Minggu, 27 September 2026
04:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Yuigahama

Yuigahama

330px-Yuigahama_2025_June_30_various_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemandangan Yuigahama dan sekitarnya, 2025

Yuigahama (由比ヶ浜海浸) adalah sebuah pantai yang terletak di Kamakura, Prefektur Kanagawa, Jepang. Hubungan antara pantai dan daerah sekitarnya cukup kompleks. Meskipun Yuigahama secara hukum mencakup seluruh pantai sepanjang 3,2 km yang membentang dari Inamuragasaki di barat, yang memisahkannya dari Shichirigahama, hingga Tanjung Iijima di timur di Zaimokuza, yang memisahkannya dari Kotsubo dan Semenanjung Miura. Namun, nama tersebut juga sering kali hanya merujuk pada bagian barat Sungai Namerigawa, sedangkan bagian timurnya disebut Zaimokuza (材木座海游).[1] Kawasan Yuigahama saat ini terbagi antara Zaimokuza, Ōmachi, dan Hase.

Terdapat berbagai teori mengenai asal usul nama tersebut. Menurut salah satu teori, nama tersebut berasal dari nama historis Yuigo (由比郷).[1] Nama Yui sendiri kerap ditulis dalam berbagai cara, di antaranya 由井 dan 湯井.[1]

Sejarah

Pada zaman Kamakura, kawasan pantai dan daerah sekitarnya disebut Maehama (前浜).[2] Nama tersebut muncul berulang kali dalam Azuma Kagami yang menyebutkan tempat-tempat dari Hase hingga ke Wakamiya Ōji.[2] Pantai ini dulunya menjadi lokasi latihan berbagai seni bela diri seperti kogasagake (小笠懸) dan yabusame (olahraga berkuda sambil panahan).[3] Pantai ini menjadi lokasi pertempuran pada tahun 1180 melawan Hatakeyama Shigetada, dan pada tahun 1333 antara Nitta Yoshisada melawan pasukan klan Hōjō. Terakhir kali pantai ini menjadi arena pertempuran adalah pada tahun 1416 selama pemberontakan Uesugi Zenshū.[3] Tulang manusia dari era tersebut masih kerap ditemukan saat penggalian. Di pantai inilah Nichiren, pendiri sekte Buddha Nichiren, dinaikkan ke kapal untuk dibawa ke Katase dan hendak dieksekusi.[3]

Pantai ini dianggap sebagai tempat suci bagi klan Minamoto di mana sebelum mengunjungi kuil-kuil di Izu atau Hakone, shogun selalu menyucikan diri di sini.[3]

Wakaejima

500px-Wakaejima-panoramic-view.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pulau Wakae terlihat akibat air laut yang sedang surut

Pada masa Keshogunan Kamakura, Teluk Sagami ramai dengan kapal dagang, tetapi kedalamannya yang dangkal membuat penggunaan tongkang menjadi sangat diperlukan. Selain itu, kecelakaan antar kapal sering terjadi dan oleh karena itu diputuskanlah untuk membangun pelabuhan. Seorang pendeta bernama Oamidabutsu (往阿弥陀仏) mengajukan izin kepada keshogunan untuk membangun pulau buatan Wakaejima (和賀江島) di daerah tersebut, dan izin diberikan pada tahun 1232.[4] Sebagian besar kayu yang digunakan untuk membangun kuil-kuil terbaik di Kamakura dilabuhkan di Wakaejima.

Pada bentuk awalnya, pelabuhan ini berfungsi sebagai pemecah gelombang dan dermaga, dan dibangun dengan batu-batu besar yang diletakkan sebagai fondasi, dengan batu-batu yang lebih kecil di atasnya. Kemudian, diperluas secara bertahap dan diperbaiki beberapa kali hingga akhir zaman Edo, ketika akhirnya ditinggalkan.[4]

Referensi

  1. 1 2 3 Kamakura's Official Textbook for Culture and Tourism (2008:33)
  2. 1 2 Nihon Rekishi Chimei Taikei, "Maehama"
  3. 1 2 3 4 Kusumoto (2002:48–49)
  4. 1 2 Nihon Rekishi Chimei Taikei, "Wakaejma"

Bacaan lebih lanjut

35°18′30.30″N 139°32′44.01″E / 35.3084167°N 139.5455583°E / 35.3084167; 139.5455583

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan