Minggu, 27 September 2026
06:32 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Al-Farazdaq

penyair

Hammam bin Ghalib at-Tamimi (bahasa Arab:همام بن غالب التميمي),[1] biasa dikenal dengan nama Al-Farazdaq (الفرزدق), adalah seorang penyair Arab pada masa Kekhalifahan Umayyah.[2]

Nasab

Al-Farazdaq lahir di Bashrah pada tahun 641 selama kekhalifahan Umar bin Khattab.[2] Nama lengkapnya adalah Hammam bin Ghalib bin Sha'sha'ah bin Najiyah at-Tamimi.[1] Ia berasal dari suku Bani Tamim.[3] Ayahnya, Ghalib bin Sha'sha'ah, merupakan salah satu orang dermawan dari Bani Tamim,[4] sementara kakeknya, Sha'sha'ah bin Najiyah, adalah seorang sahabat Muhammad yang dikenal sebagai penebus anak-anak perempuan yang mau dibunuh pada masa jahiliyah.[3][5]

Keahlian

Divan de Férazdak; (IA divandeferazdak00fara), title page
Diwan Al-Farazdaq diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis yang berasal dari tahun 1870. Dari koleksi Perpustakaan Kongres.

Al-Farazdaq telah memiliki bakat penyair sejak remaja. Di antara gubahan syairnya adalah tentang satir politik. Al-Farazdaq juga sempat datang ke Damaskus dan menjadi penyair Khalifah Abdul Malik, al-Walid, Sulaiman dan Yazid.[2][6]

Salah satu gubahan puisinya yang terkenal sebagai berikut:[1]

Aku takut sesuatu setelah kubur jika Tuhan tak mengampuni
Lebih berat dan lebih sempit dari kubur
Ketika aku digiring malaikat ke padang Mahsyar
Yang bengis, dan malaikat yang menggiring Farazdaq
Sungguh rugi anak Adam yang berjalan
Ke neraka, terbelenggu rantai
Digiring, berpakaian cairan aspal
Dalam keadaan compang-camping
Saat minum cairan nanah, kau melihat mereka
Meleleh terbakar, akibat panas neraka Jahim

Pemenjaraan

Al-Farazdaq merupakan salah seorang penyair yang berhubungan dekat dengan Hisyam bin Abdul Malik sejak Hisyam masih berstatus sebagai putra mahkota bagi Kekhalifahan Umayyah. Ketika ia ikut serta dalam perjalanan Hisyam bin Abdul Malik dan para pejabatnya dari Damaskus untuk melaksanakan haji di Makkah. Di Kakbah, rombongan Hisyam bin Abdul Malik melihat Ali bin Husain yang merupakan saingan politik Hisyam bin Abdul Malik sedang mencium Hajar Aswad. Al-Farazdaq kemudian membacakan sebuah puisi pujian bagi Ali bin Husain yang membuat Hisyam bin Abdul Malik marah dan memecatnya dari jabatan penyair istana. Ia kemudian dipenjarakan di sebuah perkampungan antara Makkah dan Madinah yang bernama Usfan. Selama masa pemenjaraan, Al-Farazdaq terus-menerus membuat dan membacakan puisi yang menyindir Hisyam bin Abdul Malik.[7]

Kematian

Al-Farazdaq meninggal di Bashrah pada tahun 728.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 Kematian Itu Nasihat (Bukel). hlm. 35–36.
  2. 1 2 3 4 Ahmad Rofi Usmani (10 Januari 2022). Ensiklopedia Tokoh Muslim (Sampul keras). Mizan Publishing. ISBN 9786024412647, 6024412649.
  3. 1 2 Dr. Abdurrasul Ghiffari (April 2016). Jagat Wanita: Tinjauan Kedudukannya dalam Islam (Bukel). Nur alhuda. hlm. 72–73.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Khairuddin Az-Zirikli. Al-A'lam Az-Zirikli – Ghalib bin Sha'sha'ah (dalam bahasa Arab). Vol. 5. hlm. 114. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-02-10. Diakses tanggal 2025-08-12.{{cite book}}: |website= diabaikan
  5. ↑ Yoli Hemdi (19 Februari 2021). Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW.: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-QurÕan (Bukel). Gramedia Pustaka Utama. hlm. 59. ISBN 9786020651095, 6020651096.
  6. ↑ Bobbi Aidi Rahman (2018). Relasi antara Puisi dan Politik. Penerbit Samudra Biru bekerjasama dengan IAIN Bengkulu Press. hlm. 124. ISBN 9786025960468, 6025960461.
  7. ↑ Ahmad Rofi', Usmani (Oktober 2016). Dawami, I., dan Intan, N. (ed.). Islamic Golden Stories: Tanggung Jawab Pemimpin Muslim. Sleman: Penerbit Bunyan. hlm. 10–12. ISBN 978-602-291-266-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-06-13. Diakses tanggal 2026-07-05.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan