Iranica vol. I.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan