Senin, 19 Oktober 2026
05:14 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Tenun Bentenan

Bagikan:
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Tenun Bentenan" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Tenun Bentenan atau kain bentenan merupakan kain tenun tradisional hasil karya suku Minahasa yang telah ada sekitar abad ke-7. Kain bentenan merupakan warisan budaya yang pada awalnya berbahan dasar dari serat kulit kayu yang disebut Fuya, diambil dari Pohon Lahendong dan Pohon Sawkouw, nanas dan pisang yang disebut Koffo, serta serat bambu yang disebut Wa'u, kemudian dilakukan proses tenun secara tradisional.[1] Sekitar abad ke-15, Suku Minahasa mulai menenun dengan benang katun dari hasil tenunan dinamakan Kain Tenun Bentenan karena di tenun di Desa Bentenan yang terletak di Pantai Timur Minahasa Selatan yang kemudian sekarang menjadi wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara. Pada masanya, Kain Tenun Bentenan adalah salah satu kain yang sangat tinggi pembuatannya, karena kain ini ditenun diadakan ritual pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sejarah

Keterampilan menenun di Minahasa yang diawali oleh masyarakat Desa Bentenan ini, katanya berasal dari peniruan dari para pendatang yang berasal dari Toraja dan Bugis yang melarikan diri dari daerahnya. Dalam pelariannya mereka terdampar dipantai Bentenan yang kemudian tinggal dan menetap di Desa Bentenan. Setelah menetap, mereka mulai mengembangkan keterampilan menenun ini di tengah-tengah masyarakat Bentenan.[2]

Pada awalnya Kain Bentenan hanya dipakai oleh para pemimpin adat (Tonaas) dan pemimpin agama (Walian) dalam berbagai upacara adat Minahasa seperti upacara membangun rumah, menentukan masa tanam, sampai berperang. Kain ini juga digunakan dalam berbagai upacara daur hidup sebagai kain pembungkus bayi yang baru lahir, bagian dari upacara pernikahan, juga pembungkus jenazah bagi kalangan tertentu. Dalam upacara tersebut, Walian dan Tonaas akan memohon perlindungan pada Opo-Opo (dewa) dengan membaca mantra khusus.

Tenun tradisional ini mulai dikirim keluar Minahasa melalui pelabuhan Bentenan,, sehingga ada seorang Belanda yang menamai Tenun ini dengan Tenun Bentenan. Kain Bentenan sempat menghilang dan tidak diproduksi selama lebih dari 200 tahun. Tak mengherankan apabila jumlah kain bentenan antik sampai saat ini tidak sampai sepuluh buah di dunia. beberapa diantaranya disimpan di museum di Belanda dan di belahan bumi lainnya.[3]

Pada saat ini Kain Bentenan telah dikembangkan dan diproduksi secara kormesil, dapat anda temukan di Kota Manado dengan jenis kain tenun ataupun cetak, cocok sebagai buah tangan atau pakaian acara resmi lainnya.

Motif

Kain bentenan asli memiliki tujuh motif yaitu :

  1. Tonilama, tenun dari benang putih, tidak bewarna, dan merupakan kain putih.
  2. Sinoi, tenun dengan benang warni-warni dan berbentuk garis-garis.
  3. Pinatikan, tenun dengan garis-garis motif jala dan bentuk segi enam, merupakan pertama di tenun di Minahasa.
  4. Tinompak kuda, tenun dengan aneka motif berulang.
  5. Tononton mata, tenun dengan gambar manusia.
  6. Kalwu patola, tenun dengan motif tenun pantola India.
  7. Kokera, tenun dengan motif bunga warna-warni bersulam manik-manik.[4]

Referensi

  1. ↑ "Sam Ratulangi International Airport | Manado". samratulangi-airport.com. Diakses tanggal 2025-03-08.
  2. ↑ Majalah Tabea. steven.
  3. ↑ Mulyadi, Ujang (29 Januari 2019). "Mahakarya dari Minahasa". Museum Nasional Indonesia. Diakses tanggal 30 November 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Tim Editor Website, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. "Tenun Bentenan". Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Diakses tanggal 30 November 2023.{{cite web}}: |last= memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan