Senin, 28 September 2026
21:27 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Tschandala

Tschandala (transkripsi chandala dalam bahasa Jerman kuno) adalah istilah yang dipinjam Friedrich Nietzsche dari sistem kasta India, yang di dalamnya chandala adalah anggota kelas sosial terendah. Penafsiran dan penggunaan istilah Nietzsche bergantung pada terjemahan Manusmriti oleh Max Müller.

Nietzsche menggunakan istilah "Tschandala" dalam Götzen-Dämmerung (Twilight of the Idols)[1] dan Der Antichrist (The Antichrist).[2] Di sini ia menggunakan “hukum Manusmerti” dengan sistem kasta sebagai contoh salah satu jenis moralitas yang bertentangan dengan moralitas versi Kristen yang menurut Nietzsche berupaya untuk “menjinakkan” manusia.

Nietzsche menjelaskan metode bagaimana nilai-nilai Kristen berupaya untuk "memperbaiki" umat manusia. Sebagai metafora, ia menggunakan binatang terlatih di kebun binatang yang dikatakan akan "ditingkatkan", tetapi kenyataannya binatang itu kehilangan kekuatannya dan menjadi lemah. Dengan cara seperti itu, kata Nietzsche, agama Kristen telah "menjinakkan" ras Teutonik.

Sebaliknya, hukum Manu mencoba mengatur kelompok sosial dengan menciptakan empat kasta masyarakat. Nietzsche juga tidak terlalu menyukai jenis moralitas ini. Namun, ia menganggap moralitas ini lebih baik daripada "moralitas budak" Kristen.

Referensi

  1. ↑ "Die ‚Verbesserer‘ der Menschheit" (KSA 6, p. 98–102)
  2. ↑ chapter 56 and 57 (KSA 6, p. 239–244)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan