Minggu, 01 November 2026
22:52 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Adrian Zenz

Adrian Zenz

Bagikan:
Adrian Zenz
250px-Adrian_Zenz_VOA_2020-02-19.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir1974 (umur 51–52)
AlmamaterUniversitas Auckland
Universitas Cambridge
Dikenal karenaRiset tentang kamp re-edukasi Xinjiang
Karier ilmiah
BidangAntropologi
Tempat kerjaAkademie für Weltmission [de]
Victims of Communism Memorial Foundation

Adrian Zenz (kelahiran 1974)[1] adalah seorang antropolog Jerman yang dikenal karena mengkaji kamp re-edukasi Xinjiang. Ia adalah penceramah metodologi riset sosial di institusi teologi Evangelikal Akademie für Weltmission [de][2][3] dan anggota senior dalam kajian Tiongkok di Victims of Communism Memorial Foundation.[3][4]

Referensi

  1. ↑ 'Tibetanness' Under Threat?
  2. ↑ Tiezzi, Shannon (1 Desember 2018). "Adrian Zenz on China's Xinjiang Re-Education Campaign". The Diplomat. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Januari 2020. Diakses tanggal 14 Januari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Adrian Zenz". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juni 2020. Diakses tanggal 1 Juli 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Editorial Board (16 Desember 2019). "China appears to add a sickening new dimension to its treatment of Uighurs". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Januari 2020. Diakses tanggal 14 Januari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar


Flag of JermanBiography icon

Artikel bertopik biografi Jerman ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan