Sabtu, 31 Oktober 2026
15:54 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Uma Lulik

Uma Lulik

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Juni 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: kurang pranala dalam dan subjudul. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Juni 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
250px-Uma_Lulik_of_Borulaisoba_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Uma Lulik Borulaisoba

Uma Lulik merupakan rumah tradisional dari Timor Leste dengan makna sakral sehingga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat di wilayah setempat. Istilah Uma berarti rumah, dan Lulik berarti sakral atau suci, sehingga Uma Lulik secara harfiah berarti rumah suci. Rumah ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga merupakan simbol hubungan antara masa lalu dan masa kini, serta antara orang hidup dan orang mati.[1]

Uma Lulik memiliki struktur yang memiliki makna sebagai rumah arwah karena berfungsi untuk menampung arwah leluhur dari keluarga yang memiliki bangunan tersebut. Tradisi ini memiliki nilai spiritual yang sangat penting dalam masyarakat Timor Leste, di mana setiap sepuluh tahun, ada kebiasaan untuk membangun kembali uma lulik, dengan tujuan memperbarui hubungan antara masyarakat dengan leluhur mereka serta dengan tanah yang mereka huni.[2] Rumah adat ini melambangkan hubungan antara masa lalu dan masa kini, orang mati, dan orang hidup.

Selain Uma Lulik, terdapat juga bangunan bergaya Portugis yang dapat ditemukan di Timor Leste, terutama di ibu kota Dili. Bangunan-bangunan ini merupakan warisan dari era kolonial Portugis, dengan gaya arsitektur yang khas menggunakan batu, beton, dan bahan padat lainnya. Sebagian besar bangunan bergaya Portugis di Timor Leste adalah gereja atau bangunan penting lainnya. Seiring dengan perkembangan zaman, Timor Leste kini juga memiliki banyak bangunan modern yang dibangun dengan menggunakan material beton dan kaca.[3]

Karakteristik Uma Lulik

Dibangun atau direnovasi setiap sepuluh hingga dua puluh tahun sekali, rumah ini juga memiliki simbol ikatan antar keluarga. Kehadiran Uma Lulik mencerminkan masyarakat Timor Leste, terutama suku Fataluku,[4] dalam menghadapi berbagai penjajahan yang datang ke wilayah tersebut. Sejak abad ke-16, Timor Leste telah mengalami berbagai penjajahan oleh Portugis, Belanda, Jepang, dan Indonesia, yang mengakibatkan banyak Uma Lulik hancur atau rusak selama periode tersebut. Setelah meraih kemerdekaan pada 2002, pemerintah Timor Leste mulai membangun kembali dan memulihkan keberadaan Uma Lulik sebagai bagian dari kebangkitan adat dan budaya tradisional. Hal ini menunjukkan upaya untuk melestarikan dan memperkuat warisan budaya.[5]

Di samping itu, Uma Lulik juga mencerminkan konsep rai lulik atau tanah suci, yang hanya boleh dimasuki oleh kelompok orang tertentu, menggambarkan hubungan yang sangat sakral antara masyarakat dan alam mereka. Lulik sendiri merujuk pada benda, tempat, kejadian topografi, kelompok makanan, orang, pengetahuan tertentu, serta norma perilaku yang menjadi bagian dari filosofi dan aturan hidup masyarakat Timor Leste, seperti Tara Bandu.[3]

Referensi


40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan