Jumat, 30 Oktober 2026
04:08 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Tahafut at-Tahafut

Buku oleh Ibnu Rusyd

Bagikan:

Tahafut at-Tahafut (bahasa Arab:تهافت التهافت, Kerancuan dari Kerancuan) adalah sebuah risalah filsafat Islam penting yang ditulis oleh filsuf polimatik muslim Ibnu Rusyd di abad pertengahan[1] di mana di dalamnya sang penulis mempertahankan penggunaan pemikiran aristotelianis dalam pemikiran Islam.

Risalah ini ditulis dengan gaya dialog antara sang penulis dengan klaim-klaim dari Imam Al-Ghazali yang termuat dalam kitab Tahafut al-Falasifah yang ditulis satu abad sebelumnya, di mana Imam Al-Ghazali mengkritik pemikiran neoplatonis yang digunakan oleh filsuf muslim seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi. Risalah ini awalnya ditulis dalam Bahasa Arab, lalu kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa. Risalah ini dianggap sebagai tulisan penting dari Ibnu Rusyd;[2] di mana di dalamnya ia mencoba untuk membentuk keselarasan antara iman dan filsafat.

Latar belakang

Imam Al-Ghazali menulis Tahafut al-Falasifah pada akhir abad ke-11 untuk membahas dua puluh persoalan yang ia kaitkan dengan para filsuf, khususnya Al-Farabi dan Ibnu Sina. Enam belas di antaranya berkaitan dengan masalah Ketuhanan, sementara empat lainnya menyangkut ilmu alam. Tujuannya bukan sekadar menunjukkan kesalahan hasil pemikiran filsafat, namun juga menegaskan bahwa argumen yang diajukan para filsuf, menurut pandangannya, tidak mencapai tingkatan bukti yang benar-benar pasti.[3]

Dalam penutup kitab tersebut, Al-Ghazali membedakan antara tujuh belas persoalan yang ia anggap sebagai bid’ah, dan tiga persoalan yang membuatnya mengkafirkan para filsuf: keyakinan bahwa alam semesta bersifat kekal, pandangan bahwa Allah tidak mengetahui hal-hal yang kecil dan rinci, serta penolakan terhadap kebangkitan fisik atau jasmani. Tiga isu ini kemudian menjadi pokok utama dalam perdebatan antara filsafat dan ilmu kalam.[4]

Kurang dari satu abad kemudian sekitar tahun 1180-81, Ibn Rusyd menanggapi karya Al-Ghazali di atas. Ia memperlakukan Tahafut al-Falasifah sebagai teks yang bersifat polemis, mengutip bagian-bagian panjang darinya, lalu membedakan antara apa yang ia anggap sebagai sanggahan yang bersifat demonstratif dan apa yang menurutnya hanyalah argumen retoris, dialektis, atau bahkan keliru.[5]

Isi risalah

Tahafut at-Tahafut menyajikan dialog terkait tanggapan dan sanggahan terhadap dua puluh persoalan yang dibahas dalam Tahafut al-Falasifah, yang terbagi menjadi enam belas persoalan tentang ketuhanan dan empat persoalan tentang ilmu alam sebagai berikut:

# Persoalan
1 Kekekalan alam semesta dan hubungan antara kehendak Ilahi dengan keberadaannya
2 Keabadian alam, waktu, dan gerak
3 Makna pernyataan bahwa Allah adalah pencipta alam dan bahwa alam adalah hasil perbuatan-Nya
4 Bukti-bukti untuk menetapkan adanya penciptaan alam
5 Argumen tentang keesaan Allah dan kemustahilan terhadap keberadaan banyak tuhan
6 Sifat-sifat Ilahi dan hubungannya dengan zat Ketuhanan
7 Pandangan bahwa hakikat pertama tidak terbagi menurut jenis dan macam
8 Pandangan bahwa hakikat pertama adalah wujud sederhana tanpa sifat tambahan
9 Bukti bahwa hakikat pertama bukanlah jasad
10 Bukti bahwa alam memiliki pencipta dan sebab
11 Pengetahuan hakikat pertama tentang selain dirinya
12 Pengetahuan hakikat pertama tentang dirinya sendiri
13 Pengetahuan Allah tentang hal-hal yang kecil dan rinci
14 Pandangan bahwa langit adalah makhluk hidup yang bergerak dengan kehendak
15 Tujuan yang menggerakkan langit
16 Pengetahuan jiwa-jiwa langit tentang hal-hal yang kecil dan rinci
17 Sebab-akibat dan kemungkinan terjadinya pelanggaran kebiasaan alam (mukjizat)
18 Bukti bahwa jiwa manusia adalah substansi rohani
19 Keabadian jiwa setelah kematian jasad
20 Kebangkitan, pengumpulan jasad, dan balasan akhirat

Dampak dan Pengaruh

Risalah ini memiliki kehadiran dan dampak yang lebih besar dalam tradisi filsafat Yahudi dan Latin dibandingkan dengan tradisi filsafat Islam. Terjemahan Ibrani dari risalah ini membantu membawakan perdebatan antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd kepada para pemikir Yahudi di Prancis Selatan, Spanyol, dan Italia. Sementara itu, terjemahan Latinnya membantu para filsuf renaisans untuk memahami kritik Al-Ghazali terhadap para filsuf melalui tanggapan Ibn Rusyd.[6]

Kajian-kajian modern terhadap buku ini berfokus pada sejumlah persoalan, seperti konsep pembuktian (burhan), hubungan antara kemungkinan dan keniscayaan, pengetahuan Ilahi, kausalitas alamiah, serta keabadian individu. Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa risalah ini bukan sekadar pembelaan umum terhadap filsafat, melainkan sebuah diskusi kritis yang menunjukkan adanya persinggungan antara perbedaan pandangan aristotelian dari Ibnu Rusyd, pemikiran Ibnu Sina yang dipengaruhi pandangan neoplatonisme, dan ilmu kalam Asy'ari yang menjadi dasar pemikiran Al-Ghazali.[7]

Rujukan

  1. ↑ "Tahafut At-Tahafut, Kontradiksi Kritik Al-Ghazali atas Filsafat (1)". Republika Online. 2012-02-22. Diakses tanggal 2019-04-03.
  2. ↑ "Monthly Renaissance - Content". www.monthly-renaissance.com. Diakses tanggal 2019-04-03.
  3. ↑ Akhmad, Chairul (2014-03-22). "Tahafut Al-Falasifah, Kontroversi Ranah Filsafat (1)". Republika Online. Diakses tanggal 2026-10-10.
  4. ↑ Muhadi, Margono (2011-07-21). "Pergulatan Filosofis Ibnu Sina, Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd". INSISTS (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-10-10.
  5. ↑ VIVA, PT VIVA MEDIA BARU- (2025-02-21). "Cara Ibnu Rusyd Merespons Kritik Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifa melalui Karya Monumentalnya, Tahafut al-Tahafut". wisata.viva.co.id. Diakses tanggal 2026-10-10.
  6. ↑ Suheri, Rofiqi Akrima (2025-06-27). "Ibnu Rusyd: Warisan Intelektual, Pokok Ajaran Filsafat, dan Pengaruhnya dalam Khazanah Pemikiran Islam dan Barat". Al-Qarawiyyin: Jurnal Ilmu Ushuluddin (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 133–145. doi:10.64691/al-qarawiyyin.v1i2.26. ISSN 3109-1954.
  7. ↑ Muliawan, Cahyo; Normuslim (2025-11-20). "Perbandingan Epistemologi Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd: Antara Intuisi, Rasio, dan Empiris". JIS: Journal Islamic Studies (dalam bahasa Inggris). 3 (3): 366–373. doi:10.71456/jis.v3i3.1538. ISSN 2963-2072.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan