Selasa, 29 September 2026
15:56 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang

Weton

Bagikan:

Weton (bahasa Jawa: ꦮꦼꦠꦺꦴꦤ꧀) adalah sebuah konsep penanggalan dan sistem peramalan tradisional dalam kebudayaan Jawa yang merujuk pada hari kelahiran seseorang berdasarkan persilangan antara siklus pekan tujuh hari (saptawara) dan siklus pekan lima hari (Pancawara atau pasaran).[1] Dalam sistem Kalender Jawa, weton bukan sekadar penunjuk hari lahir, melainkan diyakini membawa karakter, energi kosmis, dan nasib bawaan yang akan memengaruhi perjalanan hidup seseorang.

Etimologi

Secara etimologis, kata weton berasal dari akar kata dalam bahasa Jawa kuno, yaitu wetu atau metu, yang berarti "keluar" atau "lahir".[2] Mendapat akhiran -an, kata ini kemudian berubah menjadi weton, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai "hari peringatan kelahiran".

Komponen Weton dan Neptu

Penghitungan weton berpedoman pada kitab rujukan kuno, seperti Primbon Betaljemur Adammakna.[3] Setiap hari dalam saptawara dan pancawara memiliki nilai numerik yang disebut neptu. Neptu ini adalah dasar dari segala perhitungan ramalan, perjodohan, dan penentuan hari baik.

Berikut adalah nilai neptu dari hari dan pasaran:

  • Saptawara (Hari Tujuh):
    • Ahad / Minggu (5)
    • Senin (4)
    • Selasa (3)
    • Rabu (7)
    • Kamis (8)
    • Jumat (6)
    • Sabtu (9)
  • Pancawara (Hari Pasaran):
    • Legi (5)
    • Pahing (9)
    • Pon (7)
    • Wage (4)
    • Kliwon (8)

Sebagai contoh, jika seseorang lahir pada hari Kamis Legi, maka nilai neptu wetonnya adalah penjumlahan dari nilai Kamis (8) dan Legi (5), yaitu 13.

Perwatakan (Karakter) Menurut Pancawara

  1. Kliwon, Memiliki sifat dasar (Wisa Marta Durjana Tengah) memiliki sifat baik dan buruk yang seimbang di tengah-tengah, hewan peliharaanya adalah anjing dan monyet. Wataknya seperti peliharaanya yaitu suka memanjat, galak, sulit diatur, banyak akalnya, suka berkelana di daratan, suka mengeluh, tidak bisa didekati walau diperlakukan baik. Namun juga memiliki watak seperti anjing yang sangat setia pada pemimpinya. Ia ceroboh/ sembarangan, pikirannya senantiasa mulia/bertekad kuat, cita-citanya besar, dan banyak keselamatan karena banyak doanya. Slametan (Syukuran): Kethèk, artinya jenang mancapat/mancawarna ( Jenang beraneka warna).
  2. Legi, Memiliki sifat dasar (Sumendi), diibaratkan seperti Ratu atau Bupati, hewan peliharaanya adalah Kucing dan Tikus. Wataknya sangat waspada, lihai/penurut, hatinya gembira, tidak punya rasa cemburu. Kesialannya adalah jika diakali oleh orang lain. Namun, setelah diakali, sifat tikusnya akan bangkit ( Sangat Waspada, curigaan). Bisa bergaul dengan orang kaya maupun miskin. Gigitanya cepat mematikan (Kata-katanya tajam), makanannya sedikit. Sering dizalimi orang, bisa bertindak nekat tiba-tiba, juga sangat mengingat perbuatan baik dan buruk orang lain. Besar keberuntungannya, besar juga kesialannya.Slametan (Syukuran): Pitik (Ayam), artinya tukon pasar (Jajanan Pasar) dan segala macam kelengkapannya.
  3. Pahing, Memiliki sifat dasar (Cendhana), hewan peliharaannya Macan (Harimau). Wataknya suka berkelana ke tempat jauh, suka duduk sendiri, tidur sendiri dan jarang makan, kecuali jika ia menjadi peliharaan raja, ia akan punya banyak musuh. Jika didahului maka akan membawa kesialan, tetapi jika mendahului tidak menjadi masalah. Jika memiliki pusaka/senjata akan menjadi berish/terawat. Sering dibohongi/ditipu, barang yang hilang, jarang bisa kembali. Slametan (Syukuran) : Kucing, artinya sega lan iwak ( nasi dan ikan).
  4. Pon, Memiliki sifat dasar (Samahita), arah barat, berwatak seperti nabi. Hewan peliharaannya Wedhus (Kambing). Wataknya seperti kambing, suka dengan keramaian (Wayangan), tempat berkelananya tidak jauh, yang dimakan milik / tanaman sendiri. Sering marah-marah kepada istri dan anaknya. Pikirannya sering terpengaruh kacau oleh orang tua. Watak kambingnya terkadang berani kepada orang yang memeliharanya ; jika ditantang tidak mau dilarang, dalam keadaan berkecukupan. Memiliki watak Nabi : berbudi pekerti baik, nasihatnya dituruti orang lain. Slametan (Syukuran) : Bulus angrem ( Penyu/bulus mengeram), artinya klepon lan srabi.
  5. Wage, Memiliki sifat dasar (Prabuanom) arah utara, berwatak seperti Dhandhang (Burung Gagak). Hewan peliharaannya Sapi. Wataknya penurut, menuruti apa yang diperintahkan. Makanannya harus didoakan, ceroboh. Watak sapi: berdosa/mudah bersalah, jika ditegur kadang mengamuk, jika diserang akan membalas. Sedikit dalam mencari rezeki/makanan, tetapi jika sedang makan sering lupa pada kerabat dan orang tuannya. Pikirannya sering gelap/bingung, mudah kena fitnah, memiliki kedudukan tinggi tapi cenderung angkuh. Slametan (Syukuran) : Bantheng (Banteng), artinya Sego golong ( Nasi Golong).

Fenomena Ramalan Weton ini membuat batas tak terlihat antara  ilmu sains yang telah berkembang dengan “Indigenous Psycology” / Psikologi Leluhur masyarakat Jawa. Dalam aspek Psikologi, disebutkan bahwasanya Fenomena seperti ini adalah Efek barnum dan juga Konfirmasi Bias. Kedua hal tersebut adalah kombinasi dua faktor psikologis yang membuat seseorang itu lebih percaya dan merasa bahwasanya ramalan tersebut sangat menggambarkan dirinya, sesuai denga apa yang telah dikatkan pada ramalan tersebut.[4]

Fungsi Weton dalam Budaya Jawa

Dalam pandangan hidup masyarakat Jawa tradisional, perhitungan weton memiliki peranan yang sangat sentral dalam berbagai aspek kehidupan, antara lain:[5]

  1. Perwatakan (Karakter): Nilai neptu dipercaya mencerminkan watak dasar seseorang. Misalnya, orang dengan neptu tertentu dianggap memiliki sifat seperti air (dingin dan tenang), seperti api (mudah marah), atau seperti bumi (sabar dan mengayomi).
  2. Perjodohan (Salaki Rabi): Sebelum melangsungkan pernikahan adat Jawa, keluarga akan menghitung kecocokan weton kedua calon mempelai. Hasil perhitungan ini menentukan apakah pasangan tersebut diprediksi akan hidup rukun, kaya raya, atau justru rentan terhadap kesialan dan konflik.
  3. Penentuan Hari Baik (Petungan Dina): Weton digunakan sebagai patokan untuk mencari hari baik dan menghindari hari buruk (naas atau sengkala) dalam memulai suatu pekerjaan besar, seperti mendirikan rumah, pindah rumah, memulai usaha, hingga mengadakan hajatan pernikahan.
  4. Peringatan (Selamatan): Masyarakat Jawa rutin merayakan ulang tahun weton (terjadi setiap 35 hari sekali yang disebut selapan) dengan mengadakan selamatan kecil atau doa bersama (bancakan) untuk memohon keselamatan.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Koentjaraningrat (1994). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Hal. 340-345.
  2. ↑ Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Bausastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters.
  3. ↑ Tjakraningrat, Kanjeng Pangeran Harya (1994). Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Yogyakarta: Yayasan Soemodidjojo Maha Dewa.
  4. ↑ Soemodiojojo, Raden (20 Januari 1965). Kitab Primbon, Betaljemur Adammakna. Yogyakarta: SOEMODIDJOJO MAHADEWA. hlm. 62. ISBN -.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: panjangPemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Endraswara, Suwardi (2010). Ilmu Primbon Jawa: Mengungkap Rahasia Ramalan Kehidupan. Yogyakarta: Narasi.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan