Kamis, 22 Oktober 2026
11:56 WIB
TERKINI
Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal

Wona Kaka

pejuang asal Sumba di Kerajaan Kodi

Bagikan:

Wona Kaka adalah seorang pejuang asal Sumba yang dikenal sebagai pemimpin laskar rakyat Kodi atau panglima perang Kerajaan Kodi ketika pecah perang antara rakyat Kodi dan kolonial Belanda yang sedang menduduki Pulau Sumba. Kini bekas Kerajaan Kodi itu, telah dimekarkan menjadi empat kecamatan yaitu Kodi, Kodi Bangedo, Kodi Utara, dan Kodi Balaghar, di Kabupaten Sumba Barat Daya.[1]

Perjuangan

Perang antara Wona Kaka dan Belanda pecah pada awal abad XX. Meskipun pemerintah militer Belanda sudah lama menduduki Pulau Sumba, tetapi pasukan militer Belanda memasuki wilayah Kerajaan Kodi baru pada 1905. Kedatangan Belanda ini, berkekuatan satu detasemen di bawah pimpinan Kapten Dijckman. Sementara Kerajaan Kodi ketika itu berada di bawah kekuasaan Raja Rato Loghe Kanduyo yang bergelar "Hangandi atau Sangaji".

Sejak itulah, militer Belanda serta merta langsung melaksanakan operasi pendudukan, menaklukan dan menguasai, wilayah Kerajaan Kodi. Selama pendudukan militer Belanda ini, dari 1905 sampai 1910, telah menyebabkan penderitaan baik fisik maupun moril bagi rakyat Kodi. Sehingga melahirkan gerakan perlawanan rakyat Kodi yang direstui oleh Raja Kodi. Kemudian meletuslah perang antara Laskar Rakyat Kodi dan militer Belanda pada 1911.[2]

Ada beberapa faktor pemicu yang menyebabkan pecahnya perang tersebut. Pertama, pemecahan kedaulatan wilayah Kerajaan Kodi secara sewenang-wenang oleh Belanda, hanya dengan suatu Korte Verklaring (pernyataan pendek) menjadi dua bagian wilayah kerajaan (Kodi Bangedo yang mencakup Balaghar dan Kodi Bokolo).

Kedua, pajak yang sangat berat, berupa mata uang, termasuk mata uang emas poundsterling. Uang bagi rakyat Kodi saat itu adalah barang langka, sehingga tidak mampu membayar pajak. Akibatnya mereka disiksa dengan cambuk dan kurungan. Disamping itu, juga harta milik mereka berupa ternak diambil paksa oleh petugas pajak.

Ketiga, kerja paksa (rodi) membuka jalan-jalan baru, membangun jembatan dan rumah kediaman pejabat kolonial Belanda. Untuk membuka jalan raya yang menghubungkan wilayah-wilayah di Kodi dan ke wilayah yang lain, warga perlu menebang pohon, menebas ilalang, menimbun batu dan menggali selokan untuk memberi bentuk jalan raya. Sementara peralatan yang dipakai adalah tugal, pacul, dan cangkul.(Alex Japalatu.2021. Wona Kaka, Perang Melawan Belanda di Kodi 1911-1913. Nafiri Sion Publishing, Jakarta, 2021) Keempat, perbuatan tidak senonoh/pemerkosaan Tila Gheda, istri seorang bangsawan bernama Gheda Tila dari Kampung Bondo Kodi yang dilakukan oleh Kapten Dijkman. (4)

Kematian

Wona Kaka dan anggota pasukannya ini ditangkap dalam perundingan damai di Bondo Kodi oleh Letnan Barenzend pada tahun 1913. Wona Kaka dan kawan-kawannya dibuang ke Nusakambangan dan kemudian dipekerjakan sebagai buruh diperkirakan di Nusakambangan atau pertambangan Ombilin di Sawah Lunto, Sumatera Barat. Penyebab kematian dan kubur Wona Kaka belum diketahui sampai saat ini.(5)

Referensi

3. 3-5 : "Wona Kaka, Perang Melawan Belanda di Kodi 1911-1913" Alex Japalatu. Nafiri Sion Publishing, jakarta

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan