Sabtu, 17 Oktober 2026
14:57 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Agama Hawaii

Bagikan:

Agama Hawaii meliputi praktik religius dan kepercayaan penduduk asli Hawaii. Agama Hawaii berasal dari agama orang Tahiti dan penduduk Kepulauan Pasifik lainnya yang mendarat di kepulauan Hawaii antara tahun 500 hingga 1300 Masehi.[1] Saat ini, praktik keagamaan Hawaii dilindungi oleh American Indian Religious Freedom Act (Undang-Undang Kebebasan Beragama Penduduk Asli Amerika).[2]

Agama Hawaii bersifat politeistik karena memercayai banyak dewa, dan juga animistik karena berlandaskan pada kepercayaan bahwa benda-benda yang bukan manusia juga punya roh seperti hewan dan langit.

Kepercayaan

Dewa-dewi

Empat dewa terpenting dalam kepercayaan Hawaii yang politeistik adalah Kāne, Kū, Lono, dan Kanaloa. Dewa-dewi penting lainnya adalah Laka, Kihawahine, Haumea, Papahānaumoku, dan Pele. Selain itu, setiap keluarga dianggap memiliki satu pelindung keluarga (atau lebih) yang disebut ʻaumakua.

Secara umum dewa-dewi Hawaii dapat dikelompokan sebagai berikut:[3]

  • Empat dewa (ka hā) – Kū, Kāne, Lono, Kanaloa
  • Empat puluh dewa laki-laki Kāne (ke kanahā)
  • Empat ratus dewa dan dewi (ka lau)
  • Banyak sekali dewa dan dewi (ke kini akua)
  • Roh (na ʻunihipili)
  • Pelindung (na ʻaumākua)

Pengelompokan lain meliputi:[4]

  • Empat dewa atau akua: Kū, Kāne, Lono, Kanaloa
  • Dewa-dewa lain yang lebih rendah atau kupua, masing-masing dikaitkan dengan profesi tertentu
  • Dewa keluarga, ʻaumakua

Kahuna dan Kapu

Kahuna adalah tokoh yang menjadi perantara dengan para dewa. Kahuna juga berperan sebagai penyembuh, dan berbincang dengan para dewa mengenai cara terbaik untuk menyembuhkan pasien.

Sementara itu, kapu adlah serangkaian tabu yang membedakan mereka yang murni secara spiritual. Tabu ini diduga berasal dari Pāʻao, pemuka agama atau kepala suku dari Tahiti yang tiba di Hawaii sekitar tahun 1200.[5] Larangan-larangan dalam kapu meliputi:

  • Pemisahan laki-laki dan perempuan saat waktu makan ('ʻaikapu)
  • Pembatasan dalam pengumpulan dan persiapan makanan
  • Pemisahan perempuan dari masyarakat saat sedang menstruasi
  • Larangan melihat, menyentuh, atau mendekati kepala suku dan orang yang punya kekuatan spiritual
  • Larangan menangkap ikan secara berlebihan

Bila melanggar kapu, hukuman mati dapat diterapkan. Namun, bila pelanggar melarikan diri ke Pu'uhonua, kota pengungsi, mereka dapat diselamatkan.<ref

Sistem kapu dihapuskan oleh Raja Kamehameha II melalui undang-undang ʻai noa pada tahun 1819.

Catatan kaki

  1. ↑ Carroll, Bret (2000). The Routledge historical atlas of religion in America. Routledge. hlm. 18–19. ISBN 0-415-92131-7.
  2. ↑ Cornell.edu. "AIRFA act 1978". Diakses tanggal Juli 9, 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Gutmanis, June (1983). Na Pule Kahiko: Ancient Hawaiian Prayers. Editions Limited. hlm. 4–14. ISBN 0-9607938-6-0.
  4. ↑ Kauka, Jay. Religious Beliefs and Practices.
  5. ↑ Pukui, Nana i ke Kumu: Look to the Source, Vol. II, 1972, hal. 296

Bacaan lanjut

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan