Wapili adalah salah satu kue tradisional masyarakat Gorontalo yang bentuknya menyerupai wafel, meskipun bahan pembuatannya berbeda jauh dari wafel pada umumnya. Di daerah asalnya, kue ini lekat dengan berbagai acara adat, pertemuan keluarga besar, hingga kegiatan resmi pemerintahan.[1][2]
Sejarah
Sejarawan Kota Gorontalo, Hasan Ibrahim, menuturkan bahwa wapili telah dikenal masyarakat setempat sejak masa Perang Dunia I, saat wilayah Gorontalo masih berada dalam kekuasaan kolonial Belanda.[1][2] Pada masa itu, kalangan bangsawan Belanda kerap menyantap wafel sebagai hidangan favorit mereka. Istilah "waffle" sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti sarang lebah, sesuai dengan corak berlubang pada permukaannya.[1]
Wafel buatan Eropa saat itu umumnya menggunakan cokelat, bahan yang sulit diperoleh oleh penduduk pribumi. Untuk itu, masyarakat Gorontalo mencoba meniru kue tersebut dengan bahan-bahan yang lebih mudah didapat di sekitar mereka, yakni tepung, gula merah, santan, dan telur.[1][2] Dari percobaan itulah lahir kue yang kemudian dinamai wapili.
Ada pula kisah yang berkembang di kalangan warga setempat mengenai kecurigaan tentara Belanda terhadap penduduk pribumi. Karena tampilan wapili sangat mirip dengan wafel, tentara Belanda sempat menuduh warga pribumi mencuri wafel dari markas mereka, padahal keduanya hanya serupa dalam bentuk, bukan dalam bahan maupun rasa.[2][3]
Bahan dan pembuatan
Bahan utama wapili terdiri atas tepung beras, tepung terigu, gula merah, santan, dan telur.[4][2] Proses pembuatannya diawali dengan mengocok telur bersama gula merah hingga larut, lalu mencampurkannya dengan santan. Setelah itu, tepung beras dan tepung terigu dimasukkan dan diuleni hingga adonan kalis, kemudian didiamkan sejenak agar sedikit mengembang sebelum dipanggang di atas cetakan khusus yang bentuknya menyerupai cetakan wafel.[4]
Warna kecokelatan pada wapili berasal dari gula merah yang digunakan dalam adonan, bukan dari cokelat seperti pada wafel Eropa, sehingga cita rasa dan aromanya pun cukup berbeda.[1][2] Dari segi tekstur, bagian luar wapili terasa renyah, sementara bagian dalamnya lebih empuk dan lembut dibandingkan wafel pada umumnya.[5][2]
Kedudukan dalam budaya Gorontalo
Di tengah masyarakat Gorontalo, wapili kerap hadir sebagai camilan dalam acara-acara adat maupun agenda resmi pemerintahan setempat.[6][1] Popularitasnya bahkan sempat diangkat menjadi tema kostum bertajuk "Embrace of Wapili" yang ditampilkan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo pada ajang Gorontalo Karnaval Karawo tahun 2023.[6][7]
Meskipun begitu, keberadaan wapili di masa sekarang tidak lagi semudah dahulu untuk ditemukan. Banyak kalangan menyebut kue ini mulai langka dan jarang dijajakan di pasar-pasar tradisional.[5]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 "Kisah Unik 'Wapili', Kue Khas Gorontalo". kumparan.com. 2020-03-09. Diakses tanggal 2026-08-08.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Wapili Dikira Waffle, Tentara Belanda Murka". Liputan6.com. 2020-03-06. Diakses tanggal 2026-08-08.
- ↑ "Motota Lo Wapili, Kukisi Asali Mondo Hulondalo wau Sojarah Lio". Liputan6.com. 2022-10-28. Diakses tanggal 2026-08-08.
- 1 2 "Kuliner Gorontalo: Wapili". Resep & Kuliner Gorontalo. Diakses tanggal 2026-08-08.
- 1 2 "Wapili". Budaya Indonesia. Diakses tanggal 2026-08-08.
- 1 2 "Embrace of Wapili Persembahan Dinas Kesehatan di Gorontalo Karnaval Karawo". Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. 2023-08-15. Diakses tanggal 2026-08-08.
- ↑ "Embrace of Wapili Persembahan Dinas Kesehatan di Gorontalo Karnaval Karawo". InfoPublik. 2023-08-15. Diakses tanggal 2026-08-08.