Jumat, 23 Oktober 2026
05:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal
Trikromasi

Trikromasi

Bagikan:
250px-Cones_SMJ2_E.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tiga pigmen sel kerucut pada mata manusia menyebapkan penglihatan trikromatik.

Trikromasi atau trikromatisme adalah keadaan yang membuat mata mampu membedakan tiga kanal warna yang berbeda, atau keadaan adanya tiga jenis sel kerucut yang berbeda pada matanya.[1] Teori trikromatik ini dicetuskan pada abad ke 18 oleh Thomas Young yang mengatakan bahwa penglihatan warna adalah hasil dari tiga jenis sel fotoreseptor yang berbeda. Teori ini dikembangkan oleh Hermann von Helmholtz dengan menggunakan percobaan pencocokan warna yang menunjukkan bahwa manusia dengan penglihatan normal membutuhkan tiga panjang gelombang untuk menciptakan rentang warna yang normal. Bukti fisiologi tentang trikromasi diberikan oleh Gunnar Svaetichin pada tahun 1956.[2]

Sesuatu (mis. mata atau penglihatan) yang memiliki sifat trikromasi disebut trikromatik, sedangkan seseorang yang memiliki mata atau penglihatan trikromatik disebut trikromat.[3]

Trikromasi pada primata

Primata adalah satu-satunya mamalia plasenta dengan mata trikromatik.[4] Di dalam mata memiliki tiga jenis sel kerucut, masing-masing sel kerucut mengandung pigmen warna yang berbeda (opsin). Sel kerucut gelombang pendek (S) (bahasa Inggris:short-wavelength) memiliki puncak sensitifitas pada warna biru, Sel kerucut gelombang menengah (M) (bahasa Inggris:medium-wavelength) memiliki puncak sensitifitas pada warna hijau dan Sel kerucut gelombang panjang (L) (bahasa Inggris:long-wavelength) memiliki puncak sensitifitas pada warna kuning-hijau.

Mekanisme penglihatan trikromatik

Penglihatan warna trikromatik adalah kemampuan manusia dan beberapa jenis spesies lain untuk melihat warna-warna yang berbeda. Ini dimungkinkan dengan interaksi antara ketiga jenis sel kerucut untuk mendeteksi warna. Teori warna trikromatik berawal pada abat ke-18, ketika Thomas Young mengusulkan bahwa penglihata warna adalah hasil dari tiga sel photoreceptor. Herman von Helmholtz kemudian mengembangkan ide Young dengan menggunakan eksperimen pencocokan warna yang menunjukkan bahwa orang dengan penglihatan normal membutuhkan tiga panjang-gelombang untuk membuat kisaran warna normal. Bukti fisiologi dari teori trikromatik didapatkan kemudian oleh Gunnar Svaetichin (1956).

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ "Color Glossary". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-10-04. Diakses tanggal 2012-06-27.
  2. ↑ Svaetichin,G. (1956). Spectral response curves from single cones, Actaphysiol. scand. 39, Suppl. 134, 17-46.
  3. ↑ "Trikromat". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  4. ↑ Ronald G. Boothe (2002). Perception of the visual environment. Springer. hlm. 219. ISBN 978-0-387-98790-3.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan