Selasa, 27 Oktober 2026
05:17 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Abdullah al-Qasemi

Abdullah al-Qasemi

Bagikan:
Abdullah al-Qasemi
250px-Abdullah_Al-Qassimi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir1907 (1907)
Meninggal9 Januari 1996(1996-01-09) (umur 88–89)
Karier kepenulisan
GenreSkeptisisme
Karya terkenalThey Lie to See God Beautiful[1]

Abdullah Al-Qasemi (1907 – 9 Januari 1996) (bahasa Arab:عبدالله القصيمي) adalah seorang penulis dan intelektual abad ke-20 asal Arab Saudi. Ia adalah salah satu intelektual paling kontroversial di dunia Arab karena perubahan radikalnya dari membela Salafisme menjadi membela ateisme dan menolak agama terorganisasi. Ia mempertanyakan keberadaan Tuhan dan mengkritik agama, yang menyebabkan tuduhan bahwa ia menjadi ateis, sehingga buku-bukunya dicekal di seluruh belahan dunia Arab.[2]

Sejarah

Perjalanan hidup Abdullah Al Qasemi bermula pada 1907 di Buraydah, Arab Saudi. Sejak lahir, dia selalu diberi nilai-nilai pendidikan agama Islam. Sang Ayah diketahui sangat rutin memberi pelajaran Islam ke Qasemi sejak masih dini. Qasemi pun tak kuasa menolak dan hanya bisa manut karena masih kecil.[3] Dia pernah mengenyam pendidikan di sekolah Syeikh Ali Mahmoud. Setelah ayahnya meninggal pada 1922, seorang pedagang bernama Abdulaziz Al-Rashed Al-Humaid yang terkesan dengan Al-Qasemi membawanya ke Irak untuk belajar. Dia pun akhirnya masuk ke sekolah Syeikh Amin Shanqeeti, Zubair, Irak.[4]

Setelah itu, dia melakukan perjalanan ke India dan menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk belajar di sana. Dia belajar bahasa Arab, hadits, dan dasar syariah Islam. Kemudian, dia kembali ke Irak dan masuk ke sekolah al-Kazimiyah sebelum akhirnya memutuskan tinggal di Kairo.[4]

Di Kairo, Al-Qasimi belajar di Universitas Al-Azhar pada tahun 1927. Selama menjadi mahasiswa di Mesir, dia menulis berbagai buku. Salah satu tulisannya yang cukup populer adalah buku berjudul ‘As-Shira Baini al-Islam wa al-Watsaniyyah’ yang berarti Peperangan antara Islam dan Pemuja Berhala.[4]

Buku tersebut mendapat banyak pujian, salah satunya dari guru Al-Qasimi sendiri, yaitu Syekh Shali Munajid yang mengatakan bahwa Al-Qasimi dengan bukunya tersebut sudah membayar mahar untuk masuk surga.[4]

Namun, selain itu dia juga menulis beberapa buku kontroversial yang menyinggung para ulama di Al-Azhar.[4] Ia membela gerakan Salafi. Pembelaan ini dituangkan dalam berbagai karya dan orasi ilmiah. Dukungan Qasemi terhadap Salafi membuat pihak kampus geram. Alhasil, pada 1931 dia dikeluarkan dari Al-Azhar. [3] Setelah kejadian itu, Al Qasimi mengubah cara pandangnya.[4]

Setelah tak lagi jadi mahasiswa, pemikiran Qasemi seketika berubah. Dari semula anak religius berkat orang tua, pendukung Salafi, kemudian beralih jadi orang yang meninggalkan kewajiban agama Islam. Puncaknya, dia memantapkan diri sebagai ateis atau tidak mengakui adanya Tuhan.[3]

Keputusan menjadi ateis ini membuat heran banyak orang. Apalagi, dibarengi juga oleh terbitnya karya-karya baru. Salah satu yang kontroversial adalah The Lie to See God Beautiful (Mereka Berbohong untuk Melihat Tuhan yang Indah). Lewat buku itu, dia mempertanyakan rasionalitas dan dogma agama yang selama ini dianut masyarakat. Dia mengubah pandangannya sampai dicap sebagai atheis. Transformasi dari pendukung salafisme menjadi atheis yang mengadopsi ideologi dan pemikiran bebas (liberal), membuatnya banyak dihujat oleh orang lain.[4]

Percobaan pembunuhan

Al Qasimi tercatat dua kali selamat dari upaya pembunuhan di Mesir dan Lebanon. Bahkan, dia sempat mendekam di penjara atas dorongan pemerintah Yaman. Alasannya adalah karena dia memiliki pengaruh besar terhadap siswa Yaman sering bertemu dengannya. Pemikirannya tersebut dianggap berbahaya dan tidak cocok untuk Islam.[4]

Filosofi di akhir hayat

Beberapa orang mengatakan bahwa Al-Qassimi telah kembali ke Islam di akhir hidupnya, dan mengabdikan dirinya untuk membaca Al-Qur'an. Temannya Ibrahim Abdel Rahman membenarkan dalam sebuah wawancara dengan Al-Arabiya.net bahwa dia sedang membaca Al-Qur'an. an di akhir hayatnya pada tanggal 1 Oktober 2016 M,[5] tetapi ia membenarkan dalam sebuah wawancara. Ia kemudian mengungkapkan dalam acara pada tahun 2022 bahwa Al-Qassimi tidak pernah rujuk dari pemikirannya sebelum kematiannya.[6] Atas dasar ini, Qasemi jadi hujatan banyak orang dan musuh masyarakat. Perlahan, Buku-buku dan karya lainnya yang mengkritik agama dilarang banyak negara Timur Tengah. Banyak juga pihak yang memintanya dihukum mati karena upayanya itu. Bahkan, masih mengutip Al Arabiya, pada 1954 pemerintah Mesir memberlakukan "persona non grata" atau pengusiran kepada Qasemi imbas pemikirannya meluas. Pemerintah tak ingin ada Qasemi lain bermunculan.[3]

Kematian

Di akhir hidupnya, Abdullah Al-Qasimi sempat dirawat di Rumah Sakit Ain-Shams, Kairo pada Desember 1995. Dan pada 9 Januari 1996, dia meninggal karena penyakit kanker dan dimakamkan bersama istrinya di Bab al-Wazir, Mesir.[4]

Referensi

  1. ↑ "Gulf atheism in the age of social media - Al-Monitor: the Pulse of the Middle East". Al-Monitor. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Juli 2015. Diakses tanggal 27 Maret 2014.
  2. ↑ "Meet the accused Arab agnostic who went his own way in the 1940s". english.alarabiya.net (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-11-12. Diakses tanggal 2020-11-01.
  3. 1 2 3 4 MFakhriansyah. "Kisah Abdullah Al Qasemi, Tokoh Islam Arab yang Berubah Jadi Ateis". CNBC Indonesia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-08-03. Diakses tanggal 2024-08-03.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Kisah Abdullah Al Qasimi, Ulama Arab Saudi yang Menjadi Atheis di Akhir Hayatnya". SINDOnews Internasional. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-08-03. Diakses tanggal 2024-08-03.
  5. ↑ صديق الكاتب السعودي عبد الله القصيمي يفتح خزائن أسراره- من موقع قناة العربية
  6. ↑ "كاتب مصري يرد على سؤال بشأن إلحاد عبدالله القصيمي.. ويتحدث عن علاقته بالملك فهد والأمير طلال (فيديو)". اخبار 24 (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari asli tanggal 15 فبراير 2022. Diakses tanggal 2022-10-29.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |archive-date=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan