Minggu, 27 September 2026
16:39 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Taksidermi

Taksidermi

Seni mengawetkan hewan mati dengan penampilan hidup

250px-Primate_Taxidermy%2C_Rahmat_International_Wildlife_Museum_and_Gallery.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Taksidermi primata dan pachyderm di Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Medan, Sumatra, Indonesia

Taksidermi atau pengopsetan adalah seni pengawetan dan pengolahan jazad hewan melalui penyanggaan dan pengisian sehingga tampak seperti keadaan aslinya saat masih hidup. Taksidermi bertujuan sebagai pajangan semata maupun untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Hewan-hewan yang diawetkan sering kali (tetapi tidak selalu) digambarkan dalam keadaan hidup. Kata taksidermi menggambarkan proses pengawetan hewan, tetapi kata itu juga digunakan untuk menggambarkan produk akhir dari proses pengawetan, yang disebut susunan taksidermi atau hanya disebut sebagai "taksidermi".

250px-Preserved_skin_of_Lolong_at_Philippine_National_Museum.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kulit Lolong yang diawetkan, Lolong adalah buaya terbesar di penangkaran menurut Guinness World Records, awetan ini disimpan di Museum Nasional Filipina

Kata taksidermi berasal dari kata Yunani taxis dan derma.[1] Taxis berarti "penyusunan", dan derma berarti "kulit" (dermis).[1] Kata taxidermy diterjemahkan secara harfiah menjadi "penyusunan kulit".[1]

Taksidermi dipraktikkan terutama pada hewan bertulang belakang[2] (mamalia, burung, ikan, reptil, dan lebih jarang pada amfibi). Taksidermi juga dapat dilakukan pada serangga dan arachnida besar[3] dalam beberapa keadaan. Proses taksidermi digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari piala berburu hingga pajangan museum sejarah alam. Museum menggunakan taksidermi sebagai metode untuk merekam spesies, termasuk spesies punah dan terancam,[4] dalam bentuk studi kulit dan taksidermi yang dibuat dengan kondisi mendekati hewan aslinya. Taksidermi terkadang juga digunakan sebagai sarana untuk mengenang hewan peliharaan.[5]

Seseorang yang mempraktikkan taksidermi disebut ahli taksidermi. Mereka mungkin berlatih secara profesional, melayani museum dan olahragawan (pemburu dan nelayan), atau hanya sebagai amatir (penghobi). Seorang ahli taksidermi biasanya familiar dan memahami dengan baik ilmu anatomi, patung, lukisan, dan penyamakan kulit.

Referensi

  1. 1 2 3 Harper, Douglas. "taxidermy". Online Etymology Dictionary. Diakses tanggal 17 Juli 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Stephen P. Rogers; Mary Ann Schmidt; Thomas Gütebier (1989). An Annotated Bibliography on Preparation, Taxidermy, and Collection Management of Vertebrates with Emphasis on Birds. Carnegie Museum of Natural History. ISBN 978-0-911239-32-4.
  3. ↑ Daniel Carter Beard (1890). The American Boys Handy Book. C. Scribner's Sons. hlm. 242, 243.
  4. ↑ "Life After Death: Extinct Animals Immortalized With Taxidermy". video.nationalgeographic.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-07-16. Diakses tanggal 2015-07-16.
  5. ↑ Pierce Ph.D, Jessica. "All Dogs Go to Heaven". Psychology Today. Sussex Publishers, LLC. Diakses tanggal 2 Maret 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bacan lanjutan

Bacaan lanjutan

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Taxidermy.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan