Kamis, 29 Oktober 2026
13:07 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Tekukur biasa

Tekukur biasa

spesies burung

Bagikan:
Tekukur Biasa
250px-Streptopelia_chinensis_NBII.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
S. chinensis
Nama binomial
Streptopelia chinensis
Scopoli, 1768
Artikel takson sembarang

Tekukur Biasa (bahasa Inggris:spotted dove; Spilopelia chinensis)[1] adalah sejenis burung merpati kecil yang mempunyai paruh, berekor agak panjang, berdarah panas, dan bereproduksi dengan cara bertelur.

Karakteristik

Tubuh berukuran sedang (30 cm). Warnanya cokelat kemerah-jambuan. Ekor burung ini tampak panjang. Bulu ekor terluar dengan tepi putih tebal. Bulu sayap lebih gelap dibanding tubuh. Ada bercak-bercak hitam putih khas pada leher. Iris jingga, paruh hitam, kaki merah. Hidup dekat dengan manusia. Mencari makan di permukaan tanah. Sering duduk berpasangan di tempat terbuka. Bila terganggu terbang rendah di permukaan tanah, dengan kepakan sayap pelan.[2]

Taksonomi

250px-Spotted_Dove_%28Streptopelia_chinensis%29_on_a_Kapok_%28Ceiba_pentandra%29_tree_in_Kolkata_W_IMG_3476.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Subspesies suratensis (dari Kolkata) yang ditunjukkan oleh bintik pada bulu sayap

Spesies ini mulanya termasuk dalam genus Streptopelia terapi dalam studi pada tahun 2001 berdasarkan urutan molekul dan juga vokalisasi mengindikasikan bahwa spesies ini bersama dengan Streptopelia senegalensis yang mencolok dari taksa yang tersisa yang menyebabkan tekukur biasa masuk pada genus Streptopelia.[3] Sebab inilah yang membuat peneliti membagi mereka pada genus yang terpisah. Carl Sundevall membuat genus Stigmatopelia dengan jenis senegalensis, sementara itu ia juga membuat genus Spilopelia (untuk chinensis, suratensis dan tigrina, dan memperlakukannya sebagai spesies yang terpisah) pada halaman yang sama di bukunya tahun 1872.[4]

Penyebaran

Jenis ini umum terdapat mulai dari India dan Cina ke selatan sampai Jawa, tetapi juga merupakan burung sangkar yang terkenal dan telah diintroduksi secara luas di mana-mana.[5]

Kebiasaan

Mencari makan di atas permukaan tanah. Sering duduk berpasangan di jalan yang terbuka. Bila terganggu, terbang rendah di atas tanah dengan kepakan sayap pelan yang khas.[6]

Referensi

  1. ↑ Ayat, Asep (2011). Mardiastuti, Ani (ed.). Burung-burung Agroforest di Sumatera (PDF). Bogor: World Agroforesty Centre. hlm. 103. ISBN 978-979-3198-60-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ "Tekukur Biasa". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-01-15. Diakses tanggal 2011-11-20.
  3. ↑ Johnson KP; De Kort S; Dinwoodey K; Mateman AC; Ten Cate C; Lessells CM; Clayton DH (2001). "A molecular phylogeny of the dove genera Streptopelia and Columba" (PDF). Auk. 118 (4): 874–887. doi:10.1642/0004-8038(2001)118[0874:AMPOTD]2.0.CO;2. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2007-09-27. Diakses tanggal 2012-05-16.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  4. ↑ Sundevall, Carl (1872). Methodi naturalis avium disponendarum tentamen. hlm. 100.
  5. ↑ Ensiklopedi Jakarta[pranala nonaktif permanen]
  6. ↑ "Burung". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-02. Diakses tanggal 2011-11-20.

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan