Kamis, 29 Oktober 2026
21:51 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Bersih Desa

Bersih Desa

slametan atau upacara adat Jawa

Bagikan:

Bersih Desa merupakan slametan atau upacara adat Jawa untuk memberikan sesaji kepada danyang desa.[1] Sesaji berasal dari kewajiban setiap keluarga untuk menyumbangkan makanan.[1] Bersih desa dilakukan oleh masyarakat dusun untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu.[1][2] Maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa.[1] Dengan demikian, upacara bersih desa diadakan di makam danyang.[1] Di desa yang mempunyai pengaruh muslim kuat, upacara bersih desa diadakan dilaksanakan di Masjid.[1] Adapun isinya adalah doa-doa dalam Muslim.[1] Sementara, di beberapa desa yang tidak memiliki makam danyang, upacara bersih desa diadakan di rumah kepala desa maupun di Pendopo Kantor Kepala Desa.[1] Bersih desa juga dimaknai sebagai ungkapan syukur atas panen padi, maka upacaranya dilakukan setelah panen padi berakhir.[3]

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_%27Een_religieuze_maaltijd_%27selamatan%27_in_Tjibodas%27_TMnr_10003361.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bersih desa yang ditandai dengan sedekah bumi berwujud tumpeng

Pelaksanaan

Bersih desa biasanya diadakan pada bulan Sela atau Syawal, yaitu bulan ke-11 Kalender Jawa.[4] Untuk tanggal, setiap desa berbeda pelaksanaannya, tetapi yang pasti semua mengambil waktu di bulan Sela.[4] Dalam upacara bersih desa ada sedekah bumi yang biasanya berupa nasi tumpeng dan lauk pauk yang dibuat oleh warga desa.[4] Seluruh makanan yang ada dalam upacara bersih desa merupakan hasil sumbangan keluarga-keluarga di desa.[4] Upacara bersih dsa wajib diikuti oleh orang yang sudah dewasa.[4] Di berapa daerah upacara bersih desa juga dilengkapi dengan pertunjukan wayang semalam suntuk.[5]

Tujuan

Bersih desa, sebagai upacara adat, memiliki makna spiritual di baliknya.[5] Pertama-tama bersih desa bertujuan untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang didapat.[5] Selanjutnya, upacara bersih desa bertujuan untuk memohon perlindungan kepada danyang sebagai penjaga sebuah desa.[5] Terakhir, tujuan bersih desa adalah untuk memohon berkat agar hasil panen berikutnya melimpah.[5] Selain itu, bersih desa juga memuat tujuan solidaritas di dalamnya.[5] Makanan yang menjadi santapan bersama adalah hasil sumbangan warga sendiri.[5]

Tahapan

Upacara bersih desa dilakukan selama sehari penuh dengan beberapa tahapan.[5] Pada pukul 07.00 dilaksanakan kegiatan bersih-bersih seluruh lingkungan desa.[5] Selain itu mulai dipersiapkan pula alat-alat untuk upacara seperti tikar, panggung, dan tempat sesaji.[5] Pagar pohon yang dikeramatkan di desa juga diganti dengan yang baru.[5] Sementara itu, beberapa anggota yang lain mempersiapkan makanan untuk upacara.[5] Pada jam 12.00 kepala desa akan memukul kentongan sebagai tanda semua makanan sudah harus siap diantar ke rumah kepala dusun.[5]

Setelah semua siap, menjelang sore seluruh warga yang sudah dewasa berkumpul ditempat yang telah ditentukan oleh masing-masing desa untuk memulai upacara.[5] Pertama-tama biasanya dibacakan doa-doa dan mantra.[5] Biasanya juga diceritakan kisah Dewi Sri yang menjadi pelindung para petani.[5] Upacara diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan pembagian makanan.[5] Selama upacara ini sesaji juga diletakkan di keempat sudut desa.[5] Dipercaya setiap sudut desa dijaga oleh anak danyang.[5] Terakhir, jika memungkinkan, diadakan pertunjukan wayang selama semalam suntuk.[5] Lakon yang dibawakan dalam pentas wayang bermacam-macam, misalnya Bharatayuda, Wahyu Makutharama, Wahyu Purbasejati, Wahyu Gada Inten.[5] Setelah seluruh tahapan ini dipenuhi maka upacara bersih desa dianggap sah.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Clifford Geertz (1983). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya. hlm. 32-33.
  2. ↑ Depdiknas (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia. hlm. 181. ISBN 978-979-22-3841-9.
  3. ↑ Fitriani (2008). Makna Simbolis dalam Upacara Tradisional Bersih Desa di Desa Landungsari Kabupaten Malang (sebagai Kajian Folklor) (Tesis). Universitas Negeri Malang.
  4. 1 2 3 4 5 Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka. hlm. 374-376.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Suwardi (2006). "Mistisime dalam Seni Spiritual Bersih Desa di Kalangan Penghayat Kepercayaan". Universitas Negeri Yogyakarta.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Merti Desa.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan