Minggu, 01 November 2026
18:16 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Virus Nipah

Virus Nipah

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Nepovirus.
Virus Nipah
250px-Nipah_virus_from_an_infected_VERO_cell.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mikrograf elektron berwarna semu yang menunjukkan partikel virus Nipah (ungu) dari sel Vero yang terinfeksi (cokelat).
Klasifikasi virus Sunting klasifikasi ini
(tanpa takson): Virus
Dunia: Riboviria
Kerajaan: Orthornavirae
Filum: Negarnaviricota
Kelas: Monjiviricetes
Ordo: Mononegavirales
Famili: Paramyxoviridae
Genus: Henipavirus
Spesies:
Henipavirus nipahense

Virus Nipah yang teridentifikasi pada tahun 1999 telah menyebabkan penyakit pernapasan dan neurologis di peternakan babi di Semenanjung Malaysia, yang mengakibatkan 105 kematian manusia dan pembuangan sejuta ekor babi.[1] Di Singapura, 11 kasus termasuk satu kematian terjadi di antara para pekerja rumah pemotongan hewan yang terpapar babi impor dari Malaysia. Virus Nipah diklasifikasikan oleh CDC sebagai agen Kategori C.

Kemunculan

250px-Pteropus_vampyrus1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kalong besar atau di Malaysia disebut Kalong Malaya (Pteropus vampyrus) adalah salah satu sumber penyebab virus Nipah.

Virus Nipah telah diisolasi dari kelelawar buah Lyle (Pteropus lylei) di Kamboja,[2] dan RNA virus ditemukan dalam urin dan air liur dari P. lylei dan kelelawar daun bulat Horsfield (Hipposideros larvatus) di Thailand.[3] Bentuk virus yang tidak efektif juga telah diisolasi dari sampel lingkungan berupa urin kelelawar dan buah yang sebagian dimakan di Malaysia.[4] Antibodi terhadap henipavirus juga telah ditemukan pada kelelawar buah di Madagaskar (Pteropus rufus, Eidolon dupreanum) dan Ghana (Eidolon helvum) yang menunjukkan distribusi geografis virus yang luas.[5] Tidak ada infeksi pada manusia atau spesies lain yang diamati di Kamboja, Thailand, atau Afrika hingga Mei 2018. Pada September 2023, India melaporkan setidaknya lima infeksi dan dua kematian. Pada Juli 2024, infeksi baru terjadi dan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun meninggal akibatnya.[6] Pada Januari 2026, lima kasus Nipah dikonfirmasi di negara bagian Benggala Barat di India.[7]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Field H, Young P, Yob JM, et al. The natural history of Hendra and Nipah viruses. Microbes and Infection 2001; 3:307–314. PMID 11334748
  2. ↑ Reynes JM, Counor D, Ong S (2005). "Nipah virus in Lyle's flying foxes, Cambodia". Emerging Infectious Diseases. 11 (7): 1042–7. doi:10.3201/eid1107.041350. PMC 3371782. PMID 16022778.
  3. ↑ Wacharapluesadee S, Lumlertdacha B, Boongird K (2005). "Bat Nipah virus, Thailand". Emerging Infectious Diseases. 11 (12): 1949–51. doi:10.3201/eid1112.050613. PMC 3367639. PMID 16485487.
  4. ↑ Chua KB, Koh CL, Hooi PS (2002). "Isolation of Nipah virus from Malaysian Island flying-foxes". Microbes and Infection. 4 (2): 145–51. doi:10.1016/S1286-4579(01)01522-2. PMID 11880045.
  5. ↑ "What is Nipah virus? Symptoms to watch out for as India races to contain deadly outbreak". The Independent (dalam bahasa Inggris). 23 Januari 2026. Diakses tanggal 25 Januari 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "What is Nipah virus? India rushes to contain outbreak". Washington Post (dalam bahasa Inggris). 15 September 2023. Diakses tanggal 15 September 2023.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "What is Nipah virus? Symptoms to watch out for as India races to contain deadly outbreak". The Independent (dalam bahasa Inggris). 23 Januari 2026. Diakses tanggal 25 Januari 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan