Selasa, 06 Oktober 2026
18:45 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan

Syair Hemop

Bagikan:

Syair Hemop (dari kata Imhoff) atau Syair Kompeni Welanda Berperang dengan Cina adalah syair berbahasa Banjar oleh Abdur Rahman yang mengisahkan tentang peristiwa Geger Pacinan di Batavia tahun 1740. Syair ini ditulis di Batavia oleh Abdur Rahman yang disebut pernah tinggal lama di sana sebagai seorang wartawan atau penulis. Syair ini menceritakan bagaimana Gustaaf Willem baron van Imhoff (sebagai tokoh utama) memerintahkan Adriaan Valckenier untuk mengirimkan penduduk Tionghoa miskin Batavia ke Sailan yang kemudian memicu konflik dan pembantaian orang-orang Tionghoa.[1][2][3][4]

W. Kern berpendapat bahwasanya syair ini ditulis sekitar 20 tahun setelah peristiwa terjadi. Karya sastra ini mengandung 3.900 syair. Meskipun menuturkan peristiwa sejarah, tetapi banyak keterangan di dalamnya yang masih diragukan atau tidak tepat.[5]

Catatan kaki

  1. ↑ Burhanudin, Jajat (2017-01-02). Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia. Prenada Media. ISBN 978-602-422-533-9.
  2. ↑ Ricci, Ronit (2019-11-13). Banishment and Belonging: Exile and Diaspora in Sarandib, Lanka and Ceylon (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-57211-8.
  3. ↑ Fang, Liaw Yock (2013). A History of Classical Malay Literature (dalam bahasa Inggris). Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-810-3.
  4. ↑ Fang, Dr Liaw Yock (2011). Sejarah Kesusastraan Melayu Kelasik. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-778-6.
  5. ↑ "Syair Hemop". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-03-28.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan