Putra mahkota atau putri mahkota pada perempuan adalah calon pewaris tahta pada suatu monarki. Di Eropa, konvensi suksesi garis keturunan biasanya menyatakan bahwa anak tertua (seperti di Swedia, Belgia, Norwegia, Denmark, dan Belanda) atau anak laki-laki tertua (Britania Raya, Spanyol, Jerman,dll) dari monarki saat ini akan mendapatkan gelar ini. Dalam monarki lain, Arab sebagai contoh, aturan suksesi dapat berbeda dan kedudukan ini dapat diberikan karena jasa-jasa seseorang, atau karena orang tersebut tidak dipandang sebagai ancaman terhadap rezim monarki yang sedang berkuasa.
Putera mahkota di dunia
Gelar substantif
Banyak monarki di dunia menggunakan gelar substantif untuk ahli waris utama mereka, kadang berkonteks dari asal muasa keluarga:
- Bey Al Mahalla (Kerajaan Tunisia)
- Pangeran Sa'id (Kerajaan Mesir)
- Dauphin de France (Kerajaan Prancis)
- Adipati Brabant (Belgia)
- Adipati Braganza (Kerajaan Portugal)
- Adipati Cornwall (Kerajaan Inggris), sekarang salah satu gelar substantif terhadap Pangeran Wales
- Adipati Rothesay (Kerajaan Skotlandia), sekarang salah satu gelar yang digunakan oleh Pangeran Wales saat ia berada di Skotlandia
- Earl Carrick (Kerajaan Skotlandia), sekarang salah satu gelar yang digunakan oleh Pangeran Wales saat ia berada di Skotlandia
- Pangeran Agung Toscana (Keharyapatihan Toscana)
- Pangeran Asturia (Spanyol)
- Pangeran Girona (Mahkota Aragon dan Spanyol)
- Pangeran Kekaisaran atau Pangeran Napoleon (Kekaisaran Prancis)
- Pangeran Turnovo (Kerajaan Bulgaria)
- Pangeran Viana (Kerajaan Navarra & Spanyol)
- Rex Iunior (Kerajaan Hungaria)
- Tsesarevich (Rusia)
- Królewicz (Polandia)
Beberapa monarki telah menggunakan (meskipun tidak selalu secara de jure) gelar teritorial untuk pewaris takhta yang, meskipun sering dianggap sebagai gelar putra mahkota, tidak secara otomatis bersifat turun-temurun. Gelar ini umumnya memerlukan penganugerahan khusus oleh penguasa, yang dapat ditahan.
Gelar saat ini dan sebelumnya dalam kategori ini meliputi:
- Adipati Skania (Swedia di bawah Raja Magnus Eriksson)
- Pangeran Brasil (Kerajaan Portugal dari 1645 sampai 1815)
- Voivode Agung Alba Iulia (1939-1940, Kerajaan Rumania)
- Pangeran Dipati Anom (Wangsa Mataram)
Gelar Putra Mahkota Di Wilayah Asia Timur
Asia Timur
Kata serumpun untuk putra mahkota berasal dari gelar Taizi (太子) yang secara harfiah berarti Putra Agung. Jika ia ditunjuk oleh ayahnya, maka ia disebut sebagai Huang Taizi (皇太子, Putra Agung Kekaisaran). Jika yang menunjuknya merupakan kakeknya, maka posisi tersebut menjadi Huang Taisun (皇太孫, Cucu Agung Kekaisaran).
| Jika putra mahkota merupakan: | putra | cucu |
|---|---|---|
| Tiongkok | Huang Taizi | Huang Taisun |
| Jepang | Kōtaishi | Kōtaison |
| Korea | Hwangtaeja (황태자) | Hwangtaeson (황태손) |
| Vietnam | Hoàng Thái Tử | Hoàng Thái Tôn |
Putra mahkota kadang disebut sebagai Dong-gong (東宮, Istana Timur) karena istana kediaman putra mahkota terletak di bagian timur istana utama. Jika putra tersebut merupakan putra mahkota seorang pangeran atau raja, maka ia disebut sebagai Shizi (世子). Penunjukkan putra mahkota tidak harus merupakan putra tertuanya. Kadang kaisar akan menunjuk putra mudanya atau putra favoritnya untuk menduduki posisi ini.
Gelar Putera mahkota pada kerajaan-kerajaan di Jawa
Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, terdapat beberapa jenis gelar yang kedudukannya setara dengan putra mahkota. Gelar-gelar tersebut antara lain:
Rakryan Mahamantri
Gelar ini lazim dipakai pada zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai zaman Kerajaan Kadiri. Rakryan Mahamantri terdiri atas tiga jabatan, yaitu Mahamantri i Hino, Mahamantri i Halu, dan Mahamantri i Sirikan. Biasanya mahamantri i hino dijabat oleh putra sulung raja. Jika pejabatnya meninggal, maka putra kedua yang semula menjabat mahamantri i halu menggantikan posisinya.
Pada zaman ini jabatan mahamantri i hino sering juga disebut mapatih hino. Sedangkan jabatan perdana menteri saat itu setara dengan rakryan kanuruhan.
Sebagai contoh ialah, pada masa pemerintahan Airlangga, jabatan mahamantri i hino dipegang oleh putrinya, yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi, sedangkan jabatan perdana menteri dipegang oleh Rakryan Kanuruhan Mpu Narottama.
Yuwaraja
Yuwaraja artinya raja muda. Gelar ini lazim dipakai pada zaman Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Majapahit. Pada zaman ini jabatan Rakryan Mahamantri hanya menjadi gelar kehormatan saja, yang dijabat oleh kerabat raja.
Misalnya, pada pemerintahan Raden Wijaya, yang menjabat sebagai yuwaraja atau calon raja adalah Jayanagara, sedangkan yang menjabat mahamantri hino adalah Dyah Pamasi.
Adipati Anom
Adipati Anom artinya juga raja muda. Gelar ini lazim dipakai zaman Kesultanan Mataram dan sesudahnya. Lembaga Putra Mahkota sering juga disebut Pare Anom (sedangkan lembaga raja yang berkuasa disebut Pare Sepuh).
Putra Mahkota berada di urutan pertama dalam garis suksesi dan dipastikan menggantikan raja atau ratu yang sedang berkuasa.
Kedudukan Putra Mahkota adalah Satu Tingkat Dibawah Raja.
Misalnya, pada masa pemerintahan Amangkurat I, yang menjabat Adipati Anom adalah Raden Mas Rahmat, yang kemudian naik takhta menjadi Amangkurat II.
Setelah Perjanjian Giyanti, gelar ini kemudian dilestarikan oleh kedua pecahan Mataram yang berbentuk monarki kerajaan, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Gelar lengkap putra mahkota (Jawa Mataram) adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram[1].
Gelar Putera mahkota pada kerajaan di Kalimantan
Ratu Anom / Pangeran Ratu
Ratu Anom secara harfiah bermakna raja yang muda adalah gelar putra mahkota yang pernah dipakai di kesultanan Banjar. Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah pernah memakai gelar ini, karena saat itu yang menjadi Wali Sultan adalah pamannya Sultan Tamjidullah I yang sebenarnya hanyalah Penjabat Sultan. Kemudian Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah berhasil memaksa pamannya menyerahkan takhta. Sultan Tamjidullah kemudian tidak lagi memakai gelar Sultan, tetapi hanya memakai gelar Panembahan. Dalama perkembangannya selanjutnya Ratu Anom dipakai sebagai gelar bagi mangkubumi misalnya Ratoe Anom Ismail (sebelumnya Pangeran Ismail) dan Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana (sebelumnya Pangeran Noh).
Sultan Muda
Sultan Muda atau Pangeran Sultan Muda gelar resmi bagi putra mahkota di sebuah kesultanan dan biasanya dilaksanakan pelantikan secara resmi karena kedudukannya yang sudah dipastikan sebagai pengganti sah seorang Sultan. Sultan Muda berasal dari gabungan dua istilah yaitu Sultan (bahasa Arab) dan Muda (bahasa Sanskerta), jadi di Tanah Arab digunakan istilah lain.
Di Kesultanan Banjar tempo dulu gelar ini pernah disandang oleh Sultan Muda Abdul Rahman (anak Sultan Adam), walaupun yang bersangkutan akhirnya tidak sempat menjadi Sultan karena meninggal dunia (pada 5 Maret 1852). Sebelum menyandang gelar Sultan Muda, Pangeran Abdurrahman menggunakan gelar Pangeran Ratu (artinya Putera Mahkota), yang berarti gelar Sultan Muda lebih tinggi levelnya dari gelar Pangeran Ratu.[2]
Gelar Sultan Muda ini juga masih dipakai di beberapa kesultanan seperti Brunei dan Perak, Malaysia.
Lihat pula
Catatan kaki
- ↑ "solo5". www.royalark.net. Diakses tanggal 2026-09-27.
- ↑ (Belanda) (1861)Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Vol. 23. Ter Lands-drukkerij. hlm. 70.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |