
Wail bin Hujr (Arabic : وائل بن حجر) merupakan sahabat Nabi Islam Muhammad.[1] Julukannya Abu Hunaidah Al-Hadhrami, salah seorang tokoh terkemuka, dan pemimpin kaumnya. Ia pernah datang menghadap Nabi, memiliki persahabatan dengannya, dan meriwayatkan hadits darinya.[2]
Yang meriwayatkan darinya antara lain: kedua putranya, Alqamah dan Abdul Jabbar; Wail bin Alqamah; Kulaib bin Syihab; dan lain-lain. Haditsnya diriwayatkan oleh Al-Jamaah kecuali Al-Bukhari.[1]
Dari Alqamah bin Wail, dari ayahnya: bahwa ia datang menghadap Rasulullah, lalu beliau menganugerahinya sebidang tanah dan mengutus Muawiyah bin Abi Sufyan untuk mendampinginya mengenal tanah tersebut.[1]
Ia berkata: Muawiyah berkata kepadaku, "Boncengkan aku di belakangmu." Aku menjawab, "Kamu tidak layak menjadi boncengan para raja." Ia berkata, "Kalau begitu berilah aku sandalmu." Aku menjawab, "Bernaunglahlah di bawah bayangan untamu."
Ia membawa panji kaumnya pada Perang Shiffin di pihak Ali. Ia menetap di Iraq. Ketika Muawiyah masuk ke Kufah, ia pun menemuinya dan berbaiat.
Ia berkata: Ketika Muawiyah menjadi khalifah, aku datang menemuinya dan ia mendudukkanku bersamanya di atas singgasana, lalu ia mengingatkanku tentang hadits itu. Maka aku pun berkata dalam hati: "Seandainya dulu aku memboncengnya di hadapanku."
Referensi
- 1 2 3 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- ↑ خير الدين الزركلي (2002). الأعلام قاموس تراجم لأشهر الرجال والنساء من العرب والمستعربين والمستشرقين.