Kamis, 24 September 2026
20:57 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum

Tea Act

Tea Act adalah undang-undang yang dikeluarkan oleh Parlemen Britania Raya. Undang-undang ini bertujuan untuk memperbesar monopoli teh British East India Company ke seluruh koloni Britania, dengan menjual kelebihan teh dalam harga yang rendah. Tea Act disetujui pada 10 Mei 1773.

Sebelumnya, East India Company diharuskan menjual tehnya hanya ke London, dengan pajak sekitar dua shilling dan enam pence per pon.[1] Akibatnya, penyelundup mendapat kesempatan untuk mengimpor dan menyebarkan teh yang bebas pajak ke seluruh koloni Amerika. Parlemen Britania berharap bahwa apabila kolonis punya teh yang murah, penyelundupan akan berhenti.

Pada tahun 1774, EIC hampir bangkrut karena pembayaran kontrak 400.000 pound per tahun kepada pemerintah Britania; perang dan kelaparan di India; dan tidak bergairahnya pasar Eropa. Benjamin Franklin adalah contoh tokoh yang mengusulkan bahwa keadaan akan membaik apabila EIC diperbolehkan mengekspor tehnya langsung ke koloni-koloni tanpa membayar pajak di London.[1]

Dalam undang-undang disebutkan bahwa Britania akan membayar 4/5 biaya pengiriman teh ke Amerika, sehingga harganya bisa dijual lebih murah daripada teh yang diselundupkan.

Banyak kolonis yang menentang undang-undang ini karena akan menyelamatkan EIC yang monopolistik, serta mengesahkan pajak yang diterapkan melalui Townshend Acts tahun 1767, yaitu pajak teh. Maka meletuslah Boston Tea Party yang akan menyebabkan Perang Revolusi Amerika.

Undang-undang ini dihapuskan melalui Taxation of Colonies Act 1778, tetapi undang-undang tersebut tak mampu menghentikan revolusi.

Referensi

  1. 1 2 Ketchum, hal. 240
  • Ketchum, Richard, Divided Loyalties, How the American Revolution came to New York, 2002, ISBN 0-8050-6120-7
  • Unger, Harlow, John Hancock, Merchant King and American Patriot, 200, ISBN 0-7858-2026-4

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan