Minggu, 04 Oktober 2026
20:41 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya

Teorema basis Hilbert

Teorema

Bagikan:

Dalam matematika, teorema basis Hilbert mengatakan bahwa setiap ideal dari suatu gelanggang polinomial atas lapangan memiliki himpunan pembangkit terhingga. Dalam aljabar modern, gelanggang yang idealnya memiliki sifat demikian dinamakan gelanggang Noether. Setiap lapangan dan gelanggang dari bilangan bulat adalah gelanggang Noether. Dengan demikian, teorema basis Hilbert dapat diperumum dan dinyatakan kembali, bahwa setiap gelanggang polinomial atas gelanggang Noether juga merupakan gelanggang Noether.

Pernyataan dari teorema tersebut dicetuskan dan dibuktikan oleh David Hilbert pada tahun 1890 dalam artikel penemuan terbarunya tentang teori invarian. Pada artikelnya, Hilbert menyelesaikan beberapa masalah mengenai invarian, dan juga membuktikan two teori dasar polinomial berupa Nullstellensatz (teorema tentang akar polinomial) dan teorema sygyzy (tentang relasi). Ketiga teorema tersebut merupakan awal mula dari interpretasi geometri aljabar dengan menggunakan aljabar komutatif. Lebih spesifik lagi, teorema basis Hilbert menyiratkan bahwa setiap himpunan aljabar adalah irisan dari terhingga banyaknya hypersurface [en].[1]

Aspek-aspek lain dalam artikel tersebut memberikan dampak yang besar pada matematika di abad ke-20, dengan penggunaan metode non-konstruktif yang bersifat sistematik. Sebagai contoh, teorema basis mengatakan bahwa setiap ideal mempunyai himpunan pembangkit terhingga, tetapi pembuktian awalnya tidak menyediakan cara menghitungnnya untuk suatu ideal yang lebih spesifik. Pendekatan tersebut membuat para matematikawan terheran-heran pada kala itu. Versi pertama artikel tersebut ditolak oleh Paul Gordan, matematikawan yang ahli di bidang invariant, yang mengomentari, "This is not mathematics. This is theology."[2] Ia lantas mengakui, "I have convinced myself that even theology has its merits."[3]

Referensi

  1. ↑ Hilbert, David (1890). "Über die Theorie der algebraischen Formen". Mathematische Annalen. 36 (4): 473–534. doi:10.1007/BF01208503. ISSN 0025-5831. S2CID 179177713.
  2. ↑ Reid 1996, hlm. 34.
  3. ↑ Reid 1996, hlm. 37.

Bacaan lebih lanjut

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan