Jumat, 23 Oktober 2026
07:47 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal
Suku Panaragan

Suku Panaragan

Bagikan:
250px-Pakaian_Asdat_Jawa_Timur_-_Suku_Panaragan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pakaian Adat Suku Panaragan - Jawa Timur

Suku Panaragan atau biasanya juga disebut Wong Ponorogo adalah suku yang lebih mendekati etnik sub rumpun Jawa yang mendiami antara gunung Lawu dan gunung Wilis dengan memiliki bahasa, dialek, pakaian, budaya yang berbeda dengan budaya Jawa pada umumnya hasil Modernisasi pasca majapahit runtuh yang sebelumnya adalah Kawula Wengker. Penduduk Suku Panaragan mendiami sebagain wilayah Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Madiun / Kota Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk.

Asal Sebutan

Suku Panaragan merupakan hasil dari modernisasi manusia Jawa kuno yang disebut Kawula Wengker menjadi Ponorogo setelah dipimpin oleh Batoro Katong yang memiliki arti Orang-orang Terhormat.

Agama

Meski mayoritas dalam sensus beragama Islam, tetapi mayoritas orang-orang Panaragan masih menganut keyakinan Kejawen dalam kehidupan sehari-hari baik skala kecil hingga skala besar. meski demikan terdapat beberapa pondok pesantren skala internasional seperti Ponpes Modern Gontor di Ponorogo dan Ngawi, dan Ponpes Al Fatah Temboro di Magetan.

Sedangkan agama Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Buddha sebagiannya turut melakukan kegiatan Kejawen.

Bahasa, Dialek dan Logat

Bahasa yang dituturkan oleh suku Panaragan menggunakan bahasa Jawa pada umumnya hampir serupa dengan Jawa etnik rumpun Mataraman, akan tetapi bahasa kawi masih dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Panaragan yang kadang kala susah dipahami oleh masyarakat Jawa pada Umumnya.

Selain itu, Dialek dan Logat Panaragan memiliki ciri khas tersendiri, seperti pengungkapan yang lebih tegas dan keras dibandingkan Jawa etnik rumpun Mataraman.

Seni Budaya Tradisi

330px-Larungan_Risalah_Doa_2018_5.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tradisi Larungan pada Telaga oleh Suku Panaragan

Tradisi Suku Panaragan yang umum dilakukan ialah cara berterima kasih kepada diri sendiri masih dilakukan, hingga tradisi pada lingkungan seperti ruwatan desa, bersih desa, sedekah desa hingga larungan yang dilakukan pada sungai, telaga, maupun laut.

Seni Budaya tradisional masih sangat diminati di wilayah suku Panaragan, dapat dipastikan ramai seperti pagelaran Reog Dadak Merak, Jaranan Thek, Wayang Kulit, Wayang Thengul, Ketoprak, Campursari, Tayub, Gambyong, Gajah-gajahan, Unto-untoan, Odrot, Gumbeng kongkil.

Pakaian

Pakaian Suku Panaragan sangat nyentrik karena dominan warna serba hitam baik pria maupun perempuan yang disebut Penadon.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan