Rabu, 28 Oktober 2026
15:52 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Tafsir alegoris Alkitab

Tafsir alegoris Alkitab

Bagikan:
250px-Philon.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Philo, pelopor penafsiran alegoris untuk Alkitab

Penafsiran alegoris Alkitab adalah sebuah metode penafsiran (eksegesis) yang menyatakan bahwa Alkitab memiliki berbagai tingkat pengartian dan lebih berfokus pada esensi spiritual, yang meliputi esensi alegori, esensi moral (atau tropologi), dan esensi anagogikal) berlawanan dengan esensi harfiah. Ini terkadang disebut sebagai quadriga, sebuah rujukan kepada kereta perang Romawi yang ditarik oleh empat kuda.

Penfasiran alegori bermula dari pemikiran Yunani dan aliran rabbinikal Yudaisme. Pada Abad Pertengahan, metoode ini dipakai oleh para penafsir Alkitab dari agama Kristen.[1]

Latar belakang

Tafsir alegoris diperkenalkan oleh orang-orang Yunani yang secara khusus dikembangkan melalui filsafat Stoa.[2][3] Pendekatan ini dinilai sebagai solusi untuk menjembatani ketegangan antara mitologi-mitologi Yunani dan perkembangan filsafat.[4] Dengan demikian, tafsiran alegori umumnya bersifat pembelaan (apologetis).[5]

Pendekatan alegoris untuk menyingkap pesan teks-teks Alkitab dipelopori oleh Philo, seorang penafsir Yahudi pada Abad Pertama.[2][3] Keberadaan teks-teks kuno, seperti Taurat dalam tradisi Yahudi dan mitologi-mitologi dalam tradisi Yunani, tidak lagi dianggap sebagai sebuah kebetulan, tetapi menyimpan pesan moral dan nilai-nilai kebenaran yang dari masa lampau.[6] Dengan pendekatan alegoris, Philo yakin pesan-pesan spiritual yang tidak dapat diungkapkan oleh teks secara harfiah dapat diungkap.[2]

Urgensi penafsiran alegoris

Menurut Philo, ada alasan-alasan tertentu yang membuat arti harfiah teks Alkitab harus ditolak.[7] Untuk itu, dia mendaftarkan 10 alasan mengapa teks perlu ditafsir secara alegoris:[3]

  1. Jika makna literer teks tidak mengatakan apa yang benar megenai Tuhan.
  2. Jika teks bertentangan dengan teks yang lain.
  3. Jika teks tampaknya harus ditafsir alegoris.
  4. Jka teks menampilkan kata-kata yang bermaknya ganda.
  5. Jika teks memuat pengulangan yang telah diketahui sebelumnya.
  6. Jika teks memuat penggambaran yang beragam.
  7. Jika muncul kata-kata yang sinonim.
  8. Jika ada hal-hal yang tidak normal muncul di dalam teks.
  9. Jika teks memuat permainan kata.
  10. Jika teks memuat simbol-simbol.

Perkembangan penafsiran alegoris

Kekristenan perdana yang banyak berjumpa dengan filsafat Yunani menjadikan tafsir alegoris sebagai solusi untuk memahami pesan-pesan Alkitab.[4] Secara khusus, penafsiran Alegoris diwariskan oleh gereja-gereja Barat yang memang banyak begumul dengan filsafat Yunani.[8] Contoh konkret terlihat pada zaman Patristik ketika Bapa-bapa gereja memahami bahwa Perjanjian Lama sebagai Alkitab orang Kristen harus digunakan untuk mendukung Perjanjian Baru.[3] Dengan demikian metode yang digunakan adalah metode alegoris. Secara khusus Origenes mengatakan bahwa Alkitab adalah tempat berkumpulnya alegori-alegori yang penuh dengan simbol.[3] Sama seperti manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh maka Alkitab juga dibagi dalam tiga makna, yaitu literal (dipadankan dengan tubuh), moral (jiwa), alegoris (roh).[3] Dari ketiga tingkatan ini, menurut Origenes, Alegorislah yang paling penting.[3]

Perkembangan kemudian

Setelah Abad Pertengahan, khususnya sejak zaman Reformasi, tafsir alegoris mulai ditinggalkan.[3] Alkitab diyakini dapat menafsir dirinya sendiri (scriptura scripturae interprets).[8] Sikap reformasi ini memang tidak mematikan pendekatan terhadap Alkitab, termasuk pendekatan alegoris.[8] Akan tetapi, sikap tersebut mendorang para penafsir untuk lebih berfokus persoalan gramatika dan sejarah teks.[8]

Referensi

  1. ↑ Stephan A. Barney (1989). "Allegory". Dictionary of the Middle Ages. Vol-1. ISBN0-684-16760-3.
  2. 1 2 3 (Inggris) R. J. Zwi Werblowsky & Geoffrey Widoger (eds.). 1997. The Oxford Dictionary of the Jewish Religion. New York: Oxford. 37-38
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 (Inggris) Henry A. Virkler. 1988. Hermeneutic: Principles and Processes of Biblical Interpretation. Grand Rapid: Baker. 52
  4. 1 2 Dianne Bergant & Robert J. Karris. 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius. 21
  5. ↑ (Inggris) Cecil Roth. 1959. The Standard Jewish Encyclopedia. New York: Doubleday. 78
  6. ↑ (Inggris) P. R. Ackroyd & G. F. Evans. 1993. Cambrigde History of Bible: From the Beginnings to Jerome Vol. 1. 379-380
  7. ↑ Robert M. Grant dan David Tracy. 1993. Sejarah Singkat Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 58-69.
  8. 1 2 3 4 Forum Biblika: Jurnal Ilmiah Populer No. 8. Jakarta: LAI. 2
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan