Rabu, 28 Oktober 2026
08:09 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Tenaga rendah karbon

Bagikan:

Tenaga rendah karbon adalah gaya yang bertujuan untuk menghasilkan daya (dalam hal ini berkaitan dengan teknologi), tapi tidak menghasilkan banyak gas pencemar udara, yaitu karbon.[1] Karbon merupakan unsur yang mudah berikatan dengan unsur lain. Dalam alam terbuka, tentu banyak gas Oksigen di udara yang berfungsi untuk pernapasan kita. Tapi, karbon juga bisa bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan gas berbahaya, yaitu Karbon Monoksida (CO).[2]

Karbon adalah gas yang mudah kita temui di kehidupan kita. Tapi sayangnya, gas ini juga dapat dengan mudah merusak kesehatan dan lingkungan. Banyak dari kita tidak menyadari, sumber-sumber energi yang kita gunakan berpotensi menghasilkan gas yang berbahaya bagi kehidupan kita. Gas yang dapat membahayakan kehidupan kita itu dapat berasal dari hasil pembakaran bahan bakar fosil.[2] Dan salahsatu cara untuk memperkecil hal tersebut adalah dengan menggunakan bahan bakar biofuel, yaitu bahan bakar nabati, bahan bakar yang alami .[3]

Referensi

  1. ↑ "Low-carbon power". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2019-12-05.
  2. 1 2 "Karbon (C): Fakta, Sifat, Kegunaan & Efek Kesehatannya". Amazine.co (dalam bahasa American English). 2013-07-13. Diakses tanggal 2019-12-07.
  3. ↑ Pranita, Ellyvon. Putri, Gloria Setyvani (ed.). "Biofuel, Bahan Bakar Ramah Lingkungan Mulai Dipakai Kawasan ASEAN". Kompas.com. Diakses tanggal 2019-12-07.
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan