Rabu, 30 September 2026
06:05 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang

Terapi okupasi

Bagikan:

Terapi okupasi adalah bentuk layanan kesehatan kepada masyarakat atau pasien yang mengalami gangguan fisik dan atau mental dengan menggunakan latihan/aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi (okupasi) untuk meningkatkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.[1]

Tujuan utama dari Okupasi Terapi adalah memungkinkan individu untuk berperan serta dalam aktivitas keseharian. Okupasi terapis mencapai tujuan ini melalui kerja sama dengan kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk terlibat dalam aktivitas yang mereka inginkan, butuhkan, atau harapkan untuk dikerjakan, serta dengan mengubah aktivitas atau lingkungan yang lebih baik untuk mendukung keterlibatan dalam aktivitas.[1]

Dalam memberikan pelayanan kepada individu, okupasi terapi memperhatikan aset (kemampuan) dan limitasi (keterbatasan) yang dimiliki individu, dengan memberikan aktivitas yang purposeful (bertujuan) dan meaningful (bermakna). Dengan demikian diharapkan individu tersebut dapat mencapai kemandirian dalam aktivitas produktivitas (pekerjaan/pendidikan), kemampuan perawatan diri (self care), dan kemampuan penggunaan waktu luang (leisure).

Sejarah Okupasi Terapi di Indonesia

Pelayanan okupasi terapi di Indonesia dimulai sekitar tahun 1970 dipelopori oleh dua orang okupasi terapis. Mereka adalah Bapak Harry Siahaan yang lulus dari Selandia Baru dan Bapak Joko Susetyo yang lulus dari Australia. Bapak Harry memulai pelayanan okupasi terapi di kesehatan jiwa dan beliau merupakan pelopor pelayanan okupasi terapi di kesehatan jiwa. Sedangkan Bapak Joko mendirikan pelayanan okupasi terapi di Rumah Sakit Ortopedi di Solo dan beliau merupakan pelopor pelayanan okupasi terapi di gangguan fisik. Setelah itu, mereka berdua mengelola pelatihan okupasi terapi asisten di rumah sakit besar di Indonesia. Selama tahun 1970 – 1997, pelayanan okupasi terapi di rumah sakit dilakukan oleh okupasi terapi asisten. Beberapa okupasi terapis dari luar negeri seperti dari Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda juga datang ke Indonesia untuk memberikan pelatihan untuk okupasi terapi asisten di beberapa rumah sakit.

Pada tahun 1989, empat orang dosen dari Akademi Fisioterapi Surakarta dikirim ke Universitas Alberta, Kanada untuk meraih Sarjana Okupasi Terapi dengan dibiayai The Canadian International Developmental Agency. Mereka adalah Tri Budi Santoso, Bambang Kuncoro, Dedy Suhandi, dan Khomarun. Mereka berempat menjadi staf inti Akademi Okupasi Terapi Surakarta. Proyek lainnya termasuk persiapan jurusan okupasi terapi pertama di Indonesia, kunjungan ke rumah sakit dan pembuat kebijakan yang berkaitan dengan okupasi terapi, pelatihan kurikulum okupasi terapi, penyediaan buku okupasi terapi dan peralatan laboratorium okupasi terapi. Akademi Okupasi Terapi Surakarta, Indonesia didirikan pada tahun 1994. Pada tahun 1997, mahasiswa okupasi terapi angkatan pertama lulus dan sebagian besar dari mereka langsung bekerja. Pada tahun 2000, jurusan okupasi terapi disetujui oleh WFOT. Departemen Okupasi Terapi Fakultas Rehabilitasi Medik Universitas Alberta sampai sekarang membantu jurusan okupasi terapi di Sukarta. Saat ini akademi okupasi terapi di Surakarta bergabung dengan Polteknik Kesehatan Surakarta (Poltekkes Surakarta) di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan dan Jurusan Okupasi Terapi di Poltekkes Surakarta menyelenggarakan Program Diploma 3 dan Sarjana Terapan Okupasi Terapi. Semenjak pendirian akademi okupasi terapi di Surakarta banyak mahasiswa okupasi terapi Kanada melakukan praktik klinik di Indonesia, yang memperkaya pengalaman budaya mereka dari budaya Indonesia. Sebelumnya, beberapa mahasiswa okupasi terapi dari Belanda juga melakukan praktik klinik di Indonesia.

Proyek internasional dengan Ikatan Okupasi Terapi Jepang dirintis oleh Profesor Tsuyoshi Sato dari Departemen Okupasi Terapi Universitas Sapporo. Tujuan proyek ini untuk meningkatkan keterampilan akademik staf pengajar Akademi Okupasi Terapi Surakarta. Dua staf pengajar Bapak Bambang Kuncoro dan Bapak Khomarun diundang ke Jepang untuk meningkatkan pengalaman klinis di beberapa rumah sakit di Jepang selama tiga bulan. Proyek ini didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JIMTEF).

Program okupasi terapi kedua didirikan di Jakarta pada tahun 1997 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tetapi saat ini bergabung dengan Program Vokasi Universitas Indonesia Jakarta.

Jumlah keseluruhan okupasi terapis di Indonesia pada saat ini sekitar 1000 orang dan kebanyakan mereka bekerja di sektor swasta seperti klinik dan rumah sakit swasta. Akibat tingginya permintaan kondisi tumbuh kembang, 60% okupasi terapis di Indonesia bekerja pada area tumbuh kembang. Bekerja dengan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus akan memahami pekerjaan okupasi terapi. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta orang, jumlah okupasi terapis di Indonesia jauh dari cukup untuk memberikan pelayanan okupasi terapi ke seantero negeri. Kebutuhan okupasi terapis di Indonesia pada saat ini sangat tinggi, tetapi banyak rumah sakit dan klinik yang tidak memiliki okupasi terapis. Banyak okupasi terapi yang bekerja paruh waktu di beberapa rumah sakit swasta atau untuk memenuhi permintaan okupasi terapi. Kebanyakan okupasi terapis bekerja di Pulau Jawa, sementara lainnya bekerja di pulau lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Irian.

Di masa depan, pengajar okupasi terapi dengan gelar magister dan doktor dibutuhkan untuk mendirikan lebih banyak sekolah okupasi terapi sehingga sekolah tersebut akan mampu menghasilkan lebih banyak okupasi terapis untuk memberikan pelayanan okupasi terapi ke seantero negeri.[2]

Referensi

  1. 1 2 World Federation of Occupational Therapy. 2010. Statement on Occupational Therapy
  2. ↑ Santoso, Tri Budi. 2014. Tokyo Occupational Therapy Research No. 2 Vol. 2. The Development of Occupational Therapy in Indonesia.

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan