Jumat, 23 Oktober 2026
22:59 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Turko-Mongol

Turko-Mongol

Bagikan:
250px-Asia_in_1335.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Asia pada tahun 1335, menunjukkan negara-negara budaya Turko-Mongol seperti Gerombolan Emas dan Kekhanan Chagatai.

Turko-Mongol atau tradisi Turko-Mongol adalah sebuah sintesis kebudayaan yang berkembang pada awal abad ke-14, di kalangan pemerintahan elit dari negara-negara penerus Kekaisaran Mongol seperti Kekhanan Chagatai dan Gerombolan Emas. Kalangan elit tersebut mengadopsi rumpun bahasa Turkic dan agama-agama berbeda seperti Buddha dan Islam, sementara mempertahankan lembaga-lembaga hukum dan politik Mongol.[1] Beberapa negara Asia Tengah pada masa berikutnya sangat memegang tradisi tersebut, yang meliputi Kekaisaran Timuriyah, Kekhanan Kazakh, Kekhanan Kazan, Kekhanan Nogai, Kekhanan Krimea dan Kekaisaran Mughal.

Referensi

  1. ↑ Beatrice Forbes Manz (1989). The Rise and Rule of Tamerlane. Cambridge University Press. hlm. 6–9. ISBN 978-0-521-34595-8.
Amir
120px-Timurid_Dynasty_821_-_873_%28AH%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

120px-Wedding_of_Timurid_Princes.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

120px-Samarkand_observatoire_ulugh_beg.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peperangan
dan Konflik
Arsitektur
lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan