Minggu, 01 November 2026
18:24 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Susuh duri

Susuh duri

Keong air tawar berukuran kecil

Bagikan:
Susuh Duri
250px-Thiar_scabr_150104-0314_ckoep.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susuh duri, Thiara scabra
dari Cihideunghilir, Ciampea, Bogor
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
(tanpa takson):
Superfamili:
Famili:
Genus:
Spesies:
T. scabra
Nama binomial
Thiara scabra
(Müller, 1774)
Sinonim
  • Buccinum scabrum Müller, 1774[1] (basionym)
Artikel takson sembarang

Susuh duri[2] (Thiara scabra) adalah sejenis siput air tawar yang termasuk ke dalam suku Thiaridae. Siput kecil ini menyebar luas semenjak anak benua India di barat, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik. Ia dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Pagoda tiara.[3]

Pengenalan

Siput dengan cangkang berukuran kecil; tinggi cangkang 25-30 mm, garis tengah 13 mm. Cangkang agak gemuk pendek sampai agak langsing, dengan sulur meruncing dan berjenjang atau berundak; seluk 8-12, yang akhir agak besar; permukaannya bertonjolan tumpul atau runcing serupa duri, terutama pada seluk akhir. Warna cangkang cokelat kekuningan atau krem kecokelatan berbintik-bintik cokelat; terkadang juga dilingkari 1-3 sabuk cokelat. Umbilikus (pusar) tertutup. Mulut cangkang agak besar atau agak lebar. Operkulum (tutup cangkang) bundar telur, tipis, liat, cokelat kehitaman.[2]

Cangkangnya sering kali terkikis atau penuh ditempeli lumut atau lumpur, sehingga warnanya menjadi kabur.[4]

Habitat dan agihan

Keong ini biasa ditemukan di perairan tawar yang tergenang atau mengalir, dengan substrat dasar berlumpur atau berpasir; hingga ketinggian 1.400 m dpl. Kadang-kadang ditemukan pula di perairan yang sedikit payau.[2]

Susuh duri menyebar luas di wilayah Indo-Pasifik. Keong ini tercatat ditemukan di Mauritius, Seychelles, Kenya, Tanzania, Yaman (P. Sokotra), Pakistan, Nepal, India, Srilanka, Bangladesh, Burma, Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia (Jawa), Filipina, Tiongkok bagian selatan, dan Jepang.[2][5] Belum lama ini juga didapati di Iran.[6]

Hewan ini diintroduksi ke berbagai pulau di Pasifik, seperti halnya Fiji, Guam, Mikronesia, Kaledonia Baru, Papua Nugini, Samoa, Kepulauan Solomon, serta Vanuatu.[5]

Catatan kaki

  1. ↑ Müller, O.F. 1774. Vermivm terrestrium et fluviatilium, seu animalium infusoriorum, helminthicorum, et testaceorum, non marinorum, succincta historia. Volumen alterum: 136. Havniæ & Lipsiæ. et Lipsiae :apud Heineck et Faber :1773-1774.
  2. 1 2 3 4 Djajasasmita, M. 1999. Keong dan Kerang Sawah: 32-3. LIPI-Seri Panduan Lapangan. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.
  3. ↑ USGS – Non-indigenous Aquatic Species: Thiara scabra. Diakses 06/I/2015.
  4. ↑ Heryanto, R.M. Marwoto, A. Munandar, & Susilowati P. 2003. Keong dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: 92-3. Bogor: Biodiv. Consv. Project LIPI-JICA-PHKA.
  5. 1 2 Budha, P.B. 2012. Plotia scabra. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.3. <www.iucnredlist.org>. Diakses 05/I/2015.
  6. ↑ Glöer, P. & V. Pešić. 2012. The freshwater snails (Gastropoda) of Iran, with descriptions of two new genera and eight new species. ZooKeys 219: 11–61. [4 September 2012]

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Thiara scabra.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan