Minggu, 08 November 2026
17:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Yaodong

Yaodong

Bagikan:
330px-Cave_Dwelling_-_Courtyard.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah gua yaodong dengan halaman tengah yang digali ke bawah permukaan tanah di Luoyang, Henan, Tiongkok.

Yaodong (Hanzi:窑洞; Hanzi:yáodòng) adalah jenis rumah tradisional Tiongkok yang dibangun menggunakan tanah sebagai bagian utama dari struktur bangunannya. Hunian ini banyak ditemukan di wilayah Dataran Tinggi Loess, Tiongkok bagian utara, terutama di wilayah Shaanxi, Shanxi, dan sekitarnya. Yaodong dapat dibuat dengan menggali lereng bukit, membentuk ruang di bawah permukaan tanah, ataupun membangun struktur beratap lengkung di atas permukaan tanah menggunakan batu bata atau batu.[1]

Bangunan yaodong merupakan salah satu contoh arsitektur vernakular yang berkembang sebagai bentuk penyesuaian masyarakat terhadap kondisi geografis dan iklim setempat. Dengan memanfaatkan lapisan tanah yang tebal, hunian ini dapat mengurangi perubahan suhu di dalam ruangan dibandingkan lingkungan luar. Prinsip tersebut menjadikan yaodong salah satu objek kajian dalam penelitian mengenai arsitektur hemat energi dan desain bangunan yang menyesuaikan diri dengan iklim.[2][3]

Sejarah

Tradisi hunian gua di wilayah Dataran Tinggi Loess berkembang melalui pemanfaatan kondisi tanah yang relatif mudah digali dan dibentuk. Permukiman yaodong kemudian menjadi salah satu ciri lingkungan pedesaan di kawasan tersebut. Perkembangan bentuk huniannya berlangsung secara bertahap, menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga, ketersediaan lahan, serta perubahan bahan dan teknik konstruksi.[1]

Salah satu wilayah yang memperlihatkan perkembangan tersebut adalah Kota Tua Mizhi di bagian utara Dataran Tinggi Loess. Penelitian Mengying Wang dan rekan-rekannya pada 2020 menemukan bahwa sejumlah yaodong di kawasan tersebut berasal dari masa Dinasti Qing hingga periode Republik Tiongkok. Bangunan-bangunan itu memperlihatkan perkembangan dari hunian yang digali pada lereng bukit menjadi bangunan berdiri sendiri dengan struktur batu bata.[1]

Perubahan sistem sosial dan perekonomian turut memengaruhi bentuk serta fungsi yaodong. Di beberapa kawasan, hunian yang semula memanfaatkan lereng tanah mengalami penambahan bangunan baru atau penggantian bahan konstruksi. Penelitian mengenai Kota Tua Mizhi menunjukkan bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan perkembangan lingkungan permukiman dan kebutuhan penghuni dari masa ke masa.[1]

Jenis dan karakteristik

Berdasarkan lokasi dan metode pembangunannya, yaodong secara umum dibagi menjadi tiga jenis, yaitu yaodong pada lereng bukit, yaodong dengan halaman bawah tanah, dan yaodong yang dibangun secara mandiri di atas permukaan tanah. Ketiga bentuk tersebut memiliki karakteristik ruang dan metode konstruksi yang berbeda.[1]

Yaodong pada lereng bukit

250px-Cave_houses_shanxi_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah gua tradisional pada lereng tanah di Kabupaten Lingshi, Shanxi.

Yaodong pada lereng bukit dibuat dengan menggali lapisan tanah pada sisi bukit atau tebing. Penggalian menghasilkan ruang memanjang dengan langit-langit berbentuk lengkungan. Bagian depan bangunan diberi pintu dan jendela, sementara bagian belakang dan sampingnya terlindungi oleh lapisan tanah.[1]

Bentuk ini banyak ditemukan pada wilayah dengan lereng tanah yang memungkinkan penggalian secara horizontal. Konstruksi yang menyatu dengan bukit mengurangi luas permukaan bangunan yang langsung terpapar udara luar. Kondisi tersebut turut memengaruhi suhu di dalam ruangan dan menjadi salah satu pertimbangan dalam kajian kinerja termal hunian yaodong.[3]

Yaodong dengan halaman bawah tanah

Jenis yaodong lainnya dikenal sebagai dikeng yaodong, yaitu hunian yang dibangun melalui penggalian halaman berbentuk cekungan di bawah permukaan tanah. Setelah halaman terbentuk, ruang-ruang tempat tinggal digali secara horizontal pada dinding tanah yang mengelilinginya. Halaman terbuka tersebut menjadi pusat penghubung berbagai ruangan dalam satu kelompok hunian.[4]

Rancangan ini memiliki kesamaan fungsi dengan rumah berhalaman tengah dalam arsitektur tradisional Tiongkok. Perbedaannya terletak pada posisi halaman dan ruang hunian yang berada lebih rendah daripada tanah di sekitarnya. Bagian halaman tetap terbuka sehingga memungkinkan masuknya cahaya matahari dan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan rumah tangga.[4]

Penelitian terhadap Desa Yaodi di Kota Sanmenxia, Provinsi Henan, menunjukkan bahwa yaodong dengan halaman bawah tanah mengalami perubahan tata ruang akibat kebutuhan penghuni. Penelitian tersebut menelaah 61 unit hunian untuk mengetahui perubahan susunan ruang dan hubungan antara bagian yang digunakan secara bersama maupun secara pribadi.[4]

Yaodong berdiri sendiri

Yaodong berdiri sendiri dibangun di atas permukaan tanah tanpa harus menggali lereng bukit atau membuat halaman bawah tanah. Bangunan jenis ini menggunakan bahan seperti batu atau batu bata sebagai struktur utamanya. Bentuk ruang beratap lengkung tetap dipertahankan sebagai salah satu ciri arsitekturnya.[1]

Jenis ini memperlihatkan penyesuaian konsep bangunan yaodong terhadap perkembangan teknologi konstruksi. Penelitian tentang hunian di Yulin menunjukkan bahwa bentuk bangunan berdiri sendiri dan yaodong pada lereng bukit memiliki karakteristik termal yang berbeda, antara lain karena perbedaan bahan bangunan, orientasi, serta hubungan ruang dalam dengan lingkungan luar.[3]

Bahan dan teknik konstruksi

Bahan utama yang digunakan untuk membangun yaodong tradisional berkaitan dengan keberadaan tanah loess. Lapisan tanah tersebut memungkinkan pembentukan ruang dengan cara penggalian, terutama pada kawasan lereng yang sesuai. Pada jenis yang dibangun di atas tanah, batu dan batu bata digunakan untuk membentuk struktur bangunan dengan bagian atap melengkung.[1]

Bukaan pada bagian depan rumah berfungsi sebagai akses masuk sekaligus jalur pencahayaan alami. Orientasi bangunan, ukuran bukaan, dan perbandingan dimensi ruang mempunyai pengaruh terhadap kondisi termal hunian. Penelitian pada 2024 mengidentifikasi bahwa unsur-unsur tersebut berperan dalam menentukan kemampuan yaodong mempertahankan suhu ruang selama musim dingin.[3]

Kondisi termal dan lingkungan

Keberadaan lapisan tanah di sekeliling sebagian besar ruang menjadi karakteristik penting yaodong. Tanah memiliki kemampuan menyimpan panas dan memperlambat perubahan suhu yang masuk ke dalam bangunan. Karena itu, suhu ruangan di dalam yaodong dapat lebih stabil dibandingkan perubahan suhu udara di luar rumah.[2]

Penelitian yang dilakukan Nan Zhou dan rekan-rekannya pada Agustus 1999 di Desa Zaoyuan, Kota Yan'an, menunjukkan bahwa yaodong memiliki kondisi termal yang baik pada musim panas. Penelitian tersebut menilai kemampuan hunian tradisional dalam menyediakan lingkungan dalam ruangan melalui pemanfaatan rancangan bangunan yang menyesuaikan diri dengan alam.[2]

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Energy Reports pada 2024 mengkaji pengaruh bentuk bangunan, orientasi, jendela, dan karakteristik dinding terhadap kenyamanan termal yaodong. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penerapan strategi desain pasif dapat meningkatkan kondisi termal ruangan dalam iklim dingin. Meskipun demikian, hasilnya berbeda menurut jenis bangunan dan karakteristik konstruksinya.[3]

Kehidupan masyarakat

Yaodong tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung, tetapi juga menjadi bagian dari tata ruang kehidupan keluarga dan permukiman. Pada jenis yang memiliki halaman bawah tanah, ruang-ruang tempat tinggal terhubung melalui halaman bersama. Pembagian tersebut memungkinkan kegiatan penghuni berlangsung pada bagian rumah yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.[4]

Seiring perubahan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan, sejumlah yaodong mengalami penyesuaian fungsi ruang. Penelitian di Desa Yaodi menunjukkan adanya perubahan pada batas antara ruang bersama dan ruang pribadi. Perubahan tersebut mencerminkan perkembangan pola penggunaan ruang serta hubungan antarpenghuni dalam satu kelompok hunian.[4]

Pelestarian dan perkembangan modern

250px-Snowfall_on_Yaodong%2C_Qingjian_County.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Yaodong yang tertutup salju di Kabupaten Qingjian, Provinsi Shaanxi.

Modernisasi permukiman dan perkembangan teknologi konstruksi membawa perubahan terhadap keberadaan yaodong tradisional. Sebagian hunian mengalami perbaikan atau penambahan struktur baru, sementara sebagian lainnya mengalami perubahan penggunaan. Kajian mengenai masa depan yaodong menempatkan pelestarian sebagai persoalan yang berkaitan dengan perubahan kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan permukiman.[5]

Kajian mengenai yaodong dengan halaman bawah tanah di Desa Yaodi menekankan bahwa perubahan bangunan tidak selalu dapat dipandang sebagai hilangnya bentuk tradisional. Penyesuaian yang dilakukan penghuni dapat menjadi bagian dari perkembangan ruang yang berlangsung secara bertahap. Karena itu, pemahaman mengenai fungsi bangunan dan kebutuhan masyarakat juga menjadi pertimbangan dalam pelestariannya.[4]

Di sisi lain, karakteristik yaodong yang memanfaatkan massa termal tanah juga menarik perhatian peneliti arsitektur berkelanjutan. Berbagai kajian meneliti kemungkinan penerapan prinsip konstruksi tradisional tersebut dalam pengembangan bangunan yang lebih hemat energi dan sesuai dengan kondisi iklim setempat.[3][2]

Galeri

  • Rumah gua di Kabupaten Lingshi, Shanxi.
    Rumah gua di Kabupaten Lingshi, Shanxi.
  • Kelompok hunian gua tradisional di Shanxi.
    Kelompok hunian gua tradisional di Shanxi.
  • Yaodong ketika turun salju di Shaanxi.
    Yaodong ketika turun salju di Shaanxi.
  • Rumah gua di Kabupaten Ning, Provinsi Gansu.
    Rumah gua di Kabupaten Ning, Provinsi Gansu.
  • Contoh hunian yaodong yang terdokumentasi pada 2010.
    Contoh hunian yaodong yang terdokumentasi pada 2010.

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Wang, Mengying; Cheng, Zhi; Suehiro, Kaoru (2020). "Research on the Development Process of Yaodong in Mizhi Ancient City, China". Journal of Asian Urban Environment (dalam bahasa Inggris). doi:10.69457/aiue.20200013.
  2. 1 2 3 4 Zhou, Nan; Nishida, Masaru; Kitayama, Hiroki (2002). "Study on the Thermal Environment of the YaoDong Dwelling in the Loess Plateau of China". Journal of Asian Architecture and Building Engineering (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 81–86. doi:10.3130/jaabe.1.81.
  3. 1 2 3 4 5 6 Shi, Jiayi; Zhang, Tao; Bai, Lujian; Fukuda, Hiroatsu; Gao, Weijun (2024). "Comparative analysis on the mechanism of climate responsiveness strategies on indoor thermal performance of Yaodong dwellings in the Loess Plateau region of China". Energy Reports (dalam bahasa Inggris). 11: 4741–4758. doi:10.1016/j.egyr.2024.04.046.
  4. 1 2 3 4 5 6 Li, Yiwen; Wang, Xinpeng; Zhang, Wenda; Furuya, Nobuaki (2025). "The space evolution of pit-type cave dwellings (Dikeng Yaodong): a case study of Yaodi Village, Sanmenxia, China". Journal of Asian Architecture and Building Engineering (dalam bahasa Inggris). doi:10.1080/13467581.2025.2589541.
  5. ↑ Liu, Sunwei; Wang, Yupeng; Kang, Yitong (2019). "Exploration on the Future Development of Chinese Vernacular Architecture: A Case Study of Yaodong Dwellings in Northern Shaanxi". Journal of Asian Urban Environment (dalam bahasa Inggris). doi:10.69457/aiue.20190027.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan