Jumat, 30 Oktober 2026
18:00 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Orang Kuman

Orang Kuman

orang Turkik nomaden

Bagikan:
250px-Asia_1200ad.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta yang menunjukkan migrasi suku Kuman pada abad ke-12.

Suku Kuman (bahasa Yunani Pertengahan:Κο(υ)μάνοι, translit. Ko(u)manoi;[1] bahasa Hungaria:kun / plural kunok;[2] Turkik: kuman / plural kumanlar)[3] adalah bangsa Turkik nomaden yang pada pertengahan abad ke-10 bermigrasi dari Mongolia ke arah barat. Berkebalikan dengan bangsa Turki Oğuz (Turkmen/Oğuz), suku Kuman berjalan menuju utara Laut Kaspia lalu ke barat. Keturunan cabang suku Kipchak ini dapat ditemukan di Krim, Turki, Bulgaria, Rumania, Moldavia dan Hungaria. Mereka menuturkan bahasa Kipchak Kuman, yang berhubungan dekat dengan bahasa Kipchak.

Bangsa ini amat istimewa karena mereka amat sedikit mewarisi ciri-ciri wajah khas Mongolia. Sumber-sumber Rusia menyebutkan tentang bangsa Turkik yang memiliki ciri-ciri khusus: rambut pirang (hitam) dan mata biru, tak seperti bangsa Turkik lainnya. Dalam dialek Turki Kipchak, kata Kuman berarti 'pucat'.

Referensi

  1. ↑ Oxford Dictionary of Byzantium, p. 563
  2. ↑ Encyclopædia Britannica Online - Cuman
  3. ↑ Loewenthal, Rudolf (1957). The Turkic Languages and Literatures of Central Asia: A Bibliography. Mouton. Diakses tanggal 2008-03-23.

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik kelompok etnik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan