Selasa, 22 September 2026
06:51 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Ultras

Ultras

Jenis penggemar olahraga

250px-Football_ultras.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kelompok ultras

Ultras adalah sebutan bagi kelompok suporter sepak bola yang cenderung fanatisme dan ekstremisme dalam memberikan dukungan bagi klub sepak bola tertentu. Ultras sangat berbeda dengan Hooligans, tetapi istilah ini lebih dekat ke budaya sepak bola Inggris.[1] Kelompok suporter ultras sama seperti pendukung biasa , berbeda dengan hooligans, mereka lebih fanatik dengan club yang mereka cintai dan mereka lebih menghargai terhadap kelompok mereka.[2][3]

Asal Usul

Istilah ultras pertama kali muncul dalam sepak bola Italia. Pada periode 1960-an dan 1971-an, istilah ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap komersialisasi dan invasi kapitalisme dalam dunia sepak bola. Bentuk-bentuk perlawanan itu dimunculkan secara eksplisit dengan menonjolkan simbol-simbol kelompok, terutama sekali simbol yang terafiliasi dengan ideologi politik tertentu, seperti swastika dan palu arit.[2]

Kelompok-kelompok ultras secara terbuka menunjukkan diri sebagai sayap kiri ataupun sayap kanan. Kini ultras tidak lagi terdapat dalam sepak bola Italia saja, tetapi sudah menyebar ke seluruh dunia, bahkan ke wilayah yang tradisi sepak bola-nya kurang menonjol.[2]

Penyebaran

Sejak kemunculannya, ultras sudah berkembang dan menyebar hampir ke seluruh dunia. Beberapa kelompok ultras menjadi sangat terkenal, ada yang dikenal karena kebrutalannya, fanatismenya, hingga kreativitasnya.

Italia

330px-AS_Roma_fans_at_Stadio_Olimpico_during_Roma-Inter.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sisi selatan Stadion Olimpico menjadi tribun khusus bagi suporter A.S. Roma. Terlihat banner berkibar berwarna merah-kuning, warna kebesaran Roma.

Sebagai negara asal-usul ultras, Italia tentu saja yang memiliki kelompok-kelompok ultras militan. Sebagai sebuah negara yang memiliki riwayat sejarah penuh konflik, termasuk Perang Dunia II dan dipimpin oleh rezim fasisme memunculkan polarisasi dalam masyarakat Italia. Beberapa kelompok suporter secara terang-terangan menujukkan identitasnya dan kebenciannya terhadap kelompok suporter yang dianggap bertentangan dengan prinsip mereka.[4]

Daftar Beberapa Kelompok Ultras Klub Serie A
Klub Suporter Ideologi
60px-AS_Roma_logo_%282017%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Commando Ultrà Curva Sud, AS Roma Ultras, Boys, Giovinezza, dst. Kanan tengah[5]
60px-SS_Lazio.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Tifoseria Laziale, Tuparamos, Eagles, Irriducibili, dst. Sayap kanan[6]
60px-Logo_of_AC_Milan.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Fossa dei Leoni, Brigette Rossonere, Commandos Tigre, Curva Sud Milano, dst. Sayap kiri[7]
60px-FC_Internazionale_Milano_2021.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Boys-San, Vikings, Gammelagio Irriducibili, Brianza Aloolica, Milano Nerazzurra, dst. Sayap kanan[8]
60px-Juventus_FC_-_logo_black_%28Italy%2C_2020%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Gruppo Storico Fighters 1977, Black and White Fighters 1977, Drughi, Vikings, dst. Kiri tengah[9]

Selain beberapa nama-nama kelompok suporter di atas, masih banyak klub sepak bola Italia yang memiliki pendukung dengan reputasi "ultras". Kelompok-kelompok suporter tersebut tersebar di berbagai wilayah di Italia, bahkan di luar kota yang menjadi markas klub yang mereka dukung.[4]

330px-Only_dictatorships_jail_peaceful_political_leaders_Barcelona_Inter_%28cropped%29.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah spanduk melawan kriminalisasi aktivis yang dibentangkan oleh suporter FC Barcelona. Tertulis dalam bahasa Inggris, "Only dictatorship jail peaceful political leaders".

Spanyol

Perkembangan sepak bola di Spanyol juga tidak terlepas dari latar belakang sejarah, sosial dan politik negara itu. Konflik yang ada di dalam sejarah masyarakat Spanyol dapat ditarik sejak Perang Saudara Spanyol, rezim Francisco Franco, dan pasca Franco. Kelompok-kelompok suporter sepak bola mulai mendikotomikan diri mereka ke dalam kelompok yang saling berlawanan.[10]

Beberapa kelompok suporter mengafilisiasikan diri mereka dengan kekuatan nasionalis yang dipimpin Francisco Franco, sementara yang lain mengidentifikasikan diri sebagai loyalis Republik. Di tambah lagi ada beberapa klub yang membangun sentimen etnis dan separatisme, seperti Catalunya dengan FC Barcelona dan Basque Country dengan Athletic Bilbao.[11]

Jerman

Seperti halnya Italia dan Spanyol, sepak bola bagi masyarakat Jerman juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan hubungannya dengan politik.[12] Selama kekuasaan Jerman Nazi, sepak bola telah diubah menjadi alat politik dan propaganda pemerintah. Intervensi rezim Hitler bahkan mampu mengubah sistem kompetisi hingga membubarkan klub yang tidak mau patuh terhadap regulasi.[13]

Setelah keruntuhan Jerman Nazi pasca Perang Dunia II, sisa-sisa loyalis Nazi masih kuat, termasuk di dalam sepak bola Jerman. Beberapa suporter klub mengidentifikasikan diri sebagai Neo-Nazi.[14] Asosiasi Sepakbola Jerman sendiri sedang berupaya untuk menghapus pengaruh Nazisme.[15] Beberapa klub Jerman yang menyatakan dirinya anti-Nazi diantaranya adalah BVB Dortmund dan FC St. Pauli.[16][17]

Referensi

  1. Prasetyo, Hari (2019-08-15). "Suporter: Ultras, Jebakan Hooligan, dan Mania yang Menenteramkan". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-22.
  2. 1 2 3 "What is a football ultra? Serie A hardcore fan culture explained | Goal.com". www.goal.com. Diakses tanggal 2020-01-22.
  3. Loop. "Kreatif tapi Suka Bikin Rusuh, Ini 5 Ultras Paling Sangar di Dunia Sepakbola | Loop.co.id". loop.co.id. Diakses tanggal 2020-01-22.[pranala nonaktif permanen]
  4. 1 2 Jones, Tobias (2019-09-15). "At home with Italy's ultras: 'It isn't about watching football, but watching each other'". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2020-01-22.
  5. Hall, Richard; Hodges-Ramon, Luca (2014-12-11). "Roma: Serie A alternative club guide". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2021-01-04.
  6. "Lazio: Serie A alternative club guide". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2014-08-14. Diakses tanggal 2021-01-04.
  7. Hall, Richard (2014-09-12). "Milan: Serie A alternative club guide". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2021-01-04.
  8. Hall, Richard (2014-06-05). "Internazionale: Serie A alternative club guide". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2021-01-04.
  9. "Juventus: Serie A alternative club guide". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2014-07-22. Diakses tanggal 2021-01-04.
  10. Westby, David (2017). Ultras in Spain: A Study on the Relationship Between Macro-level Cleavages and Micro-level Actors. Massachusetts: Tufts University. hlm. 65–69.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. País, El (2014-12-12). "Spain's soccer hooligan map". EL PAÍS (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-04.
  12. "Germany's ultra fans are fighting for the future of Bundesliga clubs". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). 2020-03-02. Diakses tanggal 2021-01-04.
  13. Niiler, Eric. "World Cup 1938: When Nazi Germany Forced Austrians to Play For Them—And Lost". HISTORY (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-04.
  14. Welle (www.dw.com), Deutsche. "Why was a Neo-Nazi hooligan mourned at a football game in Germany? | DW | 14.03.2019". DW.COM (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2021-01-04.
  15. Welle (www.dw.com), Deutsche. "German Soccer Faces Nazi Past | DW | 15.09.2005". DW.COM (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2021-01-04.
  16. Shidiq, Taufik Nur (2014-10-29). "Hooligan Neo-Nazi dan Anti-Salafi". Pandit Football Indonesia. Diakses tanggal 2021-01-04.
  17. "St. Pauli, Klub Sepakbola Musuh Sejati Kaum Fasis". tirto.id. Diakses tanggal 2021-01-04.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan