Rabu, 30 September 2026
07:01 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Tigor Silaban

Tigor Silaban

dokter Indonesia

Bagikan:
Ini adalah nama Batak Toba, marganya adalah Silaban.
Tigor Silaban
250px-Tigor_Silaban.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Silaban, ca 2018
Lahir(1953-04-01)1 April 1953
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Meninggal6 Agustus 2021(2021-08-06) (umur 68)
Jayapura, Papua, Indonesia
PekerjaanDokter
Orang tua

Tigor Silaban (1 April 1953 – 6 Agustus 2021) merupakan seorang dokter berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan lulusan dari Universitas Indonesia dan terkenal karena pengabdiannya sebagai dokter pemerintah di pedalaman Papua, di mana ia bekerja selama hampir empat puluh tahun dari 1979 hingga ia pensiun di tahun 2017.

Kehidupan awal

Tigor lahir di Bogor pada 1 April 1953. Ayahnya, Friedrich Silaban, merupakan seorang arsitek terkenal yang mendesain Masjid Istiqlal.[1] Ia lulus dari Kolese Kanisius, Jakarta[2] dan melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Silaban belakangan mengaku ia hanya mendaftar di fakultas kedokteran karena permintaan ayahnya, dan sebenarnya ingin kuliah teknik. Meski enggan belajar kedokteran, ia berhasil lulus, dan karena itu ia menulis sumpah bahwa ia bekerja di wilayah pedalaman Indonesia yang jauh dari Jakarta, dan tidak bekerja sebagai dokter swasta.[3][4]

Karier

Dia mulai aktif di Papua pada tahun 1979, ketika setelah lulus dia ditugaskan di puskesmas di Oksibil yang saat itu termasuk wilayah Kabupaten Jayawijaya. Dia adalah satu-satunya dokter di Oksibil, dan dalam suatu wawancara dia memberikan anekdot ketika desas-desus tentang pembunuhannya hampir memicu perang suku.[3][5]

Karena lokasi kerjanya yang terpencil, bangunan puskesmas sering kali berupa hanya dibangun dari kayu sederhana dengan lantai tanah. Tigor mempersiapkan jaringan radio agar puskesmas yang tersebar dapat saling berkomunikasi.[1] Meski ia merupakan dokter umum, sedikitnya tenaga medis yang ada di Papua memaksanya untuk melakukan operasi yang seharusnya dilakukan dokter spesialis, karena dokter spesialis pada masa itu hanya ada di ibukota provinsi di Jayapura.[6] Ia kemudian dijadikan pegawai negeri formal dan dipindahtugaskan ke Wamena, dan ia menjabat kepala dinas kesehatan kabupaten hingga 1993. Belakangan, ia kembali ke UI studi S2 bidang kesehatan masyarakat.[3]

Tigor kemudian ditunjuk menjadi kepala dinas kesehatan provinsi.[5] Ia mencetuskan layanan kesehatan paralel yang melatih staf non-medis seperti petugas gereja untuk menjalankan perawatan preventif.[4] Ia juga membimbing dokter muda yang bekerja di Papua.[1] Setelah pensiun sebagai pegawai negeri di tahun 2017, ia terus bekerja sebagai konsultan kesehatan masyarakat, dengan fokus sistem informasi perawatan kesehatan dan nutrisi anak.[3] Ia meninggal di RSUD Jayapura pada 6 Agustus 2021 karena COVID-19.[4] Pada saat kematiannya, ia memiliki empat anak.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 Faizin, Eko (10 Agustus 2021). "Sang Pejuang Kesehatan Meninggal, 4 Janji Tulus dr Tigor Silaban Ini Bikin Haru". Suara.com. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
  2. ↑ Choiruman, M (7 Agustus 2021). "Sang Pejuang Kesehatan Warga Papua, Dokter Tigor Silaban Meninggal Dunia". Tribunnews.com. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
  3. 1 2 3 4 Ariefana, Pebriansyah (19 Oktober 2015). "Tigor Silaban: Legenda Dokter di Zona Merah Pedalaman Papua". Suara.com. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
  4. 1 2 3 Rachmawati, ed. (12 Agustus 2021). "Tigor Silaban, Dokter Legenda dari Tanah Papua, Janji pada Tuhan untuk Mengabdi di Pedalaman". Kompas.com. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
  5. 1 2 "Dokter Tigor Silaban, Dari Mapala UI Sampai Meninggal Di Papua". Jubi. 18 Agustus 2021. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
  6. ↑ Bhawono, Aryo (6 Februari 2018). "Tigor Silaban, 'Dokter Barbar' di Wamena". detikcom. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan