Sabtu, 24 Oktober 2026
08:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Ular-sendok sumatra

Ular-sendok sumatra

ular berbisa

Bagikan:
Ular sendok sumatra
250px-Equatrorial-spitting-cobra_001.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
CITES Apendiks II (CITES)[2]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Famili: Elapidae
Genus: Naja
Spesies:
N. sumatrana
Nama binomial
Naja sumatrana
250px-Naja_sumatrana_Map.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Ular-sendok sumatra (Naja sumatrana) adalah spesies ular sendok penyembur (Spitting cobra) yang endemik di Asia Tenggara. Ular ini juga disebut kobra hitam, Kobra sumatra, kobra melayu, atau kobra khatulistiwa. Sebutannya dalam bahasa Inggris di antaranya Equatorial spitting cobra, Malayan spitting cobra, Sumatran spitting cobra, black spitting cobra, atau golden spitting cobra. Ular ini merupakan salah satu jenis ular sendok yang mampu menyemprotkan bisa ke arah pengganggunya.

Deskripsi fisik

Panjang tubuh ular-sendok sumatra umumnya berkisar antara 0.9 sampai 1.2 meter, tetapi bisa juga mencapai 1.5[5] atau 1.6 meter.[6] Kepalanya berbentuk elips dan dapat dibedakan dari lehernya. Matanya berukuran sedang dengan pupil bundar.[6] Ular ini tidak memiliki tanda pada lehernya. Pewarnaan tubuhnya memiliki dua varian: warna kekuningan pada spesimen-spesimen di Thailand, dan warna kehitaman pada spesimen-spesimen di kawasan Nusantara (Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina).[7]

Sisik-sisik pada dorsalnya (tubuh atas) tersusun sebanyak 15 sampai 19 baris di bagian tengah badan,[6] sisik ventral sebanyak 179 sampai 201 buah, dan sisik subkaudal sebanyak 40 sampai 57 buah.

Penyebaran

Ular-sendok sumatra tersebar di Thailand, Malaysia, Indonesia (Sumatra, Bangka-Belitung, dan Kalimantan), dan Filipina (Palawan, Kep. Calamian, dan mungkin juga pulau-pulau di sekitarnya).[8]

Ekologi dan perilaku

Ular-sendok sumatra terdapat di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter dpl. Habitat utamanya adalah hutan, tetapi juga sering ditemukan di daerah perkebunan dan pemukiman. Ular ini aktif pada siang hari (diurnal) dan berkelana di atas tanah (terestrial).[6] Makanan utamanya adalah tikus dan katak,[7] akan tetapi ular ini juga memangsa ular lain, kadal, dan beberapa hewan kecil lainnya.[6]

Galeri

  • Ular-sendok sumatra mengembangkan lehernya
    Ular-sendok sumatra mengembangkan lehernya
  • Spesimen mati dari Lambir Hills NP, Sarawak, Malaysia
    Spesimen mati dari Lambir Hills NP, Sarawak, Malaysia
  • Close-up kepala
    Close-up kepala
  • Spesimen yang masih muda
    Spesimen yang masih muda

Bisa

Seperti jenis kobra lainnya, ular-sendok sumatra memiliki racun bisa neurotoksin. Kemungkinan juga terdapat kandungan kardiotoksin dan sitotoksin pada bisanya. Ular ini juga mampu menyemburkan bisa ke arah mata pengganggunya. Bisa yang mengenai mata akan menyebabkan kebutaan apabila tidak segera ditangani.

Referensi

  1. ↑ Grismer, L.; Chan-Ard, T.; Diesmos, A.C.; Sy, E. (2012). "Naja sumatrana". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2012 e.T184073A1748598. doi:10.2305/IUCN.UK.2012-1.RLTS.T184073A1748598.en. Diakses tanggal 19 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 2022-01-14.
  3. ↑ "Naja sumatrana". ITIS Standard Report Page. ITIS.gov. Diakses tanggal 1 Februari 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Naja sumatrana MÜLLER, 1890". The Reptile Database. www.reptile-database.org. Diakses tanggal 8 Januari 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Asiatic Naja". Bangor University. Diakses tanggal 8 Januari 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 4 5 "Naja sumatrana - General Details, Taxonomy and Biology, Venom, Clinical Effects, Treatment, First Aid, Antivenoms". WCH Clinical Toxinology Resource. University of Adelaide. Diakses tanggal 8 Januari 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 "Equatorial Spitting Cobra". Ecology Asia. http://www.ecologyasia.com. Diakses tanggal 8 Januari 2012.{{cite web}}: Tautan eksternal dalam |publisher=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑

Publikasi dan pranala lain

  • Müller, "1887" 1890 : Fünfter Nachtrag zum Katalog der herpetologischen Sammlung des Basler Museums. Verhandlungen der Naturforschenden Gesellschaft in Basel, vol. 8, p. 249-296 (lihat teks).
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan