Sabtu, 31 Oktober 2026
04:08 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Warga Berdaya

Bagikan:

Warga Berdaya adalah sebuah gerakan sosial yang diinisasi oleh warga Yogyakarta untuk merespon maraknya pembangunan di Kota Yogyakarta. Gerakan tersebut dideklarasikan pada bulan Februari 2013 untuk mengkritik era pemerintahan Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti yang menjabat sejak 2011-2016. Warga Kota Yogyakarta melalui wadah “Warga Berdaya” memprotes kebijakan wali kota yang seolah memberikan ruang bagi para pemilik modal untuk menggalakan pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Menurut mereka, pembangunan yang digalakan tersebut telah memberikan pengaruh buruk pada lingkungan tempat tinggal mereka. Beberapa pengaruh buruk itu antara lain penurunan kualitas air, hilangnya ruang publik dan ruang terbuka hijau di Yogyakarta, kualitas sinyal dan listrik yang terganggu, dan lain sebagainya. Munculnya gerakan tersebut dinilai sebagai bentuk demokrasi warga yang tumbuh sekaligus peluang bagi Masyarakat sipil untuk ikut larut dalam percaturan politik dengan mendesak adanya rumusan kebijakan sosial baru.

Lebih lanjut lagi, metode yang digunakan oleh warga Yogyakarta dalam gerakan ini menggunakan metode nir-kekerasan. Mereka lebih banyak menggunakan sarana sosial, ekonomi, dan politik dalam gerakannya. Hal itu yang membuat gerakan Warga Berdaya dinilai berbeda dengan gerakan sosial secara umum yang kerap terjadi di Indonesia.[1]

Referensi

  1. ↑ Pradana, Irawan Satria. 2017. Kesenian sebagai Instrumen Nir-Kekerasan Menentang Rezim Kekerasan: Studi Kasus Gerakan Sosial Warga Berdaya di Yogyakarta. Skripsi. Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada
Ikon rintisan

Artikel bertopik aktivisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan