Rabu, 28 Oktober 2026
02:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Suku Diola

suku bangsa di Senegal

Bagikan:
Diola
Daerah dengan populasi signifikan
Senegal, Gambia, Guinea-Bissau
Bahasa
Diola,
Kriol
Agama
Agama tradisional Afrika (agama Diola), Kekristenan, Islam

Suku Diola atau Jola adalah kelompok etnis yang mendominasi kawasan Casamance di Senegal. Mereka juga dapat ditemui di Gambia dan Guinea-Bissau. Mereka terdiri dari beberapa subkelompok, tetapi identitas bersama mereka adalah penggunaan bahasa Diola dan sejarah kolonial mereka. Menurut tradisi lisan suku Diola, mereka bermigrasi dari Mesir selatan ke kawasan Senegambia pada abad ke-13 hingga ke-14.

Kebanyakan orang Diola telah berprofesi sebagai penanam padi selama beberapa abad dan juga pengumpul wine palem. Mereka juga menanam singkong, kacang merah, dan kacang-kacangan lainnya. Selain itu, ada pula yang berprofesi sebagai peternak.[1] Kemandirian pangan merupakan unsur yang sangat penting dalam masyarakat Diola dan mereka sudah dibiasakan menabung untuk membiayai kebutuhan keluarga, komunitas atau upacara keagamaan.

Pada masa modern, terdapat komunitas diaspora Diola yang dapat ditemui di Dakar, Prancis, Britania Raya, Portugal, Amerika Serikat atau Kanada. Komunitas diaspora Diola disebut "Ajamat".

Agama

Dalam kepercayaan tradisional Diola, mereka percaya akan keberadaan pencipta yang disebut "Atemit". Seperti dalam agama-agama tradisional Afrika lainnya, nenek moyang menjadi perantara dengan sang Pencipta. Namun, pada masa modern, sebagian besar orang Yola sudah menjadi Kristen atau Muslim.

Catatan kaki

  1. ↑ Stride, G. T.; Ifeka, Caroline, "Peoples and empires of West Africa: West Africa in history, 1000-1800", Africana Pub. Corp., 1971, hlm 6

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik kelompok etnik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan